Kamis, 22 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Minuman Manis Berlebihan Bisa Meningkatkan Risiko Masalah Kesehatan, Ini Alasannya

Laila - Friday, 16 October 2026 | 01:24 PM

Background
Minuman Manis Berlebihan Bisa Meningkatkan Risiko Masalah Kesehatan, Ini Alasannya

Minuman manis menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari banyak orang. Mulai dari teh manis, minuman bersoda, kopi susu, hingga aneka minuman dengan tambahan sirup dan krimer, semuanya mudah ditemukan di berbagai tempat. Rasanya yang manis membuat minuman tersebut digemari, terutama ketika cuaca panas atau saat membutuhkan teman untuk beraktivitas.

Meski demikian, konsumsi minuman manis secara berlebihan dapat memberikan dampak kurang baik bagi kesehatan. Kandungan gula tambahan di dalamnya dapat meningkatkan asupan kalori harian tanpa selalu memberikan rasa kenyang yang sebanding dengan makanan padat. Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, risiko sejumlah masalah kesehatan dapat meningkat.

1. Meningkatkan Risiko Kenaikan Berat Badan

Salah satu dampak yang dapat terjadi akibat terlalu sering mengonsumsi minuman manis adalah kenaikan berat badan. Minuman dengan kandungan gula tinggi dapat menyumbang banyak kalori, tetapi tidak selalu membuat seseorang merasa kenyang lebih lama.

Akibatnya, seseorang bisa tetap makan seperti biasa meskipun telah mengonsumsi minuman berkalori tinggi. Jika jumlah kalori yang masuk secara konsisten melebihi kebutuhan tubuh, kelebihan energi tersebut dapat disimpan sebagai lemak.



Untuk mengurangi risiko ini, konsumsi minuman manis sebaiknya dibatasi. Air putih dapat menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari, sedangkan minuman manis sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan setiap kali merasa haus.

2. Berhubungan dengan Risiko Diabetes Tipe Dua

Konsumsi minuman berpemanis secara rutin dalam jumlah tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe dua. Salah satu alasannya adalah asupan gula dan kalori berlebihan dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan, yang merupakan salah satu faktor risiko diabetes.

Diabetes tipe dua terjadi ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif atau tidak mampu menghasilkan insulin yang cukup untuk menjaga kadar gula darah tetap terkendali. Kondisi ini dapat berkembang secara bertahap dan terkadang tidak menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal.

Meski demikian, bukan berarti satu kali mengonsumsi minuman manis akan langsung menyebabkan diabetes. Risiko dipengaruhi oleh pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, berat badan, faktor keturunan, dan kondisi kesehatan lainnya.



3. Dapat Meningkatkan Risiko Kerusakan Gigi

Gula dalam minuman manis juga dapat memengaruhi kesehatan gigi. Bakteri di dalam mulut memanfaatkan gula sebagai sumber energi dan menghasilkan asam yang dapat merusak lapisan enamel gigi.

Jika paparan gula terjadi berulang kali sepanjang hari, risiko terbentuknya gigi berlubang dapat meningkat. Minuman bersoda yang bersifat asam juga berpotensi menyebabkan erosi enamel, bahkan pada produk yang tidak mengandung gula.

Karena itu, mengurangi frekuensi konsumsi minuman manis, menjaga kebersihan gigi, dan menyikat gigi menggunakan pasta gigi berfluoride merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan rongga mulut.

4. Berpotensi Memengaruhi Kesehatan Jantung



Pola konsumsi minuman berpemanis yang tinggi juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Konsumsi gula tambahan berlebihan dapat mendukung kenaikan berat badan dan berhubungan dengan gangguan metabolisme, seperti peningkatan kadar trigliserida.

Dalam jangka panjang, faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Namun, risiko penyakit jantung tidak hanya ditentukan oleh konsumsi minuman manis, melainkan juga dipengaruhi tekanan darah, kadar kolesterol, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, dan faktor lainnya.

Menjaga pola makan seimbang serta membatasi gula tambahan dapat menjadi bagian dari upaya melindungi kesehatan jantung.

5. Membuat Asupan Gula Harian Mudah Berlebihan

Salah satu alasan konsumsi minuman manis perlu diperhatikan adalah jumlah gula di dalamnya terkadang sulit diperkirakan. Minuman berukuran besar, misalnya, dapat mengandung beberapa porsi gula sekaligus, terutama jika ditambahkan sirup, susu kental manis, atau pemanis lainnya.



Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menganjurkan agar asupan gula bebas kurang dari 10 persen total energi harian. Pengurangan hingga di bawah lima persen dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan. Pada pola makan orang dewasa dengan kebutuhan energi sekitar dua ribu kilokalori per hari, batas tersebut setara dengan kurang dari 50 gram gula bebas sehari, dengan sasaran yang lebih rendah sekitar 25 gram.

Gula bebas mencakup gula yang ditambahkan ke makanan dan minuman, serta gula yang secara alami terdapat dalam madu, sirup, dan jus buah. Anjuran tersebut bukan berarti seseorang harus mengonsumsi gula hingga mencapai batas maksimal, melainkan sebaiknya menjaga asupannya serendah mungkin dalam pola makan yang sehat.

Cara Mengurangi Konsumsi Minuman Manis

Mengurangi minuman manis tidak harus dilakukan secara drastis. Langkah sederhana dapat dimulai dengan menjadikan air putih sebagai minuman utama ketika makan atau merasa haus.

Jika terbiasa membeli kopi atau teh manis, cobalah mengurangi jumlah gula secara bertahap. Pilih ukuran minuman yang lebih kecil dan perhatikan informasi kandungan gula pada label kemasan. Jangan lupa memperhitungkan gula dari berbagai sumber lain yang dikonsumsi sepanjang hari.



Minuman dengan label rendah gula atau tanpa gula tambahan juga dapat menjadi pilihan, tetapi tetap periksa komposisinya. Sebagian produk masih mengandung pemanis atau bahan lain yang perlu diperhatikan sesuai kebutuhan kesehatan masing-masing.

Selain itu, konsumsi buah utuh dapat menjadi alternatif ketika ingin menikmati rasa manis. Buah utuh mengandung serat dan umumnya memberikan rasa kenyang lebih baik dibandingkan minuman manis atau jus yang telah kehilangan sebagian seratnya.

Minuman manis tidak harus selalu dihindari sepenuhnya oleh setiap orang, tetapi jumlah dan frekuensi konsumsinya perlu diperhatikan. Kebiasaan mengonsumsi gula tambahan secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, terutama jika disertai pola makan tidak seimbang dan kurang aktivitas fisik.

Dengan membatasi minuman berpemanis, memilih air putih lebih sering, dan menjaga pola hidup aktif, seseorang dapat membantu mengurangi risiko kesehatan sekaligus membangun kebiasaan yang lebih baik untuk jangka panjang.