Kamis, 10 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Musik

Deretan Lagu Tapsel yang Cocok Didengarkan Saat Rindu Kampung Halaman

Liaa - Thursday, 10 September 2026 | 01:45 PM

Background
Deretan Lagu Tapsel yang Cocok Didengarkan Saat Rindu Kampung Halaman

Nostalgia Maut: Deretan Lagu Tapsel yang Bikin Anak Rantau Auto Pengen Pulang

Pernah nggak sih, pas lagi asyik-asyiknya berjibaku dengan kemacetan Jakarta atau lagi bengong di pojokan kosan di Bandung, tiba-tiba telinga kamu menangkap sayup-sayup suara keyboard "tong-tet-tong" khas musik daerah? Buat para pejuang hidup alias anak rantau dari Sumatera Utara, khususnya daerah Tapanuli Selatan (Tapsel), Padangsidimpuan, Mandailing Natal, hingga Paluta dan Palas, suara itu bukan sekadar musik. Itu adalah alarm darurat yang bikin hati langsung bergetar, mata mulai berkaca-kaca, dan perut mendadak lapar pengen makan daun ubi tumbuk.

Musik Tapsel itu unik. Dia punya magis tersendiri yang bisa mengubah suasana hati dalam sekejap. Liriknya yang blak-blakan, nadanya yang kadang melow mendayu tapi sering juga bikin kaki pengen goyang tipis-tipis, adalah obat paling manjur sekaligus racun paling mematikan buat yang lagi rindu kampung halaman. Nah, biar rindumu makin terorganisir, yuk kita bahas deretan lagu Tapsel yang wajib masuk playlist kalau kamu lagi kangen berat sama "Huta".

1. Ketabo-Ketabo: Lagu Kebangsaan Sejuta Umat

Kalau kita ngomongin lagu Tapsel, haram hukumnya kalau nggak masukin "Ketabo-Ketabo" di urutan pertama. Lagu legendaris ciptaan Nahum Situmorang ini sudah kayak lagu kebangsaan bagi orang Sidimpuan dan sekitarnya. Liriknya yang bercerita tentang ajakan untuk pergi ke Sidimpuan, beli salak, dan melihat pemandangan kota, itu benar-benar "damage"-nya nggak main-main.

Dengar lagu ini di perantauan tuh rasanya kayak lagi naik bus ALS atau Sipirok Nauli yang lagi melaju kencang di lintas Sumatera. Ada semangat, ada keceriaan, tapi di balik itu ada rasa rindu yang nyesak. "Ketabo ketabo ke Sidimpuan..." Begitu dengar bait itu, memori tentang hiruk pikuk pasar Sangkumpal Bonang atau dinginnya udara di kaki Gunung Lubuk Raya langsung terputar otomatis di kepala.

2. Ulang Lupa Tu Huta: Tamparan Keras Buat Si Tukang Lupa

Judulnya saja sudah "Jangan Lupa pada Kampung Halaman". Lagu ini biasanya punya beat yang agak santai tapi liriknya cukup "pedas" buat menyentil para perantau yang mungkin sudah mulai lupa daratan karena keasyikan cari cuan di kota orang. Lagu-lagu dengan tema seperti ini biasanya sering dibawakan oleh penyanyi-penyanyi pop Tapsel kekinian dengan aransemen musik keyboard yang lebih modern.



Esensi dari lagu ini adalah pengingat. Sejauh apa pun langkah kaki membawa kita, sekeren apa pun gaya hidup kita sekarang, ada orang tua dan sanak saudara yang nungguin kita pulang. Mendengarkan lagu ini pas lagi capek-capeknya kerja itu rasanya kayak diingatkan sama "Nantulang" di kampung kalau sukses itu bukan cuma soal uang, tapi soal nggak lupa dari mana kita berasal.

3. Tarsongon Bunga: Romantisme Klasik yang Bikin Galau

Siapa yang nggak tahu lagu ini? Lagu ini adalah salah satu masterpiece yang sering diputar di pesta-pesta adat maupun di angkot-angkot jurusan Panyabungan-Sidimpuan. Liriknya menceritakan tentang perasaan cinta yang diibaratkan seperti bunga yang layu. Tapi kalau kita dengarkan di tanah rantau, maknanya bisa jadi lebih luas.

Suara penyanyinya yang biasanya punya cengkok khas Mandailing itu lho, yang bikin hati rasanya kayak disayat-sayat pakai silet tajam. Ada kesan melankolis yang sangat dalam. Lagu ini cocok banget diputar pas hujan turun di malam hari, sambil lihat foto-foto lama di galeri HP. Hati-hati saja, dosis rindu bisa naik berkali-kali lipat setelah mendengarkan lagu ini sampai habis.

4. O Duma: Lagu Wajib di Acara Karaoke Keluarga

Oke, mungkin "O Duma" sering dianggap sebagai lagu Batak secara umum, tapi pengaruhnya di wilayah Tapsel dan Mandailing itu luar biasa besar. Lagu ini punya kekuatan magis untuk menyatukan semua orang. Liriknya yang bercerita tentang kerinduan mendalam kepada kekasih hati bernama Duma ini sering dipelesetkan oleh anak rantau sebagai kerinduan kepada kampung halaman itu sendiri.

Daya tarik utama lagu ini adalah nadanya yang megah dan penuh emosi. Kalau kalian lagi kumpul sama sesama perantau asal Tapsel, coba deh setel lagu ini. Dijamin, semuanya bakal ikut nyanyi sambil teriak-teriak nggak jelas buat meluapkan semua beban pikiran selama di rantau. Ini adalah lagu "healing" versi kearifan lokal.



5. Songon Bianglala: Warna-warni Kenangan

Penyanyi seperti Farro Simamora atau Dedi Gunawan sering banget membawakan lagu-lagu dengan judul dan tema yang puitis seperti ini. "Songon Bianglala" atau seperti pelangi, menggambarkan kenangan masa kecil di kampung yang penuh warna. Mulai dari mandi-mandi di sungai, main di sawah, sampai momen-momen sederhana bareng teman sekolah.

Mendengarkan lagu ini bikin kita sadar kalau masa-masa di kampung dulu adalah masa yang paling jujur dan bahagia. Nggak ada tekanan target dari atasan, nggak ada drama politik kantor, yang ada cuma tawa dan persaudaraan yang kental. Lagu-lagu pop Tapsel yang lebih modern seperti ini biasanya punya musik yang lebih *easy listening* tapi tetap nggak menghilangkan identitas tradisionalnya.

Kenapa Musik Tapsel Begitu Membekas?

Mungkin ada yang tanya, kenapa sih lagu daerah itu kalau didengar di perantauan efeknya beda banget sama lagu pop biasa? Jawabannya sederhana: Identitas. Musik Tapsel itu membawa serta aroma tanah, suara angin di kebun karet, dan kehangatan masakan ibu yang nggak akan pernah bisa digantikan oleh restoran bintang lima mana pun di Jakarta.

Setiap dentuman musiknya mengingatkan kita pada acara "horja" (pesta adat) di mana semua orang berkumpul, makan bersama di atas daun pisang, dan saling bercerita tanpa ada batasan sosial. Musik Tapsel adalah tali pengikat yang menjaga kita agar tetap punya akar, meskipun dahan kita sudah tumbuh jauh melintasi lautan.

Penutup: Pulanglah Meski Hanya Lewat Lagu

Buat kamu yang sekarang lagi duduk di depan laptop, atau lagi desak-desakan di KRL, nggak ada salahnya sesekali pasang earphone dan putar daftar lagu di atas. Biarkan pikiranmu terbang sejenak melintasi Bukit Barisan, menuju lembah-lembah hijau di Tapanuli Selatan. Biarkan rindu itu mengalir, jangan ditahan.



Sebab, rindu kampung halaman itu sehat. Itu tandanya kamu masih punya tempat untuk kembali, kamu masih punya alasan untuk terus berjuang. Kalau tahun ini belum bisa mudik secara fisik, setidaknya mudiklah lewat nada-nada indah lagu Tapsel. Percayalah, setelah mendengarkan "Ketabo-Ketabo", semangatmu buat cari ongkos pulang pasti bakal berkobar lagi. Horas, tondi madingin pir ma tondi matogu!

Tags