Selasa, 1 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Trenggiling, Si Mamalia Bersisik yang Diam-Diam Punya Peran Penting bagi Ekosistem Hutan

Tata - Tuesday, 01 September 2026 | 08:55 AM

Background
Trenggiling, Si Mamalia Bersisik yang Diam-Diam Punya Peran Penting bagi Ekosistem Hutan

Trenggiling: Si Introvert yang Diam-diam Jadi Pahlawan Penyelamat Hutan Kita

Kalau kita bicara soal hewan eksotis di Indonesia, nama harimau, gajah, atau orangutan pasti langsung nangkring di urutan teratas. Tapi, ada satu sosok yang seringkali luput dari obrolan tongkrongan, kecuali kalau beritanya muncul di televisi gara-gara kasus penyelundupan ilegal. Siapa lagi kalau bukan trenggiling? Hewan yang bentuknya mirip buah sirsak bersisik ini sebenarnya punya kepribadian yang sangat "relatable" sama kaum milenial dan Gen Z: pemalu, introvert, dan lebih suka menjauh dari keramaian.

Sayangnya, di balik sifatnya yang nggak mau cari ribut itu, trenggiling memikul beban berat sebagai penjaga keseimbangan ekosistem. Mereka bukan cuma sekadar "aksesori" hutan yang lucu buat difoto (itu pun kalau kalian beruntung bisa ketemu). Trenggiling adalah arsitek sekaligus dokter bagi lingkungan sekitarnya. Tanpa mereka, hutan kita mungkin bakal mengalami kekacauan yang nggak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Pest Control Alami yang Nggak Pernah Kirim Invoice

Pernah nggak kalian membayangkan kalau rumah kalian diserbu ribuan rayap sampai semua furnitur kayu habis tak bersisa? Nah, bayangkan kalau hal itu terjadi pada skala hutan yang luasnya ribuan hektar. Di sinilah peran utama trenggiling masuk sebagai "pest control" atau pengendali hama alami. Makanan utama trenggiling adalah semut dan rayap. Dalam setahun, satu ekor trenggiling dewasa bisa melahap sekitar 70 juta serangga. Angka yang fantastis, bukan? Itu mah sudah level mukbang tingkat dewa setiap harinya.

Tanpa adanya trenggiling, populasi rayap bisa meledak nggak terkendali. Kalau rayap sudah terlalu banyak, mereka nggak cuma makan kayu mati, tapi bisa mulai menyerang pohon-pohon yang masih sehat. Akibatnya, hutan bisa keropos dari dalam. Bayangkan kalau paru-paru dunia kita ini kolaps gara-gara kita membiarkan predator alaminya punah. Trenggiling menjaga agar populasi serangga tetap berada di batas wajar, memastikan pohon-pohon tetap berdiri tegak, dan secara nggak langsung, menjaga udara yang kita hirup tetap bersih.

Arsitek Tanah yang Hobi Gali-gali

Selain jago makan, trenggiling juga punya hobi yang sangat berfaedah bagi kesuburan tanah: menggali. Dengan cakar depannya yang kuat dan tajam, mereka sering banget menggali tanah untuk mencari makan atau membuat sarang. Mungkin bagi kita, itu cuma sekadar aktivitas "ngide" hewan biasa. Tapi bagi ekosistem, aktivitas penggalian ini adalah proses aerasi tanah yang sangat krusial.



Saat trenggiling menggali, mereka membantu mencampur nutrisi tanah dan membiarkan oksigen masuk ke lapisan yang lebih dalam. Hal ini bikin tanah jadi lebih subur dan siap untuk menumbuhkan tunas-tunas pohon baru. Selain itu, lubang-lubang bekas galian trenggiling seringkali dimanfaatkan oleh hewan lain sebagai tempat berlindung. Jadi, trenggiling ini ibarat kontraktor perumahan yang menyediakan hunian gratis buat sesama warga hutan. Baik banget, kan?

Nasib Tragis Si Sisik Berharga

Meski jasanya luar biasa, nasib trenggiling saat ini benar-benar di ujung tanduk. Mirisnya, mereka menyandang predikat sebagai mamalia yang paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia. Kenapa? Karena ada mitos yang menyebut kalau sisik trenggiling punya khasiat pengobatan, mulai dari obat kuat sampai penyembuh asma. Padahal secara ilmiah, sisik trenggiling itu terbuat dari keratin, zat yang sama dengan yang ada di kuku atau rambut kita. Jadi, mengonsumsi sisik trenggiling itu sama saja kayak kalian gigit-gigitin kuku sendiri. Nggak ada gunanya sama sekali!

Belum lagi soal dagingnya yang dianggap sebagai makanan mewah di beberapa negara. Obsesi manusia terhadap sesuatu yang "eksotis" ini pelan-pelan menghapus keberadaan mereka dari muka bumi. Di pasar gelap, harga trenggiling bisa selangit, dan inilah yang bikin para pemburu gelap gelap mata. Mereka nggak peduli kalau satu ekor trenggiling yang mereka tangkap berarti hilangnya pelindung bagi jutaan pohon di hutan.

Opini Kita: Kenapa Kita Harus Peduli?

Mungkin ada yang mikir, "Ah, gue kan hidup di kota, nggak ngaruh lah kalau trenggiling punah." Eits, jangan salah. Ekosistem itu kayak efek domino. Kalau satu bagian jatuh, yang lain pasti bakal ikut kena imbasnya. Kalau hutan rusak karena rayap merajalela dan tanahnya nggak subur lagi, perubahan iklim bakal makin parah. Suhu bumi naik, banjir makin sering, dan akhirnya kita semua juga yang rugi.

Kita nggak perlu jadi aktivis lingkungan yang masuk ke hutan setiap hari buat membantu mereka. Langkah kecil seperti berhenti menyebarkan mitos kesehatan yang nggak berdasar soal sisik hewan, atau setidaknya tahu bahwa hewan ini dilindungi undang-undang, sudah sangat berarti. Jangan sampai anak cucu kita nanti cuma bisa lihat trenggiling lewat buku sejarah atau arsip digital saja, sambil kita cerita dengan nada menyesal kalau dulu kita pernah punya "satpam hutan" yang hebat tapi kita biarkan hilang begitu saja.



Trenggiling mungkin bukan hewan yang gagah atau punya suara menggelegar, tapi diam-diam mereka bekerja keras demi kita. Saatnya kita yang mulai bersuara buat mereka. Karena pada akhirnya, menjaga trenggiling bukan cuma soal menyelamatkan satu spesies hewan, tapi soal menjaga masa depan bumi yang kita tinggali bareng-bareng ini. Stay aware, stay curious, dan jangan biarkan sisik terakhir trenggiling hilang dari hutan kita.