Senin, 7 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Durian Punya Bau yang Sangat Menyengat? Ternyata Ada Penjelasan Ilmiah di Baliknya

Tata - Monday, 07 September 2026 | 03:10 PM

Background
Kenapa Durian Punya Bau yang Sangat Menyengat? Ternyata Ada Penjelasan Ilmiah di Baliknya

Durian: Antara Wangi Surga dan Bau Kaos Kaki Basah yang Bikin Heboh

Mari kita jujur-jujuran saja. Di dunia ini, cuma ada dua jenis orang kalau sudah berurusan sama durian: mereka yang bakal rela sujud syukur demi satu pongge Musang King, atau mereka yang bakal lari terbirit-birit sambil menutup hidung seolah-olah baru saja melihat kebocoran gas beracun. Nggak ada jalan tengah. Durian itu produk alam yang sangat polarisasi, bahkan lebih memecah belah daripada perdebatan bubur diaduk atau nggak diaduk.

Julukannya sih keren, "King of Fruits" alias Raja Buah. Tapi ya itu, rajanya punya "parfum" yang luar biasa menantang. Saking kuatnya, buah ini sampai jadi musuh nomor satu di hotel berbintang, kabin pesawat, hingga gerbong MRT di Singapura. Pertanyaannya, kenapa sih buah yang isinya legit dan creamy ini harus punya bau yang sekencang itu? Apakah alam memang sengaja pengen ngerjain hidung manusia, atau ada alasan ilmiah yang lebih masuk akal di baliknya?

Pabrik Kimia di Balik Kulit Berduri

Kalau kamu mengira bau durian itu cuma sekadar "bau buah matang", kamu salah besar. Secara ilmiah, durian itu ibarat sebuah laboratorium kimia yang sedang lembur. Para peneliti dari Technical University of Munich pernah iseng-iseng membedah aroma durian varietas Monthong. Hasilnya? Mereka menemukan setidaknya 50 senyawa berbeda yang menyumbang aroma khas tersebut.

Nah, dari sekian banyak senyawa itu, yang paling bertanggung jawab bikin bau menyengat adalah kelompok senyawa sulfur volatil atau VSC (Volatile Sulfur Compounds). Senyawa ini jugalah yang biasanya kamu temukan pada bawang putih busuk, telur busuk, atau bahkan bau badan yang belum mandi tiga hari. Spesifiknya, ada senyawa bernama etanatiol yang kadarnya sangat tinggi saat durian mulai matang. Jadi, nggak heran kalau hidung kita langsung kasih sinyal waspada begitu mencium bau durian dari jarak sepuluh meter.

Tapi tunggu dulu, nggak semua isinya "sampah". Ada juga senyawa ester yang ngasih aroma buah-buahan segar kayak nanas atau pisang. Masalahnya, si sulfur ini dominannya minta ampun. Begitu mereka bergabung, terciptalah simfoni aroma yang kompleks: manis, busuk, tajam, dan creamy secara bersamaan. Vibes-nya kayak lagi makan dessert enak tapi di samping tempat pembuangan sampah. Kontradiktif banget, kan?



Taktik Bertahan Hidup: Bau Adalah Undangan

Dalam dunia biologi, nggak ada yang namanya kebetulan. Durian nggak berevolusi punya bau menyengat cuma buat gaya-gayaan atau sekadar bikin turis asing mual. Bau itu adalah strategi pemasaran tingkat tinggi alias "marketing laut dalam" dari alam.

Bayangkan durian di tengah hutan rimba yang lebat. Pohonnya tinggi menjulang, dan buahnya tersembunyi di balik dedaunan. Gimana caranya biar bijinya bisa kesebar luas? Jawabannya: bau. Bau sulfur yang tajam itu bisa menembus rimbunnya hutan hingga berkilo-kilometer jauhnya. Ini adalah undangan terbuka bagi para penghuni hutan seperti orangutan, gajah, hingga babi hutan.

Bagi hewan-hewan ini, bau durian itu bukan bau kaos kaki, melainkan aroma restoran bintang lima yang memanggil-manggil. Mereka bakal datang, pesta pora makan daging buahnya, lalu tanpa sadar membawa bijinya ke tempat lain lewat kotoran mereka. Jadi, bau menyengat itu sebenarnya adalah cara durian untuk memastikan kelangsungan generasinya. Tanpa bau itu, durian mungkin sudah punah karena nggak ada yang mau bantu "pindah rumah".

Kenapa Ada yang Suka dan Ada yang Benci?

Pernah nggak kamu bingung kenapa temanmu bisa makan durian dengan lahap sementara kamu merasa mau pingsan? Ternyata, ini bukan cuma soal selera, tapi ada urusan genetik juga. Ada penelitian yang menyebutkan bahwa manusia punya variasi genetik pada reseptor penciumannya, khususnya gen OR11G2.

Bagi orang-orang tertentu, hidung mereka lebih sensitif terhadap komponen sulfur dalam durian, sehingga yang terdeteksi cuma bau "sampah" dan "busuk". Sementara bagi kaum pemuja durian, hidung mereka lebih condong menangkap aroma manis dan legitnya. Jadi, kalau kamu nggak suka durian, jangan merasa bersalah. Salahkan saja susunan DNA kamu yang terlalu sensitif sama bau belerang.



Tapi ya, buat kita yang tinggal di Asia Tenggara, durian itu sudah jadi bagian dari kultur. Ada sensasi tersendiri saat kita jongkok di pinggir jalan, milih buah sambil dipukul-pukul pakai pisau sama abangnya ("Ini matang, Bang, jaminan garansi!"), lalu makan rame-rame sambil keringatan. Bau yang nempel di tangan sampai besok pagi itu justru jadi semacam "kenang-kenangan" yang manis.

Kesimpulan: Nikmati Saja Uniknya

Pada akhirnya, bau durian yang luar biasa kuat itu adalah identitas. Tanpa baunya yang bikin heboh, durian cuma bakal jadi buah biasa yang membosankan. Kekuatan aromanya adalah pengingat bahwa alam punya cara-cara unik—dan terkadang sedikit ekstrem—untuk bekerja.

Jadi, kalau lain kali kamu mencium bau durian yang menusuk hidung saat lagi jalan-jalan di pasar, ingatlah bahwa itu adalah hasil kerja keras enzim methionine gamma-lyase yang lagi berjuang demi kelestarian spesiesnya. Dan buat kamu yang cinta mati sama buah ini, teruslah berjuang meyakinkan teman-temanmu bahwa di balik bau "kiamat" itu, ada rasa surga yang nggak bisa digantikan oleh buah apa pun di dunia ini. Sikat, bray!