Rabu, 13 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Apa Itu Tebu Telur? Simak Fakta Unik Tanaman Mirip Tebu Ini

Liaa - Sunday, 10 May 2026 | 12:30 PM

Background
Apa Itu Tebu Telur? Simak Fakta Unik Tanaman Mirip Tebu Ini

Mengenal Tebu Telur: Si 'Kaviar' Ndeso yang Sering Bikin Bingung Lidah Urban

Pernahkah kalian jalan-jalan ke pasar tradisional, lalu melihat seonggok batang hijau panjang yang sekilas mirip tebu, tapi pas dikupas isinya malah mirip telur ikan? Kalau iya, selamat, kalian baru saja bertemu dengan salah satu harta karun kuliner nusantara yang kian hari kian langka: Tebu Telur. Namanya memang terdengar seperti eksperimen genetika yang gagal, atau mungkin menu sarapan aneh di film sci-fi. Tapi tenang, ini seratus persen tumbuhan, kok. Tidak ada ayam yang dipaksa bertelur di dalam batang tebu dalam proses pembuatannya.

Bagi generasi Z atau milenial yang hidupnya sudah terlalu nyaman dengan salad bar di mall, nama tebu telur mungkin terdengar asing. Padahal, bagi masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, seperti Jawa Barat (yang menyebutnya terubuk) atau di wilayah Timur Indonesia, tumbuhan ini adalah primadona meja makan. Tebu telur, atau secara ilmiah dikenal sebagai Saccharum edule, sejatinya adalah kerabat dekat tebu yang biasa diperas airnya. Bedanya, yang kita konsumsi di sini bukanlah batangnya yang manis, melainkan bunga atau malainya yang masih terbungkus pelepah.

Kenapa Namanya Tebu Telur?

Jujurly, penamaan ini sangat akurat. Kalau kalian mengupas pelepah hijaunya yang keras, kalian akan menemukan bagian dalam yang berwarna putih kekuningan dengan tekstur butiran-butiran halus yang padat. Nah, tekstur butiran inilah yang kalau digigit memberikan sensasi "nyeplus" atau grainy yang sangat mirip dengan telur ikan atau kaviar. Makanya, jangan kaget kalau ada yang menjulukinya sebagai "kaviar dari desa".

Secara rasa, tebu telur ini punya profil yang unik. Ada sedikit rasa manis khas tanaman tebu, tapi sangat tipis. Dominasinya lebih ke arah gurih dan nutty, alias gurih kacang yang lembut. Baunya pun segar, khas aroma tumbuhan hijau yang baru dipetik. Sensasi mengunyahnya itu lho yang nggak bisa ditemukan di sayuran lain. Bayangkan kalian makan jagung muda tapi jauh lebih lembut dan punya tekstur berpasir yang elegan di lidah.

Primadona di Dapur Tradisional

Ngomongin soal cara masaknya, tebu telur ini sebenarnya sangat luwes alias versatile. Di Jawa Barat, terubuk sering banget dijadikan bahan utama dalam masakan bersantan seperti lodeh atau gulai. Butiran-butiran tebu telur ini bakal menyerap kuah santan dengan sempurna, bikin setiap gigitan jadi ledakan rasa gurih yang hakiki. Makan pakai nasi hangat dan sambal terasi saja sudah cukup buat bikin kita lupa cicilan paylater sejenak.



Tapi kalau kalian tim yang nggak suka ribet, tebu telur goreng tepung adalah jalan ninja terbaik. Cukup celupkan ke adonan tepung bumbu, lalu goreng sampai golden brown. Hasilnya? Luarnya krispi, dalamnya lembut dan juicy. Ini adalah camilan yang jauh lebih sehat dan "bonafide" daripada gorengan bakwan biasa. Beberapa orang juga suka membakarnya langsung di atas bara api. Aroma asap yang meresap ke dalam sela-sela bunga tebu telur ini memberikan dimensi rasa yang lebih maskulin dan mendalam.

Sayuran 'Underrated' yang Kaya Manfaat

Di balik penampilannya yang sederhana dan agak kampungan bagi sebagian orang, tebu telur ini sebenarnya simpanan nutrisi yang nggak main-main. Dia kaya akan serat, yang jelas bagus buat pencernaan biar nggak "macet". Selain itu, tebu telur mengandung mineral penting seperti kalsium dan fosfor. Jadi, selain manjain lidah, dia juga bantu memperkuat tulang. Cocok banget buat kita yang punggungnya sudah mulai sering bunyi kretek-kretek karena kebanyakan duduk di depan laptop.

Sayangnya, popularitas tebu telur memang nggak seberuntung brokoli atau kale yang sering dicitrakan sebagai superfood oleh para influencer kesehatan. Padahal, kalau mau jujur, tebu telur punya potensi besar untuk "naik kelas". Bayangkan kalau ada kafe di Jakarta Selatan yang menyajikan "Grilled Terubuk with Miso Butter", pasti harganya langsung melejit dan jadi tren di TikTok. Tapi ya sudahlah, biarkan dia tetap menjadi rahasia umum bagi kita yang memang doyan blusukan ke pasar tradisional.

Masalah Kelangkaan dan Nostalgia

Satu hal yang cukup menyedihkan adalah tebu telur ini makin sulit ditemukan di kota-kota besar. Petani yang menanamnya pun sudah tak sebanyak dulu karena masa panennya yang tergolong musiman dan daya tahannya yang nggak begitu lama setelah dipetik. Begitu pelepahnya dibuka, bagian dalamnya cepat mengeras atau berubah warna kalau nggak segera diolah. Hal ini bikin tebu telur jarang masuk ke rak-rak supermarket yang serba dingin dan steril.

Mencari tebu telur sekarang rasanya seperti melakukan perjalanan nostalgia. Kita harus bangun pagi, pergi ke pasar tradisional yang lantainya mungkin agak becek, lalu jeli melihat lapak penjual sayur mayur ndeso. Tapi justru di situlah letak seninya. Ada kepuasan tersendiri saat kita berhasil mendapatkan seikat tebu telur yang masih segar dengan harga yang sangat terjangkau.



Penutup: Cobain Deh Sekali Seumur Hidup

Sebagai kesimpulan, tebu telur adalah bukti bahwa alam Indonesia itu super kreatif. Kita nggak butuh bahan makanan impor mahal-mahal kalau di tanah sendiri ada sayuran seunik ini. Buat kalian yang selama ini cuma tahu tebu itu buat es tebu, atau telur itu cuma dari ayam, coba deh sesekali tantang lidah kalian dengan tebu telur. Cari di pasar, tanya ke pedagang sayur langganan, dan masak dengan bumbu yang paling kalian suka.

Mungkin setelah suapan pertama, kalian bakal sadar kalau selama ini kalian sudah melewatkan salah satu keajaiban kuliner paling underrated di negeri ini. Tebu telur bukan cuma soal rasa, tapi soal menghargai keberagaman yang tumbuh dari tanah kita sendiri. Jadi, kapan terakhir kali kalian makan terubuk?