Pro dan Kontra Penggunaan Empeng untuk Bayi, Simak Faktanya!
Liaa - Thursday, 07 May 2026 | 09:35 AM


Dilema Empeng: Penyelamat Kewarasan Orang Tua atau Musuh Tersembunyi Si Kecil?
Bayangkan skenario ini: Jam menunjukkan pukul dua pagi. Suasana komplek sudah sunyi senyap, tapi di dalam kamar, bayi Anda sedang mengeluarkan suara tangisan level konser rock alternatif. Segala cara sudah dicoba. Susu sudah masuk, popok sudah kering, digendong sudah sampai pegal linu, tapi si bayi tetap saja "protes". Akhirnya, dengan tangan gemetar, Anda meraih benda kecil berbahan silikon itu: empeng. Begitu benda itu masuk ke mulut si kecil, mendadak dunia hening. Tenang. Damai.
Di dunia per-bayi-an, empeng sering dianggap sebagai "tombol mute" ajaib. Tapi, di sisi lain, benda ini juga jadi bahan perdebatan panas di grup WhatsApp ibu-ibu atau saat arisan keluarga. Ada yang bilang empeng itu penyelamat kewarasan, tapi ada juga yang bilang itu sumber petaka buat gigi dan bicara anak. Lantas, sebenarnya kita harus gimana? Mari kita bedah secara santai tapi berisi soal dampak penggunaan empeng ini.
Kenapa Bayi Doyan Banget Ngempeng?
Sebelum kita menghakimi si karet kenyal ini, kita harus paham dulu logikanya. Bayi lahir dengan insting menyusu yang sangat kuat. Ini namanya sucking reflex. Bagi mereka, mengenyot itu bukan cuma soal cari makan, tapi soal kenyamanan. Mengisap sesuatu itu bisa memicu pelepasan hormon endorfin yang bikin mereka merasa aman dan rileks. Jadi, jangan heran kalau jempol atau empeng jadi incaran utama saat mereka merasa gelisah.
Sisi Terang: Si Penolong di Kala Badai
Gak bisa dimungkiri, empeng punya jasa besar. Pertama, dia adalah alat bantu tidur yang ampuh. Banyak bayi yang susah memejamkan mata kalau mulutnya nggak "sibuk". Dengan empeng, mereka bisa menenangkan diri sendiri (self-soothing) tanpa harus nempel terus ke puting ibu atau botol susu.
Kedua, ada fakta medis yang cukup mengejutkan: penggunaan empeng saat tidur terbukti bisa menurunkan risiko SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) atau sindrom kematian bayi mendadak. Para ahli menduga kalau aktivitas mengisap ini menjaga saluran pernapasan tetap terbuka dan mencegah bayi tidur terlalu nyenyak sampai lupa napas. Jadi, dari sisi ini, empeng punya poin plus yang cukup krusial.
Selain itu, buat orang tua yang harus bepergian jauh dengan pesawat, empeng adalah pahlawan. Perubahan tekanan udara di kabin bisa bikin telinga bayi sakit luar biasa. Dengan mengempeng, tekanan di telinga tengah bisa lebih seimbang, dan kita pun terhindar dari tatapan sinis penumpang lain karena bayi yang tantrum sepanjang penerbangan.
Sisi Gelap: Drama yang Mungkin Muncul
Tapi, ya namanya hidup, nggak ada yang sempurna. Ada harga yang harus dibayar kalau kita terlalu bergantung pada empeng. Masalah yang paling sering dibahas adalah "bingung puting". Kalau empeng diberikan terlalu dini biasanya sebelum bayi mahir menyusu langsung ke ibu di usia di bawah satu bulan—si kecil bisa bingung. Cara mengisap empeng dan puting ibu itu beda banget teknisnya. Kalau sudah bingung, proses menyusui bisa terhambat, dan ujung-ujungnya produksi ASI ibu bisa menurun karena jarang dirangsang.
Lalu, ada masalah kesehatan telinga. Penggunaan empeng yang terlalu sering kabarnya bisa meningkatkan risiko infeksi telinga tengah (otitis media). Kenapa? Karena aktivitas mengisap terus-menerus bisa menyebabkan perubahan tekanan yang menarik cairan dari tenggorokan ke saluran telinga. Kalau cairan itu ngumpul dan kena bakteri, ya wasalam, jadilah infeksi.
Masalah yang paling ditakuti para orang tua biasanya soal estetika alias susunan gigi. "Nanti giginya maju lho, atau tonggos!" Begitu biasanya komentar mertua. Dan ya, secara medis itu ada benarnya, tapi biasanya kalau pemakaiannya kebablasan sampai usia di atas dua atau tiga tahun. Penggunaan empeng jangka panjang bisa mengubah bentuk rahang dan posisi gigi permanen yang mau tumbuh. Jadi, kalau anak sudah mau masuk TK tapi masih hobi ngempeng, nah itu saatnya Anda mulai panik (sedikit saja, jangan banyak-banyak).
Ketergantungan dan "Sakau" Empeng
Satu hal lagi yang sering bikin pusing adalah ketergantungan emosional. Ada fase di mana bayi nggak bisa lepas dari empengnya. Hilang sedikit, dramanya bisa melebihi putus cinta. Sebagai orang tua, kita jadi harus sedia stok empeng di mana-mana: di tas, di mobil, di bawah bantal, bahkan mungkin ada cadangan di kulkas (nggak deng, bercanda). Proses menyapih empeng ini sering kali lebih menantang daripada menyapih ASI. Ada anak yang sampai harus "disogok" atau empengnya digunting ujungnya supaya nggak enak lagi diisap.
Jadi, Harus Gimana Dong?
Kuncinya sebenarnya bukan di "boleh atau nggak boleh", tapi di "kapan dan bagaimana". Kalau Anda mau kasih empeng, tunggu sampai proses menyusui sudah mantap (biasanya setelah usia 4-6 minggu). Gunakan empeng hanya sebagai alat bantu tidur atau saat bayi benar-benar rewel, bukan setiap kali dia diam langsung disumpal empeng.
Perhatikan juga kebersihannya. Jangan malas mencuci dan mensterilkan empeng. Dan yang paling penting, jangan pernah mencelupkan empeng ke gula atau madu cuma supaya bayi anteng, karena itu tiket ekspres menuju gigi berlubang sebelum waktunya.
Opini saya sih, jadi orang tua itu sudah berat. Kalau memang empeng bisa bikin Anda sedikit lebih waras dan bisa tidur lebih nyenyak selama satu jam, ya pakai saja. Asalkan kita tahu batasannya dan tahu kapan harus bilang "selamat tinggal" pada si karet silikon itu. Parenting bukan soal jadi sempurna, tapi soal bertahan hidup dengan cara yang paling masuk akal bagi keluarga masing-masing.
Pada akhirnya, setiap bayi itu unik. Ada yang dikasih empeng malah dilempar, ada yang kalau nggak ada empeng dunianya runtuh. Tugas kita cuma mengobservasi dan memastikan apa pun pilihan yang kita ambil, itu yang terbaik buat tumbuh kembang si kecil. Semangat, para pejuang kurang tidur!
Next News

Ikigai,Rahasia Hidup Bahagia dan Berumur Panjang ala Orang Jepang
in 6 hours

Tips Kerja Seimbang: Mengapa Swedia Jadi Surga Bagi Karyawan
in 3 hours

97% Air Bumi Adalah Laut, 3% Air Tawar, dan Hanya 1% yang Dapat Dimanfaatkan
in 2 hours

5 Fakta Unik Fever Dreams, Mimpi Aneh yang Muncul Saat Badan Demam
in 2 hours

Mengapa Kupu-Kupu Sering Berjemur? Ternyata Demi Menjaga Suhu Tubuh dan Bertahan Hidup
in an hour

Jangan Remehkan Tidur Siang dan Istirahat Cukup: Anak yang Tidur Berkualitas Lebih Mudah Fokus Saat Belajar
in an hour

Mitos atau Fakta: Benarkah Main Ponsel Saat Hujan Bisa Tersambar Petir?
in an hour

Kenapa Kita Lebih Kreatif Saat Terhimpit Waktu?
in an hour

Misteri Pisang dan Nyamuk: Benarkah Buah Ini Membuat Seseorang Lebih Mudah Digigit?
in an hour

8 Cara Menghilangkan Kapalan di Kaki Secara Aman dan Efektif
10 minutes ago





