Misteri Gondrongnya Pohon Beringin: Ternyata Akar Gantungnya Punya Fungsi Penting
Tata - Thursday, 03 September 2026 | 09:45 AM


Misteri Gondrongnya Pohon Beringin: Bukan Cuma Tempat Nongkrong Genderuwo, Ini Alasan Ilmiah di Baliknya
Siapa sih yang nggak merinding kalau lewat di bawah pohon beringin pas malam Jumat Kliwon? Atau minimal, pas maghrib-maghrib lagi gerimis. Di Indonesia, beringin itu sudah kayak selebritas di dunia klenik. Reputasinya sebagai "markas besar" makhluk halus sudah mendarah daging. Akar-akarnya yang menjuntai panjang ke bawah, sering kali dianggap sebagai tirai penutup bagi penghuni gaib yang lagi asyik nongkrong di sana. Tapi, kalau kita singkirkan dulu urusan mistis itu dan mulai pakai kacamata sains yang agak santai, sebenarnya ada alasan yang jauh lebih keren dan logis kenapa pohon ini punya gaya rambut "gimbal" yang luar biasa panjang.
Pohon beringin, atau yang nama ilmiahnya keren banget disebut Ficus benjamina, memang bukan pohon sembarangan. Kalau pohon mangga atau pohon jambu akarnya anteng di dalam tanah, beringin justru pamer akar di udara. Akar-akar yang menggantung ini dalam bahasa biologi disebut sebagai akar gantung atau akar udara (aerial roots). Dan percayalah, alam nggak mungkin iseng ngasih "aksesoris" sebanyak itu kalau nggak ada fungsinya. Ibarat manusia yang pakai skincare berlapis-lapis, beringin punya akar gantung ini buat bertahan hidup di tengah kerasnya persaingan dunia perhutanan.
Alat Napas yang Gaya: Snorkeling ala Pepohonan
Fungsi utama dari akar-akar yang menjuntai itu sebenarnya simpel tapi vital: buat bernapas. Iya, beringin itu ibarat lagi pakai alat snorkeling yang banyak banget. Di dalam dunia tumbuhan, proses ini disebut respirasi. Masalahnya, pohon beringin sering kali tumbuh sangat besar dengan tajuk yang rimbun banget, sampai-sampai akar yang ada di dalam tanah kesulitan mendapatkan pasokan oksigen yang cukup. Nah, akar gantung ini berfungsi menyerap oksigen langsung dari udara bebas. Jadi, sambil berayun-ayun ditiup angin, akar itu lagi sibuk narik napas dalam-dalam buat menyuplai energi ke seluruh bagian pohon.
Bayangkan saja kalau beringin cuma mengandalkan akar bawah tanah. Dengan ukuran batangnya yang bisa sebesar rumah tipe 36, dia pasti bakal sesak napas. Makanya, dia berinovasi dengan mengeluarkan ribuan "selang oksigen" dari dahan-dahannya. Semakin lembap udaranya, biasanya akar-akar ini bakal makin rajin tumbuh. Itulah kenapa beringin di daerah tropis kayak kita ini kelihatan lebih gondrong dibanding kerabatnya di tempat yang kering. Vibes-nya jadi lebih dramatis, tapi ya itu tadi, tujuannya murni buat bertahan hidup, bukan buat nakut-nakutin orang lewat.
Transformasi Jadi Tiang Penyangga: Dari Rambut ke Pilar Beton
Hal gokil lainnya dari akar beringin adalah kemampuannya buat berubah wujud. Kalau kamu perhatikan beringin yang sudah tua banget, beberapa akarnya nggak cuma melambai-lambai di udara, tapi sudah sampai menyentuh tanah dan masuk ke dalamnya. Begitu akar gantung ini "kenalan" sama tanah, dia nggak bakal cuma diam. Dia bakal berubah menjadi keras, membesar, dan lama-lama fungsinya berubah jadi batang tambahan. Fenomena ini disebut sebagai akar pilar.
Kenapa harus ada akar pilar? Coba bayangkan dahan beringin yang lebarnya bisa mencapai belasan meter. Bebannya luar biasa berat, bro. Kalau nggak ada penyangga di tengah-tengah, dahan itu bisa patah karena gravitasi. Akar gantung yang sudah masuk ke tanah ini fungsinya jadi kayak tiang penyangga jembatan layang. Semakin banyak akar yang masuk ke tanah, semakin kokoh pohon itu berdiri. Inilah rahasia kenapa beringin bisa hidup ratusan tahun dan lebarnya bisa menutup satu lapangan bola. Dia membangun fondasinya sendiri sambil jalan. Sebuah teknik arsitektur alami yang bikin insinyur sipil manapun bakal geleng-geleng kepala kagum.
Penyerap Air di Tengah Kemarau
Selain buat napas dan penyangga, akar gantung ini juga berfungsi sebagai spons raksasa. Di udara kita ini sebenarnya banyak uap air, apalagi kalau lagi musim hujan atau di daerah pegunungan yang berkabut. Akar beringin punya sel-sel khusus yang bisa menangkap kelembapan udara itu. Jadi, saat tanah mulai kering dan sumur-sumur warga di sekitar mulai surut, beringin masih punya cadangan air yang diserap langsung dari udara lewat akar "gimbal"-nya itu. Mandiri banget, kan?
Makanya, nggak heran kalau di bawah pohon beringin suasananya selalu terasa lebih sejuk dan adem. Bukan cuma karena bayangannya yang luas, tapi juga karena adanya proses penguapan dan kelembapan yang dijaga oleh ribuan akar gantung tersebut. Kalau lagi gerah karena habis diputusin pacar atau pusing mikirin cicilan, duduk di bawah beringin (pas siang hari ya, biar nggak horor) memang bisa jadi terapi healing gratisan yang cukup manjur.
Filosofi dan Observasi Ringan
Kalau kita mau jujur, beringin dengan segala akar gantungnya adalah simbol resiliensi yang luar biasa. Dia nggak cuma mengandalkan satu sumber (akar tanah), tapi dia membuka cabang-cabang baru untuk mencari peluang (udara). Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin bisa belajar dari beringin. Jangan cuma mengandalkan satu income stream, tapi buatlah "akar-akar" baru yang bisa menyokong hidup kita kalau-kalau batang utama lagi goyah.
Sayangnya, di zaman sekarang, pohon beringin besar makin sulit ditemui di kota-kota besar. Banyak yang ditebang karena dianggap bikin jalanan kotor oleh daunnya yang rontok atau karena ketakutan berlebihan soal hal mistis. Padahal, beringin itu adalah paru-paru kota yang sangat efektif. Satu pohon beringin besar bisa memproduksi oksigen yang cukup untuk puluhan manusia. Lagipula, kalau soal hantu, sebenarnya hantu zaman sekarang kayaknya lebih suka nongkrong di kafe estetik atau gedung kosong daripada di pohon yang lembap, kan? Jadi, mari kita lebih apresiatif sama si "gondrong" yang satu ini.
Kesimpulannya, akar gantung pohon beringin itu adalah bukti kejeniusan evolusi. Dia adalah alat napas, tiang penyangga, dan penyerap air yang digabung jadi satu paket estetika yang unik. Jadi, lain kali kalau kamu lewat di depan pohon beringin, jangan cuma sibuk baca doa penangkal setan, tapi coba deh perhatikan betapa rumit dan hebatnya sistem perakaran mereka. Alam itu keren kalau kita mau sedikit lebih kepo. Dan buat beringin, tetaplah gondrong, karena di situlah letak kekuatanmu!
Next News

Lucu Tapi Bau: Tips Atasi Bau Matahari Setelah Anak Main
in 6 hours

Kenapa Kuku Kaki Bau dan Berwarna Kuning? Simak Penjelasannya
in 6 hours

Sejarah Martabak: Senjata Ampuh Ambil Hati Calon Mertua
in 5 hours

Dari Aroma ke Rasa: Mengapa Donat Jadi Camilan Favorit Dunia
in 5 hours

Bahaya Tersembunyi Abu Vulkanik dan Cara Mengatasinya
in 5 hours

Mengenal Alasan Mengapa Indonesia Jadi Pusat Gunung Berapi Dunia
in 4 hours

Tanda-tanda Angin Puting Beliung Akan Datang yang Wajib Diketahui
in 4 hours

Jangan Cuma Ikut Tren, Ini Manfaat Minum Air Putih 2 Liter Sehari
in 4 hours

Mengenal Pulau Sentinel Utara, Wisata Terlarang di Tengah Laut
in 4 hours

Drama Perbedaan Waktu: Alasan Kenapa Dunia Punya 24 Zona
in 4 hours





