Sejarah Martabak: Senjata Ampuh Ambil Hati Calon Mertua
Laila - Wednesday, 09 September 2026 | 02:00 PM


Menelusuri Jejak Martabak: Dari Persahabatan Beda Bangsa Hingga Jadi Jajanan Sejuta Umat
Bayangkan malam minggu yang dingin, perut keroncongan, dan tiba-tiba aroma adonan goreng bercampur telur dan daun bawang menusuk hidung. Atau mungkin, aroma mentega lumer dari adonan tebal yang ditaburi kacang dan cokelat. Ya, martabak. Makanan ini sudah jadi semacam ritual wajib bagi orang Indonesia. Entah itu sebagai camilan saat kumpul keluarga, sogokan buat calon mertua supaya dapet restu, atau sekadar pelampiasan rasa lapar di tengah malam. Tapi, pernah nggak sih kepikiran, ini makanan sebenarnya asalnya dari mana? Kok bisa-bisanya ada dua jenis makanan yang bentuk dan rasanya beda jauh tapi namanya sama-sama martabak?
Martabak Telur: Kisah Persahabatan Lebaksiu dan India
Kalau kita bicara martabak telur, kita harus berterima kasih pada sebuah pertemuan legendaris di tahun 1930-an. Alkisah, ada seorang pemuda asal Lebaksiu, Tegal, bernama Ahmad bin Kyai Abdul Karim. Dia merantau ke Semarang dan bertemu dengan seorang pria asal India bernama Abdullah bin Abu Bakar. Abdullah ini jago masak makanan khas daerahnya yang disebut 'Mutabbaq'. Dalam bahasa Arab, mutabbaq berarti 'terlipat'.
Abdullah dan Ahmad ini bersahabat karib. Abdullah sering masak mutabbaq yang isinya daging dan rempah-rempah kuat khas India. Nah, si Ahmad yang orang Jawa ini punya insting bisnis dan selera lokal yang tajam. Dia merasa kalau mutabbaq versi asli India mungkin terlalu 'berat' atau kurang cocok dengan lidah orang Jawa yang lebih suka rasa yang agak seimbang. Akhirnya, mereka berkolaborasi memodifikasi resep tersebut. Isiannya ditambah banyak daun bawang dan disesuaikan dengan ketersediaan bahan di pasar lokal.
Singkat cerita, martabak hasil kolaborasi lintas negara ini meledak peminatnya. Ahmad kemudian membawa resep ini pulang ke kampung halamannya di Lebaksiu. Itulah alasan kenapa kalau kamu jalan-jalan ke daerah Tegal atau melihat gerobak martabak telur di pinggir jalan, hampir pasti penjualnya punya kaitan darah atau berasal dari Lebaksiu. Mereka sudah seperti dinasti penguasa martabak telur di Indonesia. Tanpa diplomasi kuliner antara Ahmad dan Abdullah, mungkin malam minggu kita cuma ditemani gorengan biasa.
Martabak Manis: Si "Penyusup" yang Sukses Besar
Sekarang kita geser ke martabak manis. Sebenarnya, menyebut martabak manis sebagai 'martabak' itu secara teknis agak salah kaprah, tapi sudah telanjur jadi konsensus nasional. Asal-usul martabak manis—atau yang aslinya bernama Hok Lo Pan—berasal dari Bangka Belitung. Penciptanya adalah orang-orang Hakka (Hoklo) di sana. Itulah kenapa di banyak tempat, makanan ini masih disebut sebagai Martabak Bangka.
Kenapa namanya jadi martabak? Ini murni strategi marketing zaman dulu. Dulu, para pedagang Hok Lo Pan biasanya berjualan berdampingan dengan pedagang martabak telur. Karena martabak telur sudah lebih dulu populer dan orang-orang butuh nama yang gampang diingat buat makanan manis berbentuk bulat yang dimasak di loyang besi ini, akhirnya mereka menyebutnya 'martabak manis'. Padahal kalau di Jawa Tengah atau Jawa Timur, orang lebih mengenalnya dengan sebutan Terang Bulan karena bentuknya yang bulat kuning seperti bulan purnama. Di Bandung, lain lagi, disebutnya Kue Bandung. Sebuah kerumitan identitas yang berakhir enak di perut.
Hok Lo Pan versi asli sebenarnya cukup sederhana: hanya adonan tepung terigu, telur, gula, yang ditaburi wijen sangrai dan kacang tanah. Tapi seiring berjalannya waktu, martabak manis mengalami evolusi gila-gilaan. Sekarang kita bisa menemukan martabak dengan topping mulai dari keju setebal batako, Nutella, KitKat Green Tea, sampai red velvet. Martabak manis bertransformasi dari sekadar kudapan tradisional menjadi simbol gaya hidup urban yang penuh kalori namun sangat menggoda.
Perang Saudara: Terang Bulan vs Martabak Manis
Sebagai negara dengan ribuan pulau, wajar kalau urusan nama martabak saja bisa memicu perdebatan sengit di media sosial. Orang Jakarta bakal bingung kalau di Surabaya diminta beli Terang Bulan. Sebaliknya, orang Medan mungkin bakal heran kalau ditawari Martabak Bangka karena mereka punya istilah sendiri. Tapi itulah uniknya Indonesia. Satu jenis makanan bisa punya banyak nama, tapi tujuannya satu: bikin kenyang dan bahagia.
Observasi jujur saya, martabak itu adalah makanan yang sangat demokratis. Kamu bisa beli martabak telur 'pinggiran' yang isinya telur bebek dua biji dengan harga terjangkau, atau martabak manis 'sultan' yang harganya setara makan siang di mall tiga kali. Keduanya punya tempat spesial di hati masyarakat. Tidak ada kasta dalam menikmati martabak, yang ada hanyalah perdebatan tentang apakah tim martabak telur lebih keren daripada tim martabak manis.
Lebih dari Sekadar Makanan
Martabak sudah mendarah daging dalam budaya kita. Dia adalah penyelamat di saat rapat kantor yang membosankan, dia adalah teman setia saat nonton bola, dan dia adalah 'pelicin' saat pertama kali main ke rumah pacar. Ada semacam aturan tidak tertulis: kalau kamu bawa martabak manis ukuran besar dengan topping lengkap, level kepercayaan calon mertua ke kamu otomatis naik beberapa persen. Itu adalah kekuatan magis dari adonan yang dipanggang dengan mentega melimpah.
Melihat sejarahnya yang panjang, dari mutabbaq India yang melintasi samudera hingga Hok Lo Pan Bangka yang berevolusi, martabak adalah bukti nyata betapa kayanya akulturasi budaya di Indonesia. Kita adalah bangsa yang jago mengadopsi hal-hal dari luar, mengolahnya dengan kearifan lokal, dan menjadikannya sesuatu yang baru yang bahkan lebih dicintai dari versi aslinya.
Jadi, nanti malam kalau kamu berdiri di depan gerobak martabak sambil menunggu pesananmu disiapkan, ingatlah bahwa ada sejarah panjang di balik setiap lipatan kulit martabak telur atau setiap lubang kecil di serat martabak manismu. Sebuah sejarah tentang persahabatan, kreativitas, dan tentu saja, kecintaan kita yang tak terbendung pada makanan berminyak dan manis yang bikin diet selalu gagal di hari Senin. Selamat makan!
Next News

Dari Aroma ke Rasa: Mengapa Donat Jadi Camilan Favorit Dunia
in 6 hours

Bahaya Tersembunyi Abu Vulkanik dan Cara Mengatasinya
in 6 hours

Mengenal Alasan Mengapa Indonesia Jadi Pusat Gunung Berapi Dunia
in 5 hours

Tanda-tanda Angin Puting Beliung Akan Datang yang Wajib Diketahui
in 5 hours

Jangan Cuma Ikut Tren, Ini Manfaat Minum Air Putih 2 Liter Sehari
in 5 hours

Mengenal Pulau Sentinel Utara, Wisata Terlarang di Tengah Laut
in 5 hours

Drama Perbedaan Waktu: Alasan Kenapa Dunia Punya 24 Zona
in 5 hours

Kenapa Kebakaran Hutan dan Lahan Lebih Sering Terjadi Saat Kemarau? Ini Faktor Penyebabnya
in an hour

Kenapa Pasir Cepat Melewatkan Air? Ternyata Ini Rahasia di Balik Pori-pori Tanah
in an hour

Mengapa Bebek Suka Berendam di Air? Ternyata Bukan Sekadar untuk Bersenang-senang
in an hour





