Self-Love atau Cuma Alasan Malas?
Liaa - Saturday, 09 May 2026 | 04:26 AM


Di media sosial, self-love jadi mantra favorit banyak orang. Katanya, kita harus mencintai diri sendiri, tidak memaksakan diri, dan hanya melakukan hal yang membuat bahagia. Tapi, apakah semua yang disebut self-love benar-benar cinta diri atau cuma cara halus untuk membenarkan kemalasan?
1. Ketika "Self Love" Berubah Jadi "Lari dari Tanggung Jawab"
Fenomena self-love kini berubah makna. Dulu, konsep ini lahir dari psikologi positif: bagaimana seseorang bisa menghargai diri, menerima kekurangan, dan memperbaiki diri dengan lembut. Namun di era media sosial, banyak orang menafsirkannya berbeda. Istilah "aku lagi fokus ke diriku sendiri" sering digunakan untuk menghindari tanggung jawab, tugas, atau hubungan yang menuntut komitmen.
Kata-kata seperti "aku gak mau stres dulu" atau "aku lagi gak mau mikirin hal berat" terdengar bijak, tapi sering kali jadi pembenaran untuk menunda kewajiban. Inilah yang membuat self-love kehilangan makna aslinya: dari merawat diri, berubah menjadi menghindari realita.
2. "Self-Love" di Era Konten Estetik
Di TikTok dan Instagram, tagar #selflove punya jutaan unggahan. Isinya? Video spa, kopi estetik, staycation, hingga belanja produk mahal dengan caption "karena aku berhak bahagia." Fenomena ini menunjukkan betapa self-love telah menjadi komoditas sesuatu yang bisa dijual lewat gaya hidup. Padahal, menurut psikologi self-love bukan soal hadiah untuk diri, tapi tentang memperlakukan diri dengan jujur dan disiplin.
3. Cinta Diri Juga Butuh Disiplin
Bentuk self-love yang matang tidak selalu lembut. Kadang, cinta pada diri justru muncul lewat hal yang tidak menyenangkan: bangun lebih pagi, menyelesaikan tugas, berani minta maaf, atau menolak hal yang tidak sehat. Cinta yang sejati pada diri tidak membiarkan kita terjebak dalam zona nyaman, tapi menuntun kita tumbuh pelan-pelan tapi pasti.
4. Saat Self-Love Jadi Cermin Masyarakat yang Lelah
Budaya self-love yang berlebihan bisa jadi cerminan masyarakat yang kelelahan oleh ekspektasi dan tekanan sosial. Anak muda yang hidup di tengah budaya hustle dan persaingan ketat, akhirnya mencari jalan keluar lewat "istirahat permanen" dari tanggung jawab. Padahal, keseimbangan sejati justru muncul ketika kita tahu kapan harus berhenti dan kapan harus melangkah lagi.
Mencintai diri memang penting, tapi jangan sampai cinta itu berubah jadi pembenaran untuk berhenti berjuang. Karena self-love sejati bukan tentang selalu bahagia, tapi berani menghadapi hal yang tidak nyaman demi menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Next News

Telapak Tangan Berkeringat saat Gugup, Begini Respons Tubuh terhadap Stres
4 hours ago

Menjelang Haid Sering Bad Mood? Perubahan Hormon Bisa Berperan
4 hours ago

Anti-Hancur, Ini Tips Membuat Nugget Rumahan dengan Tekstur Padat
4 hours ago

Renyah di Luar, Lembut di Dalam: Rahasia Tekstur Nugget Favorit Banyak Orang
4 hours ago

Sosis Bakar Lebih Harum daripada Sosis Rebus, Ini Alasannya
4 hours ago

Daun Kelor Kerap Disebut Superfood, Ini Kandungan Gizinya
4 hours ago

Serai Bukan Hanya Bumbu Dapur, Rempah Ini Juga Sering Dijadikan Minuman
4 hours ago

Daun Sirih Punya Aroma Khas, Ini Senyawa yang Berperan di Dalamnya
4 hours ago

Beras Kencur Punya Rasa Khas, Ini yang Membuatnya Berbeda dari Jamu Lain
4 hours ago

Wedang Jahe Jadi Favorit saat Hujan, Ini Alasan di Baliknya
4 hours ago




