Rabu, 26 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Dari Cerita Lisan hingga Era Digital: Bagaimana Manusia Menjaga Ingatan tentang Masa Lalu?

Tata - Wednesday, 26 August 2026 | 09:30 PM

Background
Dari Cerita Lisan hingga Era Digital: Bagaimana Manusia Menjaga Ingatan tentang Masa Lalu?

Dari Dongeng Sebelum Tidur ke Lembaran Kertas: Gimana Sih Cara Kita Mengingat Masa Lalu?

Bayangkan kamu lagi duduk di teras rumah bareng kakek atau nenek pas malam minggu. Alih-alih sibuk scroll TikTok, kamu dengerin mereka cerita tentang zaman susah dulu, tentang bau tanah sehabis hujan di desa yang sekarang sudah jadi mal, atau tentang mitos hantu penunggu pohon beringin di ujung jalan. Tanpa sadar, saat itu kamu sedang terlibat dalam proses transfer sejarah yang paling purba: tradisi lisan.

Pernah nggak sih kepikiran, gimana caranya kita bisa tahu apa yang terjadi seribu tahun lalu padahal dulu belum ada kamera smartphone buat bikin dokumentasi? Perjalanan sejarah itu panjang dan berliku, mirip hubungan yang nggak ada statusnya tapi tetap dipelihara. Dari sekadar obrolan di pinggir api unggun sampai jadi buku tebal yang bikin ngantuk di perpustakaan, begini cara manusia mati-matian menjaga ingatannya agar tidak ditelan zaman.

Zaman 'Katanya': Ketika Mulut Adalah Harddisk Utama

Dulu, sebelum orang kenal yang namanya abjad, cara paling canggih buat nyimpen informasi ya cuma lewat ingatan. Para tetua adat atau dukun biasanya jadi "server" berjalan. Mereka menghafal silsilah raja, mantra, sampai hukum adat di luar kepala. Di Indonesia, kita punya banyak banget contohnya. Ada tradisi "Panglipur Lara" di Melayu atau "Paseng" di Bugis yang isinya pesan-pesan bijak dari leluhur.

Masalahnya, tradisi lisan itu kayak main pesan berantai pas zaman SD. Kadang, ceritanya suka "bumbu" biar makin sedap. Yang tadinya cuma berantem biasa, eh pas turun ke cucu-cicitnya ceritanya jadi perang epik yang melibatkan naga. Tapi ya itu seninya. Sejarah lisan bukan cuma soal data hitam di atas putih, tapi soal emosi dan identitas yang terus disambung-sambungkan. Sejarah lewat lisan itu terasa lebih personal, lebih hidup, dan jujur aja, jauh lebih seru daripada baca diktat kuliah yang kaku.

Mulai Capek Ngomong, Manusia Mulai Corat-Coret

Lama-kelamaan, manusia sadar kalau ingatan itu ringkih banget. Bisa lupa, atau yang punya ingatan keburu meninggal sebelum sempat cerita. Akhirnya, mereka mulai cari cara buat mengabadikan momen lewat media fisik. Mulailah mereka memahat batu atau yang kita kenal sebagai prasasti. Bayangin betapa ribetnya orang zaman dulu. Mau update status "Hari ini raja menang perang" aja harus pakai pahat dan palu di batu gede. Nggak ada istilah typo, kalau salah ya wassalam, harus cari batu baru.



Di Nusantara, nenek moyang kita juga kreatif banget. Kalau nggak ada batu, daun lontar pun jadi. Mereka menulis dengan sangat teliti, menggoreskan sejarah di atas daun yang dikeringkan. Dari sinilah lahir naskah-naskah kuno seperti Negarakertagama atau Sutasoma. Media ini jauh lebih ringkas dibanding batu, meskipun tantangannya berat: gampang rusak kalau kena lembap atau dimakan rayap. Tapi berkat "kenekatan" mereka nulis di daun inilah, kita sekarang tahu kalau semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu bukan muncul tiba-tiba dari hasil rapat kemarin sore.

Revolusi Cetak: Saat Sejarah Jadi Milik Semua Orang

Lompat ke abad ke-15, ada orang namanya Johannes Gutenberg yang bikin mesin cetak. Ini adalah plot twist terbesar dalam sejarah manusia. Sebelum ada mesin cetak, buku itu barang mewah. Cuma orang kaya atau pemuka agama yang punya. Satu buku harus ditulis tangan pakai tinta dan bulu angsa, bayangin pegelnya kayak apa. Begitu mesin cetak muncul, sejarah nggak lagi eksklusif di kalangan istana atau tempat ibadah.

Buku mulai diproduksi massal. Informasi menyebar lebih cepat dari gosip tetangga. Sejarah nggak cuma soal raja dan ratu lagi, tapi mulai mencatat pemikiran-pemikiran rakyat jelata, penemuan sains, sampai kritik terhadap penguasa. Di Indonesia, era mesin cetak ini juga jadi bahan bakar pergerakan nasional. Bayangkan kalau dulu majalah "Pikiran Ra'jat" atau tulisan-tulisan Bung Karno nggak dicetak dan disebar, mungkin semangat kemerdekaan kita bakal mandek di obrolan warung kopi doang.

Kenapa Kita Masih Perlu Menulis Sejarah?

Mungkin ada yang mikir, "Ngapain sih bahas yang sudah lewat? Move on dong!" Eits, tunggu dulu. Sejarah itu bukan sekadar kumpulan tanggal lahir pahlawan yang harus dihapalin buat ujian. Sejarah itu kompas. Tanpa tahu dari mana kita berasal, kita bakal gampang linglung mau jalan ke mana. Menuliskan sejarah dari lisan ke buku (dan sekarang ke digital) adalah cara kita buat bertahan hidup.

Buku sejarah memberi kita perspektif. Kita jadi tahu kalau masalah yang kita hadapi sekarang—mulai dari politik yang ruwet sampai krisis iklim—sebenernya punya akar di masa lalu. Dengan membaca sejarah yang sudah dibukukan, kita jadi nggak gampang kemakan hoax atau narasi-narasi yang sengaja diplintir buat kepentingan tertentu. Buku adalah bukti fisik yang sulit dibantah, sebuah jangkar di tengah lautan informasi yang makin nggak karuan ini.



Sejarah di Ujung Jari: Era Digital

Hari ini, kita ada di fase transisi lagi. Dari buku fisik ke ebook, thread di X (Twitter), atau video dokumenter di YouTube. Sekarang, semua orang bisa jadi sejarawan buat hidupnya sendiri. Kita bisa merekam cerita orang tua kita pakai HP, lalu mengunggahnya ke cloud agar nggak hilang. Sejarah jadi makin demokratis, tapi juga makin berisik.

Tapi satu hal yang nggak berubah dari zaman tutur ke zaman digital: manusia itu makhluk yang suka bercerita. Kita selalu punya keinginan buat "meninggalkan jejak". Entah itu lewat pahatan batu yang dingin, lembaran buku yang wangi kertasnya khas, atau pixel di layar gadget. Kita menulis sejarah supaya anak cucu kita nanti nggak perlu memulai semuanya dari nol lagi. Kita menulis karena kita nggak mau dilupakan.

Jadi, kalau nanti kamu punya kesempatan buat ngobrol sama orang tua atau sesepuh di lingkunganmu, coba deh dengerin baik-baik. Siapa tahu, dari obrolan ringan itu, kamu sedang memegang potongan puzzle sejarah yang belum sempat tertulis di buku mana pun. Karena pada akhirnya, sejarah bukan cuma milik para pemenang, tapi milik siapa saja yang mau mengingat dan menceritakannya kembali.