Sabtu, 2 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Hari Pendidikan Nasional: Sudahkah Pendidikan di Indonesia Benar-Benar Merata?

Liaa - Saturday, 02 May 2026 | 04:47 AM

Background
Hari Pendidikan Nasional: Sudahkah Pendidikan di Indonesia Benar-Benar Merata?

Tanggal 2 Mei sering diisi dengan peringatan dan seremoni. Namun jika dilihat lebih dalam, pendidikan di Indonesia masih menyimpan jarak—bukan hanya antar wilayah, tetapi juga antar jenjang pendidikan.


Akses pendidikan: tinggi di awal, menurun di akhir


Data Badan Pusat Statistik tahun 2024 menunjukkan pola yang cukup jelas:




•Usia 7–12 tahun (SD): 99,19% bersekolah


•Usia 13–15 tahun (SMP): 96,17%




•Usia 16–18 tahun (SMA): 74,64%


•Usia 19–23 tahun (perguruan tinggi): 29,01%


Angka ini menunjukkan bahwa hampir semua anak Indonesia masuk sekolah di tingkat dasar. Namun semakin tinggi jenjangnya, semakin banyak yang tidak melanjutkan.




Angka putus sekolah: masih terjadi setiap tahun


Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia tahun 2024 mencatat sekitar:

66.800 anak putus sekolah di seluruh Indonesia




Dengan rincian:

•SD: sekitar 38.500 siswa

•SMP: sekitar 12.200 siswa

•SMA: sekitar 6.700 siswa



•SMK: sekitar 9.300 siswa


Jika dilihat secara persentase, angkanya memang kecil.

Namun secara jumlah absolut, ini berarti puluhan ribu anak kehilangan akses pendidikan setiap tahun.




Pendidikan tinggi: masih belum menjadi jalur mayoritas


Data Badan Pusat Statistik tahun 2024 menunjukkan bahwa:

hanya sekitar 29,01% usia 19–23 tahun yang mengenyam pendidikan tinggi.

Dan, proporsi lulusan perguruan tinggi di masyarakat masih relatif rendah (kisaran belasan persen dari populasi dewasa).



Artinya, lulusan sarjana masih menjadi kelompok minoritas dalam struktur pendidikan nasional.


Kenapa banyak yang tidak melanjutkan?


Beberapa faktor utama yang tercermin dari berbagai data nasional antara lain:



1.Faktor ekonomi

Semakin tinggi jenjang pendidikan, biaya yang dibutuhkan juga meningkat. Pada usia 16 tahun ke atas, banyak individu mulai masuk ke dunia kerja atau membantu ekonomi keluarga, sehingga pendidikan tidak lagi menjadi prioritas utama.


2.Akses dan infrastruktur

Di beberapa wilayah, terutama luar kota besar:



•akses ke sekolah menengah dan perguruan tinggi terbatas

•jarak tempuh jauh

•fasilitas pendidikan tidak merata


3.Transisi ke dunia kerja



Data Badan Pusat Statistik tahun 2024 menunjukkan bahwa pada usia produktif muda, sebagian masyarakat mulai beralih dari pendidikan ke aktivitas ekonomi.


Realita yang sering tidak terlihat


Di kota besar, pendidikan terasa sebagai sesuatu yang mudah diakses. Sekolah tersedia, fasilitas memadai, dan pilihan beragam.




Namun di banyak daerah lain, kondisi berbeda masih terjadi:

•sekolah terbatas

•tenaga pengajar tidak merata

•fasilitas belajar tidak setara




Perbedaan ini menciptakan kesenjangan yang tidak selalu terlihat, tetapi nyata.


Makna Hari Pendidikan Nasional hari ini

Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada peringatan simbolis. Ia menjadi momen untuk melihat kondisi pendidikan secara lebih jujur, berbasis data.




Pertanyaan yang relevan untuk diajukan hari ini:

•apakah semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar?


•apakah kualitas pendidikan sudah merata di seluruh wilayah?




Sudah 81 tahun Indonesia merdeka,namun pemerataan pendidikan masih menjadi pekerjaan besar yang belum selesai.