Kamis, 16 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengintip Persiapan NASA Untuk Misi Kembali ke Bulan

Nanda - Tuesday, 14 April 2026 | 09:20 AM

Background
Mengintip Persiapan NASA Untuk Misi Kembali ke Bulan

Mengulik Misi Artemis II yang Bakal Bikin Sejarah Baru

Pernah nggak sih kalian bengong menatap Bulan di malam hari sambil mikir, "Kapan ya manusia balik lagi ke sana?" Kalau jawaban kalian "pernah banget," berarti kita satu frekuensi. Selama ini kita cuma disuguhin rekaman hitam putih tahun 1969 atau film-film fiksi ilmiah yang isinya alien serem. Tapi, penantian panjang itu kayaknya bakal segera berakhir. Bukan cuma sekadar rencana di atas kertas atau omong kosong pejabat, NASA lewat program Artemis-nya beneran lagi manasin mesin buat balik lagi ke tetangga terdekat Bumi itu.

Nah, yang paling dekat dan paling bikin deg-degan sekarang adalah misi Artemis II. Kalau Artemis I kemarin sukses terbang tanpa orang (cuma bawa boneka doang, kasihan ya), di misi kedua ini manusia beneran bakal duduk manis di dalam kapsul. Tapi jangan salah sangka dulu, mereka belum bakal mendarat dan main bola di sana. Artemis II ini ibarat test drive jarak jauh buat mastiin semuanya aman sebelum nantinya kita beneran bikin kos-kosan di Bulan.

Bukan Sekadar Nostalgia Apollo

Mungkin ada yang nyeletuk, "Ngapain sih ke Bulan lagi? Kan udah pernah?" Eits, tunggu dulu. Artemis II ini beda kelas sama misi Apollo jaman kakek-nenek kita dulu. Kalau dulu motivasinya lebih ke arah persaingan politik "siapa yang paling jago" antara Amerika sama Uni Soviet, sekarang misinya jauh lebih dalam. Kita ke sana buat belajar caranya bertahan hidup di luar angkasa dalam jangka waktu lama.

Gimana nggak keren? Artemis II bakal jadi penerbangan berawak pertama yang keluar dari orbit rendah Bumi sejak misi Apollo 17 di tahun 1972. Bayangin, udah lebih dari 50 tahun nggak ada manusia yang main sejauh itu. Jaraknya nggak main-main, mereka bakal menempuh perjalanan sekitar 370.000 kilometer dari Bumi. Kalau naik ojek online, mungkin tarifnya bisa buat beli satu provinsi kali ya.

Mengenal Tim "The Avengers" Versi Dunia Nyata

NASA nggak sembarangan pilih orang buat misi sesakral ini. Ada empat astronot yang terpilih, dan mereka ini benar-benar representasi wajah dunia masa kini. Ada Reid Wiseman sebagai komandan, Victor Glover sebagai pilot, serta dua spesialis misi, Christina Koch dan Jeremy Hansen.



Yang bikin bangga, Victor Glover bakal jadi orang kulit hitam pertama, dan Christina Koch bakal jadi perempuan pertama yang terbang sejauh itu ke ruang angkasa. Ini bukan cuma soal keberagaman biar kelihatan keren di media sosial, tapi soal pembuktian kalau ruang angkasa itu milik semua orang, bukan cuma milik segelintir kaum tertentu. Jeremy Hansen juga menarik perhatian karena dia berasal dari Kanada, menandakan kalau eksplorasi ini adalah kerja keras kolektif umat manusia.

Gaya kepemimpinan mereka juga beda. Mereka bukan tipu-tipu astronot kaku yang bicaranya kayak robot. Kalau kalian lihat wawancara mereka, vibes-nya lebih kayak kakak kelas yang pinter tapi asyik diajak nongkrong. Mereka sadar kalau nyawa mereka jadi taruhan, tapi semangat buat memajukan ilmu pengetahuan jauh lebih besar daripada rasa takutnya.

Kendaraan Mewah Bernama Orion dan SLS

Kalau kita mau mudik, mungkin kita sibuk cek oli mobil atau pesan tiket kereta. Tapi buat tim Artemis II, kendaraan mereka adalah kombinasi dari Space Launch System (SLS) dan kapsul Orion. SLS ini disebut-sebut sebagai roket paling kuat yang pernah dibuat manusia. Bayangin aja, tenaga dorongnya pas lepas landas itu luar biasa dahsyat, sampai-sampai bisa bikin getar gedung-gedung di sekitarnya.

Di atas roket monster itu, ada kapsul Orion yang bakal jadi rumah sementara buat keempat astronot selama sekitar 10 hari. Ruangannya sempit? Jelas. Jangan bayangin kayak apartemen studio di Jakarta. Di sana mereka harus berbagi ruang yang sangat terbatas buat makan, tidur, olahraga, sampai buang air. Tapi fasilitas di dalamnya sudah pakai teknologi paling mutakhir. Sistem pendukung kehidupannya dirancang buat nahan radiasi ruang angkasa yang jahat banget buat tubuh manusia.

Rute Perjalanan: Cuma Lewat, Nggak Mampir

Strategi Artemis II ini sering disebut sebagai "Lunar Flyby". Jadi, polanya bukan langsung tancap gas ke permukaan Bulan. Setelah meluncur dari Kennedy Space Center di Florida, mereka bakal mengorbit Bumi dulu buat ngecek apakah semua sistem berfungsi normal. Kalau ada yang eror, mending ketahuan pas masih dekat rumah, kan?



Setelah oke, baru deh Orion bakal melesat ke arah Bulan. Mereka bakal muterin sisi jauh Bulan (yang sering disebut sisi gelap, padahal mah nggak gelap-gelap banget) dan memanfaatkan gravitasi Bulan buat "melempar" mereka balik lagi ke Bumi. Teknik ini namanya free-return trajectory. Jadi, kalau misalnya mesin mereka mati total di tengah jalan, gravitasi bakal otomatis bawa mereka pulang. Aman, kan? Kayak jalan pulang yang udah dihafal di luar kepala.

Kenapa Kita Harus Peduli?

Mungkin banyak yang mikir, "Ah, mending duitnya buat benerin jalan rusak atau beli seblak." Ya nggak salah sih. Tapi, eksplorasi luar angkasa itu investasi jangka panjang. Banyak teknologi yang kita pakai sehari-hari sekarang kayak GPS, kamera HP yang makin canggih, sampai material tahan panas itu awalnya dikembangin buat misi luar angkasa.

Artemis II adalah batu loncatan. Tanpa misi ini, jangan harap kita bisa melihat manusia mendarat lagi di Bulan lewat Artemis III, apalagi mimpi buat pergi ke Mars. Bulan itu kayak "basecamp" sebelum kita mendaki gunung yang lebih tinggi. Kita belajar manajemen air, oksigen, dan mental di sana.

Selain itu, ada sisi puitisnya juga sih. Di tengah dunia yang lagi banyak konflik dan berisik sama urusan politik, melihat manusia dari berbagai latar belakang bekerja sama buat pergi ke benda langit yang sama sejak zaman purba itu rasanya menyejukkan. Kayak ada pengingat kalau kita ini cuma titik kecil di alam semesta, jadi ya mbok jangan berantem mulu.

Menanti Detik-Detik Peluncuran

Rencananya, Artemis II bakal meluncur sekitar akhir tahun 2025 (kalau nggak ada kendala teknis atau cuaca ya, namanya juga teknologi rumit). Jadi, buat kalian yang hobi nonton live streaming, pastikan kuota internet aman pas hari-H nanti. Ini bakal jadi momen bersejarah yang bakal diceritain ke anak cucu nanti.



Misi Artemis II bukan cuma soal roket besar atau astronot keren. Ini adalah bukti kalau rasa penasaran manusia itu nggak ada batasnya. Kita selalu pengen tahu apa yang ada di balik cakrawala. Dan kali ini, kita nggak cuma sekadar ngintip, tapi beneran berangkat buat menyapa sang Bulan dari jarak dekat. Jadi, sudah siap melihat manusia kembali jadi pengelana bintang?