Selasa, 17 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengupas Filosofi di Balik Anyaman Janur yang Selalu Bikin Kangen Lebaran

Liaa - Tuesday, 17 March 2026 | 12:05 PM

Background
Mengupas Filosofi di Balik Anyaman Janur yang Selalu Bikin Kangen Lebaran

Kenapa Harus Ketupat? Mengupas Filosofi di Balik Anyaman Janur yang Selalu Bikin Kangen Lebaran

Bayangkan ini: Matahari baru saja naik setelah salat Id, aroma opor ayam sudah menusuk hidung dari dapur, dan di atas meja makan, tumpukan benda berbentuk belah ketupat dengan bungkusan janur kuning sudah menunggu untuk dibelah. Rasanya, kalau Lebaran nggak ada ketupat, itu kayak nonton konser musik tapi sound system-nya mati. Ada yang kurang, hambar, dan jujur saja, bikin mood jadi agak "kentang". Tapi, pernah nggak sih kalian kepikiran, kenapa harus ketupat? Kenapa bukan nasi kotak, tumpeng, atau malah roti croisant yang lagi viral itu?

Bagi kita masyarakat Indonesia, ketupat bukan sekadar sumber karbohidrat pendamping rendang. Ketupat adalah simbol, sebuah "pop culture" religius yang sudah mendarah daging. Kalau kita telusuri sejarahnya, ternyata ketupat ini punya cerita yang lumayan panjang dan nggak sembarangan. Ini bukan cuma soal urusan perut, tapi soal strategi dakwah yang jenius dari para pendahulu kita.

Strategi "Marketing" Sunan Kalijaga

Faktanya, ketupat itu identik dengan Lebaran berkat jasa salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Pada abad ke-15 atau 16, beliau memperkenalkan dua istilah yang sampai sekarang masih kita jalankan: Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Nah, Bakda Kupat ini biasanya dirayakan seminggu setelah hari H Lebaran. Di masa itu, Sunan Kalijaga menggunakan ketupat sebagai media dakwah untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa yang saat itu budayanya masih sangat kental dengan kepercayaan lama.

Istilah "Ketupat" atau "Kupat" sendiri dalam bahasa Jawa adalah singkatan dari Ngaku Lepat. Artinya apa? Mengakui kesalahan. Itulah kenapa pas Lebaran kita sibuk sungkeman dan minta maaf ke orang tua, saudara, sampai ke mantan (kalau berani). Filosofinya dalam banget, kan? Jadi, setiap kali kita mengunyah ketupat, sebenarnya kita diingatkan untuk meruntuhkan ego dan mengakui kalau kita ini manusia yang penuh dengan khilaf dan dosa.

Filosofi di Balik Anyaman yang Ribet

Coba deh kalian perhatikan anyaman ketupat. Buat kalian yang pernah coba bikin sendiri tapi akhirnya malah nyerah dan beli yang sudah jadi di pasar, pasti tahu kalau menganyam janur itu nggak gampang. Rumit dan bikin pusing. Nah, kerumitan anyaman itu ternyata ada maknanya. Anyaman yang saling tumpang tindih itu menggambarkan kompleksitas jalan hidup manusia. Kadang di atas, kadang di bawah, kadang muter-muter nggak jelas kayak pikiran pas lagi overthinking.



Tapi, begitu janur itu dibuka, yang terlihat adalah nasi putih yang bersih dan padat. Ini melambangkan kebersihan hati setelah kita melewati bulan Ramadan dan saling memaafkan. Jadi, meskipun hidup ini ribet dan penuh masalah, harapannya hati kita tetap "putih" dan suci kembali. Sebuah pesan moral yang dikemas secara estetik dalam bungkus daun kelapa.

Laku Papat: Empat Tindakan yang Bikin Lebaran Makin Bermakna

Bukan cuma Ngaku Lepat, ketupat juga sering dikaitkan dengan istilah Laku Papat atau empat tindakan. Apa saja itu? Pertama, Lebaran. Berasal dari kata lebar yang artinya selesai atau terbuka. Pintu ampunan terbuka lebar bagi siapa saja. Kedua, Luberan. Artinya meluber atau melimpah. Ini adalah pengingat untuk berbagi rezeki lewat zakat dan sedekah kepada mereka yang kurang mampu.

Ketiga, Leburan. Artinya habis atau melebur. Maksudnya, dosa-dosa dan kesalahan kita selama setahun terakhir dilebur habis lewat momen saling memaafkan. Dan terakhir, Laburan. Kata ini berasal dari kapur atau labur yang berfungsi sebagai pemutih dinding. Laburan melambangkan hati manusia yang kembali putih bersih, tanpa noda dendam atau sakit hati. Bayangkan, satu makanan kecil bernama ketupat bisa mengandung konsep sosiologi dan spiritual selengkap ini.

Kenapa Janur Kuning?

Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa harus janur atau daun kelapa muda yang warnanya kuning kehijauan? Kenapa nggak pakai daun pisang kayak lontong pada umumnya? Secara fungsional, janur itu punya daya tahan yang bagus. Ketupat yang dimasak dengan benar bisa awet selama beberapa hari tanpa basi, cocok banget buat stok makanan saat asisten rumah tangga lagi mudik.

Secara filosofis, janur berasal dari kata Sejatine Nur dalam bahasa Jawa, yang artinya cahaya sejati. Ini merujuk pada kondisi manusia yang kembali ke fitrahnya atau cahayanya setelah sebulan penuh berpuasa. Jadi, setiap elemen dari ketupat itu sebenarnya adalah doa dan harapan yang dibungkus rapi. Keren banget, kan?



Ketupat di Era Sekarang: Lebih dari Sekadar Menu Makan

Di zaman sekarang, ketupat sudah berevolusi. Dia bukan lagi sekadar makanan, tapi sudah jadi ikon visual Lebaran. Dari emoji di WhatsApp sampai hiasan plastik di mal-mal besar, bentuk belah ketupat selalu jadi penanda kalau "The Holidays are coming". Meskipun sekarang banyak yang lebih memilih beli bungkusan ketupat plastik (yang praktis tapi agak kurang estetik menurut saya), esensi kebersamaannya nggak pernah hilang.

Memang sih, ada sedikit perdebatan abadi: lebih enak ketupat atau lontong? Kalau menurut saya pribadi, ketupat punya tekstur yang lebih unik karena dia sedikit lebih padat dan ada aroma khas janur yang meresap ke dalam nasinya. Apalagi kalau sudah diguyur kuah opor yang gurihnya minta ampun atau dipadukan dengan sambal goreng ati. Wah, diet pun seketika hanya tinggal kenangan!

Observasi menarik lainnya, ketupat juga jadi simbol "pencair suasana". Sering kali kita merasa canggung mau minta maaf ke orang yang sudah lama nggak ngobrol sama kita. Nah, dengan alasan "ngantar ketupat", tembok kecanggungan itu bisa langsung runtuh. Ketupat adalah paspor perdamaian yang paling efektif di Indonesia.

Kesimpulan

Jadi, begitulah ceritanya kenapa ketupat begitu identik dengan Lebaran. Ia bukan sekadar tradisi turun-temurun tanpa makna. Di balik anyamannya yang rumit, tersimpan sejarah dakwah kreatif Sunan Kalijaga dan nilai-nilai kemanusiaan yang sangat dalam tentang pengakuan dosa, berbagi rezeki, dan pemurnian hati.

Lebaran tanpa ketupat memang mungkin saja secara teknis, tapi secara rasa dan makna, rasanya ada yang tercerabut dari akar budaya kita. Jadi, buat kalian yang nanti pas Lebaran nemu ketupat di meja makan, jangan cuma fokus di opornya saja ya. Ingat-ingat dikit filosofi Ngaku Lepat-nya, supaya maaf-maafannya nggak cuma di bibir saja, tapi juga tulus dari dalam hati. Selamat merayakan kemenangan, dan jangan lupa sikat habis ketupatnya sebelum kehabisan!