Rabu, 9 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Dari Aroma ke Rasa: Mengapa Donat Jadi Camilan Favorit Dunia

Laila - Wednesday, 09 September 2026 | 02:00 PM

Background
Dari Aroma ke Rasa: Mengapa Donat Jadi Camilan Favorit Dunia

Menasbihkan Donat Sebagai Raja Camilan Dunia: Dari Misteri Lubang Tengah Hingga Godaan Gula Halus

Bayangkan kamu lagi jalan-jalan di mal, terus tiba-tiba indra penciumanmu menangkap aroma manis yang khas banget. Campuran antara adonan roti yang digoreng, lelehan cokelat, dan sedikit sentuhan vanila. Tanpa perlu menoleh pun, otak kamu sudah memberikan sinyal otomatis: "Ini pasti gerai donat." Entah itu merek internasional yang logonya ada di mana-mana atau toko lokal yang antreannya mengular, donat punya kekuatan magis yang susah ditolak.

Mari kita jujur-jujuran, kalau ada penghargaan untuk makanan yang paling universal dan dicintai hampir semua umat manusia, donat pasti masuk nominasi utama, bahkan mungkin jadi juaranya. Donat itu simpel, nggak pretensius, tapi bisa tampil mewah kalau mau. Dia bisa jadi teman ngopi yang elegan di pagi hari, atau jadi pelarian saat kita lagi stres dikejar deadline kantor. Tapi, pernah nggak sih kamu mikir, kok bisa ya roti goreng bulat yang tengahnya bolong ini jadi sebegitu terkenalnya di seluruh dunia?

Misteri Si Lubang Tengah: Bukan Sekadar Gaya

Kalau kita ngomongin donat, hal pertama yang pasti dibahas adalah lubangnya. Kenapa harus bolong? Kenapa nggak padat saja seperti roti goreng pada umumnya? Versi sejarah yang paling populer—dan lumayan lucu kalau dibayangkan—melibatkan seorang kapten kapal asal Amerika bernama Hanson Gregory di tahun 1847. Konon, Kapten Gregory ini kesal karena bagian tengah donat yang dia makan sering kali masih mentah dan lembek sementara pinggirannya sudah gosong.

Akhirnya, dengan segala kepraktisannya sebagai pelaut, dia menekan bagian tengah adonan itu pakai tutup botol merica. Dan boom! Jadilah bentuk donat yang kita kenal sekarang. Teori ini masuk akal sih, karena lubang di tengah itu fungsinya biar panas minyak bisa merata, jadi nggak ada lagi drama "luar matang dalam mentah". Tapi ya itu, dari sebuah solusi teknis biar nggak sakit perut, ternyata bentuk ini malah jadi ikonik. Sekarang, kalau nggak bolong, ya rasanya ada yang kurang, kecuali kamu penggemar berat bomboloni yang isinya luber-luber itu.

Kasta Donat: Dari Donat Kampung Sampai Kelas Premium

Di Indonesia sendiri, donat punya perjalanan karier yang cukup menarik. Kita semua pasti punya kenangan sama donat kampung yang teksturnya agak padat, ditaburi gula halus sampai putih semua, dan dijual pakai kaleng kerupuk atau gerobak sepeda. Itu adalah "comfort food" yang kasta tertingginya susah digeser oleh apa pun. Rasanya jujur, nggak neko-neko, dan harganya ramah banget di kantong pelajar.



Tapi kemudian, masuklah era donat premium. Kita kenal brand-brand besar yang bikin donat jadi lebih "estetik". Teksturnya berubah jadi super lembut, topping-nya mulai aneh-aneh dari mulai rasa green tea, lotus biscoff, sampai rasa gurih seperti abon. Donat nggak lagi sekadar jajanan pasar, tapi naik kelas jadi buah tangan kalau mau main ke rumah mertua atau buat ngerayain ulang tahun di kantor sebagai pengganti kue tart. Fleksibilitas inilah yang bikin donat nggak pernah mati ditelan zaman. Dia bisa menyesuaikan diri dengan dompet dan selera siapa saja.

Mengapa Lidah Kita Selalu Menyerah pada Donat?

Kalau ditanya kenapa donat bisa jadi makanan paling terkenal, jawabannya mungkin ada di biologi kita sendiri. Secara ilmiah, kombinasi antara karbohidrat, lemak, dan gula adalah "holy trinity" yang bikin otak kita ngerilis dopamin. Donat punya ketiganya dalam dosis yang pas. Teksturnya yang empuk dan sensasi "cloud-like" saat digigit memberikan kepuasan instan yang sulit didapat dari makan brokoli rebus.

Selain itu, donat itu sangat visual. Lihat saja di Instagram atau TikTok, konten video yang memperlihatkan glazing cokelat jatuh di atas adonan donat yang masih hangat pasti bakal dapat banyak likes. Donat adalah makanan yang "Instagrammable" sebelum istilah itu bahkan ada. Warna-warninya bikin mata segar, dan bentuknya yang simetris itu entah kenapa memberikan ketenangan psikologis tersendiri. Fix, donat adalah definisi kebahagiaan yang bisa dibeli.

Donat Sebagai Bahasa Universal

Satu hal yang bikin donat pantas disebut raja dunia adalah kemampuannya menembus batas budaya. Di Amerika, donat adalah sarapan wajib bareng kopi hitam. Di Jepang, donat dibentuk jadi karakter-karakter lucu yang bikin kita nggak tega makannya. Di Indonesia, kita punya donat kentang yang legitnya luar biasa. Setiap negara punya interpretasinya masing-masing, tapi intinya tetap sama: adonan goreng yang membawa sukacita.

Kita nggak perlu sekolah tinggi-tinggi buat memahami kenapa donat itu enak. Nggak perlu ada tutorial khusus cara makan donat yang benar. Kamu tinggal ambil, gigit, dan nikmati sensasi gula yang nempel di bibir. Kesederhanaan inilah yang bikin donat jadi bahasa universal. Mau kamu lagi di New York, Jakarta, atau Tokyo, kalau kamu nyodorin sekotak donat ke orang, mereka pasti bakal tersenyum.



Penutup: Donat Adalah Kita

Pada akhirnya, kepopuleran donat bukan cuma soal rasa, tapi soal memori dan perasaan. Donat adalah camilan yang menemani kita saat lagi curhat sama teman, saat lagi nunggu jemputan, atau saat lagi ingin memberikan reward kecil buat diri sendiri setelah hari yang melelahkan. Donat mengajarkan kita bahwa sesuatu yang "bolong" di tengahnya pun bisa terasa sangat utuh dan memuaskan.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa hidup lagi agak pahit, mungkin itu tandanya kamu butuh sesuatu yang manis. Nggak perlu cari yang jauh-jauh, cari saja toko donat terdekat. Karena di dunia yang makin ribet ini, setidaknya kita masih punya donat yang rasanya konsisten memberikan kebahagiaan, satu gigitan demi satu gigitan. Lagipula, siapa sih yang bisa nolak donat cokelat klasik yang masih hangat? Rasanya nggak mungkin deh.

Tags