Sabtu, 11 Juli 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Tips Menghemat Biaya Perawatan Kebun

Liaa - Saturday, 11 July 2026 | 09:00 PM

Background
Tips Menghemat Biaya Perawatan Kebun

Hobi Berkebun Tanpa Bikin Dompet Boncos: Panduan Survival Buat Si Tangan Hijau yang Pengen Hemat

Pernah nggak sih lo merasa kalau hobi berkebun itu lama-lama mirip sama hobi modif motor atau koleksi mainan? Awalnya cuma beli satu pot kaktus lucu seharga kopi susu kekinian, eh, tahu-tahu halaman belakang udah penuh sama Monstera, Calathea, sampai Aglaonema yang harganya bikin elus dada. Belum lagi urusan tanah, pupuk, sampai pestisida yang kalau ditotal-total bisa buat bayar cicilan motor sebulan. Niatnya mau healing biar nggak stres kerja, yang ada malah makin stres pas liat mutasi rekening.

Fenomena "urban gardening" ini emang lagi naik daun banget, apalagi sejak pandemi kemarin. Tapi masalahnya, banyak dari kita yang terjebak di gaya hidup berkebun ala Pinterest yang serba estetik tapi mahal. Padahal, inti dari berkebun itu kan kedekatan sama alam, bukan soal seberapa mahal pot keramik yang lo pajang di teras. Nah, buat lo yang pengen tetep punya kebun subur tapi ogah jatuh miskin, ada beberapa trik "gerilya" yang bisa lo coba biar kantong tetep aman.

Stop Beli Pupuk Kimia Mahal, Manfaatkan "Harta Karun" di Dapur

Hal pertama yang bikin biaya perawatan kebun bengkak biasanya adalah pupuk. Marketing produk pertanian sekarang pinter banget bikin kita ngerasa butuh pupuk cair impor atau hormon pertumbuhan yang harganya selangit. Padahal, kalau lo mau sedikit repot, dapur lo itu sebenernya pabrik pupuk gratis. Serius, nggak bohong.

Air cucian beras (yang biasanya langsung dibuang ke wastafel) itu mengandung vitamin B1 yang bagus banget buat mencegah tanaman stres. Terus, ampas kopi atau teh jangan dibuang gitu aja; taburin di atas media tanam buat nambah nutrisi nitrogen. Bahkan kulit bawang merah dan bawang putih yang baunya minta ampun itu bisa lo rendam semalaman buat jadi pestisida alami sekaligus perangsang akar. Ini bukan cuma soal hemat, tapi juga soal zero waste living. Bayangin, lo dapet tanaman subur sekaligus ngurangin sampah rumah tangga. Double kill, kan?

Teknik Stek dan Barter: Cara Curang Perbanyak Koleksi

Kalau lo tipe orang yang gampang "fomo" liat koleksi tanaman orang lain, jangan buru-buru buka marketplace. Belajar teknik propagasi atau memperbanyak tanaman itu hukumnya wajib kalau mau hemat. Banyak banget tanaman hias yang bisa tumbuh cuma dari modal sepotong batang atau selembar daun. Lo tinggal potong, celupin ke air (water propagation), tunggu akarnya keluar, baru deh pindah ke pot.



Selain itu, jangan remehkan kekuatan komunitas. Di era media sosial, banyak banget grup tukar tanaman. Daripada beli bibit baru seharga ratusan ribu, mending ajak barter temen atau tetangga. "Gue punya anakan Sansiviera nih, tuker dong sama bibit kemangi lo." Sistem barter ini jauh lebih asik karena selain dapet tanaman baru, lo juga dapet temen baru buat curhat soal kenapa tanaman lo tiba-tiba layu tanpa alasan yang jelas.

Pot Estetik Itu Mahal, Upcycle Aja!

Jujur aja, pot tanah liat yang dicat putih atau pot keramik minimalis itu emang cakep banget buat konten Instagram. Tapi kalau satu pot harganya 50 ribu ke atas dan lo punya 50 tanaman, hitung aja sendiri berapa duit yang keluar. Solusinya? Pakai barang bekas yang ada di rumah. Kaleng bekas biskuit, ember pecah, atau botol plastik besar bisa jadi wadah tanam yang oke kalau lo punya sedikit kreativitas.

Kalau lo ngerasa botol plastik itu merusak pemandangan, ya tinggal dicat aja pakai sisa cat tembok atau dibalut pakai tali rami. Hasilnya malah kelihatan lebih industrial dan unik daripada pot yang dibeli di toko. Inget, tanaman itu nggak peduli mereka tinggal di pot mahal atau bekas kaleng cat, yang penting media tanamnya bagus dan dapet sinar matahari yang cukup. Estetika itu bisa diciptakan, tapi saldo rekening itu harus dipertahankan.

Air Hujan: Berkah Gratis dari Langit

Mungkin kedengarannya sepele, tapi biaya tagihan air bisa naik drastis kalau lo punya kebun yang luas. Apalagi kalau lo nyiram tanaman dua kali sehari pakai air PAM yang ada kaporitnya. Padahal, air hujan itu sebenernya "obat dewa" buat tanaman karena nggak mengandung klorin dan punya pH yang lebih disukai tanaman.

Mulai sekarang, kalau hujan turun, jangan cuma galau atau bikin status di sosmed. Keluarin ember atau drum buat nampung air hujan. Simpan buat stok nyiram tanaman beberapa hari ke depan. Cara ini receh banget, tapi kalau dilakuin rutin, lumayan banget buat motong tagihan bulanan. Tanaman seneng, dompet lo pun ikut tenang.



Jangan Mudah Tergoda Tren

Terakhir, dan yang paling susah, adalah ngerem nafsu belanja tanaman yang lagi tren. Dunia tanaman itu mirip dunia fashion; sekarang yang ngetren Janda Bolong, besok mungkin pohon cabai ungu, lusa mungkin tanaman lain yang namanya makin susah dieja. Kalau lo ngikutin tren terus, ya jelas bakal boncos. Harganya seringkali digoreng habis-habisan sama pedagang.

Fokus aja sama tanaman yang emang cocok sama iklim tempat tinggal lo dan yang lo sanggup urus. Nggak ada gunanya beli tanaman mahal kalau akhirnya mati karena lo nggak sempet ngerawatnya atau karena emang nggak cocok sama suhunya. Berkebun itu tentang proses, tentang ngeliat satu tunas baru muncul dan ngerasa seneng bukan main. Bukan tentang pamer koleksi mahal yang sebenernya bikin lo pusing bayar perawatannya.

Kesimpulannya, berkebun hemat itu bukan berarti pelit, tapi lebih ke arah bijak dalam mengelola sumber daya. Dengan sedikit usaha ekstra kayak bikin kompos sendiri, rajin stek, dan nggak gampang kemakan iklan, lo tetep bisa punya oase hijau di rumah tanpa harus bikin dompet teriak minta tolong. Jadi, siap buat mulai "gerilya" di kebun sendiri besok pagi?