Mengenal Perjalanan Karier Tulus di Dunia Musik
Liaa - Wednesday, 09 September 2026 | 07:05 PM


Tulus: Dari Arsitek Hingga Jadi Teman Hidup Lewat Lirik-Lirik Ajaib
Siapa sih yang nggak kenal Tulus? Pria kelahiran Bukittinggi yang punya suara sejuk kayak ubin masjid di siang bolong ini sudah jadi bagian dari playlist galau maupun bahagia kita selama lebih dari satu dekade. Kalau kita bicara soal industri musik Indonesia, nama Tulus itu ibarat oase. Di tengah gempuran musik yang kadang terlalu berisik atau terlalu maksa buat viral, Tulus datang dengan kesederhanaan yang justru nancep banget di hati. Tapi, tahu nggak sih kalau perjalanan karier Muhammad Tulus itu nggak langsung semulus jalan tol yang baru diresmikan?
Jauh sebelum dia memenuhi panggung-panggung festival besar, Tulus sebenarnya punya latar belakang yang cukup jauh dari dunia tarik suara secara profesional. Dia adalah lulusan Arsitektur dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Mungkin itu sebabnya, lagu-lagu Tulus punya struktur yang kokoh. Dia nggak cuma "nyanyi", tapi dia "membangun" sebuah narasi dalam setiap baitnya. Ada presisi dalam pemilihan kata-katanya yang puitis tapi nggak bikin kita dahi berkerut karena kebingungan.
Langkah Kaki yang Berawal dari Jalur Independen
Tulus memulai debutnya pada tahun 2011. Waktu itu, tren musik kita masih didominasi oleh band-band melayu atau penyanyi solo yang kiblatnya sangat pop-mainstream. Tulus muncul dengan album "Self-Titled" yang diproduseri oleh Ari Renaldi. Menariknya, Tulus nggak bernaung di bawah label raksasa. Dia bareng kakaknya, Riri Muktamar, mendirikan TulusCompany. Ini adalah bukti kalau dia memang punya visi yang jelas soal musik yang ingin dia sampaikan. Dia nggak mau disetir oleh pasar; dia justru yang menciptakan pasarnya sendiri.
Lagu "Sewindu" adalah gerbang utama yang memperkenalkan kita pada gaya bercerita Tulus yang unik. Liriknya sederhana, tentang seseorang yang sudah menunggu lama tapi ternyata cuma dianggap teman. Klasik banget, kan? Tapi di tangan Tulus, rasa "friendzone" itu naik kelas jadi sesuatu yang elegan. Belum lagi lagu "Teman Hidup" yang sampai sekarang masih sering jadi lagu wajib di kondangan-kondangan karena maknanya yang dalem tapi nggak gombal murahan.
Transformasi Menjadi "Gajah" yang Tangguh
Memasuki album kedua bertajuk Gajah (2014), karier Tulus makin melesat. Judul album ini sebenarnya punya cerita yang cukup personal sekaligus mengharukan. Waktu kecil, Tulus sering dipanggil "Gajah" oleh teman-temannya karena postur tubuhnya yang bongsor. Alih-alih merasa minder atau marah, Tulus justru memeluk julukan itu dan menjadikannya sebuah karya yang megah. Dia membuktikan kalau apa yang dulu dianggap kekurangan, bisa jadi kekuatan besar kalau kita tahu cara mengolahnya.
Di album ini, Tulus mulai bereksperimen dengan aransemen yang lebih berani. Ada lagu "Sepatu" yang metaforanya jenius banget—tentang dua orang yang selalu bersama tapi nggak pernah bisa bersatu. Jujur ya, siapa sih yang kepikiran bikin lagu cinta pake perspektif sepatu? Cuma Tulus yang bisa bikin kita baper sambil mikirin alas kaki.
Eksplorasi Tanpa Batas di Monokrom dan Manusia
Tulus bukan tipe musisi yang cepat puas. Di album Monokrom (2016), dia makin menunjukkan kematangannya. Lagu "Manusia Kuat" atau "Langit Musik" menunjukkan sisi optimis yang luar biasa. Di sini, Tulus seolah ingin bilang kalau musiknya nggak cuma soal cinta-cintaan yang mendayu, tapi juga soal semangat hidup. Dia juga sempat menggelar konser Monokrom yang tiketnya ludes dalam hitungan menit—sebuah pencapaian yang membuktikan kalau basis penggemarnya, Teman Tulus, itu solid banget.
Lalu, puncaknya terjadi pada tahun 2022 saat dia merilis album Manusia. Lagu "Hati-Hati di Jalan" benar-benar jadi fenomena nasional. Lagu ini memecahkan berbagai rekor di Spotify dan bahkan masuk ke tangga lagu global. Padahal kalau didengerin, liriknya itu sangat "Indonesia banget". Penggunaan bahasa yang baku namun tetap luwes bikin lagu itu terasa sangat dekat dengan keseharian kita. Tulus berhasil membuktikan kalau kita nggak perlu pakai bahasa Inggris biar kelihatan keren atau go international; identitas lokal kalau digarap serius justru punya daya magis yang luar biasa.
Kenapa Tulus Begitu Dicintai?
Kalau kita amati, ada beberapa alasan kenapa Tulus tetap relevan meski tren musik silih berganti. Pertama, kejujuran dalam lirik. Dia nggak berusaha jadi orang lain. Dia menulis apa yang dia rasakan dengan diksi yang jarang dipakai musisi lain tapi terasa akrab di telinga. Kedua, konsistensi visual. Dari dulu sampai sekarang, estetika Tulus itu minimalis, bersih, dan berkelas. Nggak perlu banyak gimmick, cukup berdiri di depan mik dengan jas rapi, auranya sudah keluar.
Selain itu, Tulus adalah sosok yang rendah hati. Meski sudah punya segudang piala dari ajang penghargaan musik, dia tetap terlihat seperti pria biasa yang hanya ingin bercerita lewat lagu. Observasi saya sih, Tulus itu tipe musisi yang menghargai pendengarnya. Dia nggak cuma ngasih hiburan, tapi dia ngasih "teman" buat kita yang lagi merasa kesepian atau sedang butuh pengingat untuk tetap kuat.
Kesimpulannya, perjalanan karier Tulus adalah pengingat bagi kita semua bahwa proses itu nggak ada yang instan. Dari seorang mahasiswa arsitektur yang berani rilis album secara independen, hingga jadi salah satu solois pria terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Dia mengajarkan kita kalau menjadi diri sendiri—dengan segala kekurangan dan keunikan kita—adalah kunci utama untuk menciptakan sesuatu yang abadi. Jadi, lagu Tulus mana yang paling sering kamu putar kalau lagi terjebak macet atau lagi kangen seseorang?
Next News

Adam Levine dan Maroon 5, Duet Nama yang Melekat di Dunia Musik
6 hours ago

Makna Lagu "One Less Lonely Girl" Justin Bieber, Kisah tentang Perhatian dan Menemukan Seseorang yang Istimewa
8 hours ago

Deretan Lagu Maroon 5 yang Sering Menghiasi Playlist Pecinta Musik
8 hours ago

Mengenal Maroon 5, Band Pop Rock yang Punya Banyak Lagu Hits
8 hours ago

Deretan Lagu Tapsel yang Cocok Didengarkan Saat Rindu Kampung Halaman
in 4 hours

Keunikan Gaya Bernyanyi Tulus
a day ago

Mengapa Lagu Maher Zain Sering Menghiasi Momen Ramadan? Ini Alasannya
9 days ago

MMG (My Mine Gueh) Naykilla: Lagu Cinta Gen Z yang Mengubah Rasa Bucin Jadi Lebih Estetik
a month ago

Makna Lagu Berakhir di Aku dari Idgitaf yang Menguras Emosi
a month ago

Fenomena Lagu yang Tiba-Tiba Viral Kembali
2 months ago





