Senin, 7 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Pancake dari Amerika hingga Indonesia, Kenapa Bentuk dan Rasanya Bisa Berbeda?

Tata - Monday, 07 September 2026 | 02:45 PM

Background
Pancake dari Amerika hingga Indonesia, Kenapa Bentuk dan Rasanya Bisa Berbeda?

Pancake: Satu Adonan, Seribu Rupa, dan Teka-Teki di Balik Kelezatannya

Bayangkan pagi hari yang tenang, aroma mentega yang meleleh di atas wajan, dan bunyi "cess" pelan saat adonan kental menyentuh permukaan panas. Hampir semua orang di dunia ini punya memori atau setidaknya imajinasi yang sama tentang pancake. Tapi, pernah nggak sih kalian kepikiran, kenapa makanan yang bahan dasarnya cuma tepung, telur, dan susu ini bisa punya wujud yang beda jauh antar satu negara dengan negara lainnya? Ada yang tebalnya minta ampun sampai bisa goyang-goyang, ada juga yang tipisnya saingan sama harapan di tanggal tua.

Pancake itu ibarat kanvas kosong. Tiap budaya punya "kuas" dan "cat" mereka sendiri buat menghiasnya. Kalau kita ngomongin pancake, pikiran kita mungkin langsung melayang ke tumpukan kue bulat tebal ala Amerika yang diguyur sirup maple. Tapi coba geser sedikit ke Prancis, kita bakal ketemu crêpe yang langsing dan elegan. Geser lagi ke Indonesia, eh, ada Serabi atau Martabak Manis yang diam-diam juga masih satu silsilah keluarga besar pancake. Keberagaman ini bukan tanpa alasan, lho. Ada sejarah, geografi, sampai selera lidah lokal yang berperan di sana.

Si Tebal dari Amerika dan Si Tipis dari Eropa

Mari kita mulai dari yang paling mainstream: American Pancake. Tipikal pancake ini adalah tebal, empuk, dan "fluffy". Rahasianya ada di agen pengembang kayak baking powder atau baking soda. Orang Amerika suka sesuatu yang mengenyangkan dan bisa menyerap sirup sebanyak mungkin. Ini adalah makanan comfort food yang nggak neko-neko. Buat mereka, sarapan itu harus bertenaga, makanya pancake-nya dibikin "berisi".

Beda cerita kalau kita nyeberang ke Prancis. Di sana ada Crêpes. Kalau American pancake itu kayak cowok kekar yang pakai kaos oblong, Crêpes itu kayak perempuan anggun yang pakai gaun sutra. Tipis banget! Orang Prancis nggak pakai pengembang. Mereka lebih fokus ke tekstur yang lembut dan elastis. Kenapa tipis? Karena di Eropa dulu, gandum adalah komoditas yang berharga, dan teknik memasak dengan wajan datar yang sangat panas menuntut adonan yang cepat matang. Crêpes juga lebih fleksibel; bisa dimakan pakai cokelat (manis) atau malah diisi ham dan keju (gurih).

Invasi Soufflé Jepang: Ketika Teknologi Bertemu Kuliner

Ngomongin pancake modern nggak bakal lengkap tanpa nyebutin Japanese Soufflé Pancake. Beberapa tahun terakhir, media sosial kita penuh sama video pancake yang "jiggly" alias goyang-goyang pas piringnya disentuh. Ini adalah puncak estetika dari sebuah pancake. Orang Jepang mengambil konsep pancake Amerika tapi tekniknya pakai gaya Soufflé Prancis.



Putih telurnya dikocok sampai kaku (meringue) baru dicampur ke adonan. Hasilnya? Pancake yang lebih mirip awan daripada makanan. Ini mencerminkan budaya Jepang yang sangat detail dan menghargai tekstur. Mereka nggak cuma pengen kenyang, mereka pengen pengalaman sensorik. Makan pancake ini berasa kayak lagi makan angin yang dikasih rasa vanila. Ringan, estetik, dan jelas sangat "Instagrammable".

Kearifan Lokal: Serabi dan Martabak Manis

Nah, sekarang mari kita balik ke kandang. Apakah Indonesia punya pancake? Oh, jelas punya, meskipun kita jarang menyebutnya dengan nama itu. Coba lihat Serabi. Bahan dasarnya tepung beras dan santan. Dimasak di atas tungku tanah liat. Secara teknis, serabi adalah pancake karena dia adalah kue datar yang dimasak di atas penggorengan (meski bentuknya cekung). Penggunaan santan ini kunci utama kenapa rasa "pancake" kita lebih ke arah gurih-gurih legit, beda sama pancake Barat yang cenderung manis-susu.

Terus ada Martabak Manis atau Terang Bulan. Di luar negeri, martabak manis sering disebut "Indonesian Thick Pancake". Dan jujur aja, martabak manis itu mungkin adalah kasta tertinggi dalam dunia per-pancake-an kalau dilihat dari segi kalori. Teksturnya yang bersarang itu mirip dengan crumpet dari Inggris, tapi versi lebih "berdosa" karena mentega dan topping-nya yang brutal. Kenapa kita punya versi ini? Karena lidah tropis kita suka tekstur yang kenyal dan rasa yang sangat kuat.

Kenapa Bisa Beda-Beda?

Kalau kita tarik benang merahnya, perbedaan bentuk dan rasa ini dipengaruhi oleh tiga hal utama. Pertama, ketersediaan bahan. Di negara dengan gandum melimpah, pancake-nya bakal didominasi terigu. Di Asia yang kaya padi dan kelapa, muncullah serabi dengan tepung beras dan santan.

Kedua, alat masak. Crêpe butuh wajan datar luas (crepiere), sedangkan serabi butuh cetakan tanah liat. Ketiga, dan yang paling seru, adalah gaya hidup. Di negara yang orangnya sibuk dan butuh energi cepat di pagi hari, pancake tebal jadi solusi. Di tempat yang budaya kulinernya lebih santai dan menghargai camilan sore, pancake tampil lebih artistik dan ringan.



Pada akhirnya, pancake bukan cuma soal urusan perut. Dia adalah bukti kalau manusia itu kreatif. Kita bisa mengolah bahan yang hampir sama menjadi ribuan identitas yang berbeda. Mau itu dibaluri maple syrup, diisi durian, atau cuma ditaburi gula halus, pancake adalah bahasa universal tentang kenyamanan. Jadi, besok pagi mau makan pancake versi negara mana? Apa pun pilihannya, pastikan jangan dimakan pas lagi panas-panasnya kalau nggak mau lidah melepuh, ya!