Sabtu, 8 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Pentingnya Peregangan Sebelum Beraktivitas

Laila - Saturday, 11 July 2026 | 10:00 AM

Background
Pentingnya Peregangan Sebelum Beraktivitas

Jangan Tunggu Sampai Badan 'Bunyi Kretek': Alasan Kenapa Stretching Itu Koentji

Pernah nggak sih, pas lagi asyik-asyiknya bangun tidur atau mau ambil remot TV yang jatuh di bawah sofa, tiba-tiba pinggang kamu kerasa kayak kesetrum? Atau pas lagi semangat-semangatnya mau lari pagi demi konten hidup sehat di Instagram, baru lari seratus meter saja betis sudah protes keras alias kram? Kalau jawabannya iya, selamat, kamu mungkin adalah anggota kehormatan dari sekte 'Remaja Jompo' yang populasinya makin hari makin membeludak di negeri ini.

Fenomena badan kaku dan gampang pegal ini sebenarnya bukan cuma faktor usia atau kurang asupan kopi pagi. Masalahnya seringkali lebih sederhana tapi sering disepelekan: kita malas stretching atau peregangan. Padahal, memperlakukan tubuh itu ibarat memanaskan mesin motor keluaran tahun lama. Kamu nggak bisa langsung gas pol kalau nggak mau mesinnya mati mendadak di tengah jalan. Begitu juga dengan otot-otot kita yang butuh 'salam pembuka' sebelum diajak kerja rodi seharian.

Bukan Sekadar Formalitas Penjaskes

Ingat nggak waktu zaman sekolah dulu, setiap mau pelajaran olahraga kita pasti disuruh baris dan melakukan gerakan tangan-kaki yang terasa membosankan? Jujur saja, dulu kita sering melakukannya setengah hati, cuma biar cepat-cepat bisa main bola atau basket. Tapi ternyata, bapak dan ibu guru olahraga kita itu benar. Stretching itu bukan sekadar formalitas biar kelihatan lagi olahraga.

Secara sains yang nggak usah terlalu rumit, peregangan itu fungsinya buat melancarkan aliran darah ke otot. Bayangkan otot kamu itu seperti karet gelang. Kalau karet itu dingin dan kering, terus kamu tarik paksa, apa yang terjadi? Putus, kan? Nah, otot kita juga gitu. Peregangan bikin suhu otot naik, membuatnya lebih elastis dan siap buat menerima beban. Tanpa itu, kamu cuma tinggal nunggu waktu sampai cedera datang mengetuk pintu—dan percaya deh, cedera itu nggak ada estetik-estetiknya sama sekali.

Stretching: Dinamis vs Statis, Mana yang Lebih Oke?

Nah, buat kalian yang sudah mulai 'ngide' mau stretching, ada baiknya tahu kalau peregangan itu nggak semuanya sama. Di dunia per-ototan, ada dua kubu besar: statis dan dinamis. Jangan sampai salah kostum, eh, salah gerakan.



Peregangan statis itu yang gayanya diam di tempat, kayak kamu narik tangan ke samping terus ditahan selama 15 detik. Ini enak banget dilakukan setelah beraktivitas alias pas pendinginan. Tapi kalau buat 'pemanasan' sebelum aktivitas berat, para ahli sekarang lebih menyarankan peregangan dinamis. Gerakannya lebih luwes, ada repetisinya, dan nggak diam di tempat. Contohnya jalan sambil angkat lutut tinggi-tinggi atau memutar lengan. Tujuannya supaya sendi-sendi kita terlumasi dengan sempurna. Ibarat kasih oli ke engsel pintu yang sudah mulai bunyi 'ngik-ngok'.

Gaya hidup kita sekarang yang serba duduk juga bikin masalah makin runyam. Banyak dari kita yang seharian cuma duduk di depan laptop, leher menekuk lihat HP, atau rebahan nonton Netflix dengan posisi badan yang ajaib. Ini bikin otot fleksor pinggul kita memendek dan kaku. Makanya jangan heran kalau tiba-tiba berdiri terus kerasa ada yang 'ketarik'. Stretching singkat sebelum mulai WFH itu bisa jadi penyelamat kewarasan fisik kamu.

Investasi Murah untuk Masa Tua yang Nggak Ringkih

Banyak orang rela bayar jutaan buat beli sepatu lari paling canggih atau langganan gym mahal, tapi pelit waktu 5 sampai 10 menit buat peregangan. Padahal, ini adalah investasi paling murah yang bisa kamu kasih ke diri sendiri. Manfaatnya nggak cuma buat hari ini doang, tapi buat jangka panjang. Kamu nggak mau kan, pas nanti umur 40-an mau gendong anak atau sekadar naik tangga saja sudah harus dibilas balsem satu badan?

Selain soal fisik, peregangan itu juga punya efek 'healing' yang nyata buat mental. Pas kita stretching, kita jadi lebih sadar sama tubuh sendiri (mindfulness, kalau kata anak-anak senja). Kita jadi tahu, "Oh, ternyata bahu gue kaku banget ya karena stres kerjaan." Dengan narik otot-otot yang tegang, secara nggak langsung kita juga ngelepasin hormon stres yang numpuk. Jadi, habis stretching itu biasanya pikiran jadi lebih plong, nggak se-ruwet benang kusut lagi.

Gimana Cara Mulainya Tanpa Berasa Terbebani?

Nggak usah muluk-muluk harus ikut kelas yoga yang kakinya bisa sampai ke kepala. Mulai saja dari yang simpel. Bangun tidur, jangan langsung cek notifikasi WhatsApp yang isinya tagihan atau revisi dari bos. Coba duduk di pinggir kasur, tarik napas dalam, luruskan tangan ke atas, terus coba sentuh ujung kaki. Rasakan tarikannya di punggung bawah. Lakukan itu sebentar saja sebelum kamu memulai ritual kopi pagi.



Kalau kamu tipikal orang yang sibuk (atau merasa sibuk), coba gunakan teknik 'interstitial stretching'. Pas lagi nunggu air mendidih, pas lagi nunggu file download selesai, atau pas lagi iklan di YouTube, sempatkan buat gerak-gerakin leher dan bahu. Intinya adalah konsistensi, bukan intensitas yang gila-gilaan di awal terus besoknya kapok karena semua badan pegal semua.

Kesimpulannya, jangan sombong sama tubuh sendiri. Mentang-mentang sekarang masih merasa kuat begadang dan jarang sakit, bukan berarti kamu bisa mengabaikan sinyal-sinyal kecil dari ototmu. Peregangan itu bentuk cinta paling dasar buat tubuh yang sudah nemenin kamu berjuang cari cuan dan cari jodoh. Jadi, yuk, mulai sekarang biasakan 'pemanasan' dulu. Biar apa? Biar nggak gampang tumbang sebelum waktunya. Ingat, sehat itu mahal, tapi stretching itu gratis, kawan!

Jangan tunggu sampai badanmu mengeluarkan simfoni bunyi 'kretek' setiap kali bergerak. Karena kalau sudah sampai tahap itu, ya... mungkin kamu memang butuh tukang urut, bukan sekadar stretching lagi. Stay limber, stay healthy!

Tags