Selasa, 8 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Sering Merasa Waktu 24 Jam Nggak Cukup? Ini 6 Cara Sederhana Biar Kamu Nggak Gampang Keteteran

RAU - Friday, 04 September 2026 | 01:25 PM

Background
Sering Merasa Waktu 24 Jam Nggak Cukup? Ini 6 Cara Sederhana Biar Kamu Nggak Gampang Keteteran

Pernah nggak sih kamu merasa kalau 24 jam itu kurang banget? Baru aja mau narik napas setelah satu kerjaan kelar, eh, tiba-tiba list tugas baru sudah antre panjang kayak antrean sembako gratis. Ujung-ujungnya, kita cuma bisa meratapi nasib di depan laptop sambil scrolling TikTok selama dua jam, padahal niat awalnya cuma mau cari inspirasi. Fenomena keteteran ini bukan hal baru, tapi kalau dibiarkan terus, lama-lama kesehatan mental dan fisik kita bisa remuk redam.

Masalahnya, banyak dari kita yang terjebak dalam mitos "hustle culture" alias gaya hidup serba buru-buru. Kita pikir, semakin sibuk kita terlihat, semakin produktif kita sebenarnya. Padahal, sibuk dan produktif itu dua hal yang beda kasta. Orang sibuk itu kayak lari di atas treadmill: capek banget, tapi nggak pindah ke mana-mana. Sedangkan orang produktif itu kayak naik sepeda: efisien, tahu arah, dan sampai ke tujuan tanpa harus pingsan di jalan.

Jangan Mau Jadi Korban Multitasking

Dulu, kemampuan multitasking itu dianggap sebagai superpower. Tapi sekarang? Ilmuwan justru bilang kalau multitasking itu sebenarnya cuma cara kita buat mengacaukan otak secara perlahan. Otak manusia itu bukan prosesor komputer yang bisa benar-benar menjalankan dua program berat sekaligus. Yang terjadi sebenarnya adalah "task switching" atau pindah-pindah fokus dengan cepat.

Bayangkan kamu lagi masak mi instan sambil bales chat gebetan dan dengerin podcast politik. Kemungkinan besar mi kamu bakal benyek, chat kamu typo, dan materi podcast-nya nggak ada yang nyangkut di otak. Begitu juga dengan kerjaan. Kalau kamu ngerjain laporan sambil ikut meeting Zoom dan sesekali ngecek diskon di e-commerce, hasil akhirnya pasti setengah matang semua. Cobalah untuk fokus ke satu hal dalam satu waktu. Selesaikan satu, baru pindah ke yang lain. Rasanya jauh lebih lega, lurus, dan nggak bikin jantung deg-degan nggak jelas.

Kenali Musuhmu: Urgensi vs Kepentingan

Salah satu alasan kenapa kita sering keteteran adalah karena kita nggak bisa bedain mana yang beneran penting dan mana yang cuma "berisik". Kita sering banget terjebak ngerjain hal-hal yang kelihatannya mendesak padahal sebenarnya nggak penting-penting amat. Misalnya, balesin email yang sebenarnya bisa dijawab besok, atau ikutan diskusi grup WhatsApp yang isinya cuma debat kusir soal bubur diaduk vs nggak diaduk.



Di sinilah kita perlu pake kacamata prioritas. Ada teori klasik namanya Eisenhower Matrix, tapi versi gampangnya gini aja: tanya ke diri sendiri, "Kalau gue nggak ngerjain ini sekarang, dunia bakal kiamat nggak?" Kalau jawabannya nggak, ya sudah, taruh di urutan bawah. Fokuslah pada tugas yang punya dampak besar buat masa depan atau karier kamu. Jangan sampai tenaga kamu habis buat hal-hal receh sampai-sampai pas giliran ngerjain yang utama, otak kamu udah keburu lowbatt.

Teknik Pomodoro: Berteman dengan Alarm

Buat kamu yang fokusnya gampang buyar kayak butiran debu, teknik Pomodoro bisa jadi penyelamat. Caranya simpel banget: pasang alarm selama 25 menit buat kerja tanpa gangguan sama sekali. Hp taruh jauh-jauh, atau set ke mode "jangan ganggu". Setelah 25 menit, kamu dapat hadiah istirahat selama 5 menit. Ulangi siklus ini empat kali, terus ambil istirahat yang lebih lama sekitar 15-30 menit.

Kenapa ini efektif? Karena otak kita butuh kepastian kapan dia boleh santai. Kalau kita maksa kerja 3 jam nonstop, otak bakal berontak dan akhirnya malah "kabur" ke Instagram atau YouTube tanpa sadar. Dengan teknik ini, kita melatih disiplin diri tapi tetap memberikan ruang buat bernapas. Rasanya kayak lagi sprint pendek, bukan lari maraton yang bikin muntah di tengah jalan.

Belajar Berkata "Nggak" Tanpa Rasa Bersalah

Ini nih bagian yang paling susah buat kaum "people pleaser" atau mereka yang nggak enak hati. Kadang jadwal kita penuh bukan karena kerjaan kita banyak, tapi karena kita terlalu sering meng-iya-kan permintaan orang lain. "Eh, bantuin desain ini dong," atau "Ikut rapat ini bentar yuk, cuma 10 menit kok." Dan taraa! Tiba-tiba waktu kamu habis buat ngurusin hidup orang lain sementara kerjaan sendiri terbengkalai.

Belajar bilang "nggak" itu sebuah skill, lho. Kamu nggak perlu galak, cukup jujur aja kalau kapasitas kamu lagi penuh. Ingat, setiap kali kamu bilang "iya" ke hal yang nggak penting, kamu sebenarnya lagi bilang "nggak" ke waktu istirahatmu sendiri atau ke kualitas hasil kerjamu. Jadi, jangan merasa jadi orang jahat cuma karena kamu ingin menjaga kewarasan jadwalmu sendiri.



Digital Detox Kecil-Kecilan

Kita hidup di zaman di mana notifikasi hp itu lebih sering muncul daripada ide cemerlang. Setiap denting suara WhatsApp atau notifikasi media sosial itu adalah pencuri waktu yang sangat lihai. Tanpa sadar, kita ngecek hp niatnya cuma 5 detik, eh tahu-tahu udah 20 menit baca komentar netizen yang lagi berantem. Ini yang bikin kita ngerasa waktu berjalan cepet banget padahal progress kerjaan masih nol besar.

Coba deh, selama jam kerja produktif, matikan notifikasi yang nggak perlu. Kalau perlu, pakai aplikasi blocker. Tentukan waktu tertentu buat buka sosmed, misalnya pas jam makan siang atau setelah semua tugas kelar. Dengan membatasi akses digital, kamu bakal kaget betapa banyaknya waktu luang yang sebenarnya kamu punya selama ini.

Manusiakan Dirimu Sendiri

Terakhir, dan yang paling penting, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Ada kalanya rencana yang udah disusun rapi hancur gara-gara hal tak terduga, kayak mati lampu, sakit tiba-tiba, atau suasana hati yang lagi mendung banget. Itu wajar. Kita ini manusia, bukan robot yang diprogram pakai algoritma sempurna.

Kalau hari ini kamu gagal produktif, ya sudah, jangan diratapi sampai begadang semalaman buat "balas dendam". Yang ada malah besoknya kamu makin capek dan makin keteteran. Tidur yang cukup, makan yang enak, dan mulai lagi besok dengan semangat baru. Mengatur waktu itu bukan soal jadi yang paling sibuk di dunia, tapi soal gimana kita bisa menikmati hidup tanpa harus merasa dikejar-kejar beban setiap detik. Jadi, sudah siap buat mengatur ulang jadwalmu hari ini?