Kamis, 28 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengenal Asal Usul Keringat: Mekanisme Alami Tubuh dalam Mengatur Suhu dan Emosi

Laila - Thursday, 28 May 2026 | 07:20 PM

Background
Mengenal Asal Usul Keringat: Mekanisme Alami Tubuh dalam Mengatur Suhu dan Emosi

Menyingkap Rahasia di Balik Tubuh yang Bocor: Keringat Itu Sebenernya Datang dari Mana, Sih?

Pernah nggak sih lo lagi asyik nongkrong di kafe semi-outdoor pas siang bolong, terus tiba-tiba ngerasa ada aliran sungai kecil yang mengalir pelan di punggung? Atau pas lagi panik gara-gara ditanya kapan nikah sama saudara jauh, tiba-tiba telapak tangan lo jadi basah kuyup kayak abis nyuci piring? Fenomena "tubuh bocor" alias keringatan ini emang udah jadi makanan sehari-hari kita sebagai manusia yang tinggal di negara tropis dengan kelembapan tingkat dewa.

Keringat sering banget dapet reputasi buruk. Dia dianggap pengganggu penampilan, bikin baju kuning di bagian ketiak, sampe bikin pede terjun bebas gara-gara bau matahari. Tapi, pernah nggak lo kepikiran, itu air datengnya dari mana? Kok bisa sih kulit kita yang keliatannya rapet banget ini tiba-tiba ngeluarin air? Apakah di dalem tubuh kita ada tandon air raksasa yang siap bocor kapan aja? Yuk, kita bedah misteri si cairan asin ini dengan gaya santai.

Pabrik Keringat: Bukan Sihir, Tapi Kelenjar

Keringat itu nggak muncul secara gaib. Di bawah lapisan kulit kita yang mulus (atau yang sering lo skincare-in itu), ada jutaan unit "pabrik" kecil yang namanya kelenjar keringat. Manusia rata-rata punya sekitar dua sampe empat juta kelenjar keringat di seluruh tubuhnya. Bayangin, itu jumlah yang banyak banget, hampir sebanyak cicilan yang belum lunas!

Nah, kelenjar ini nggak cuma satu jenis. Secara garis besar, ada dua pemain utama dalam urusan per-keringat-an ini: Kelenjar Ekrin dan Kelenjar Apokrin. Mari kita kenalan sama mereka satu per satu biar lo nggak salah sangka.

Pertama, ada Kelenjar Ekrin. Ini adalah tipe kelenjar yang paling rajin dan tersebar di hampir seluruh permukaan kulit, mulai dari jidat, punggung, sampe telapak kaki. Kelenjar ekrin ini langsung bermuara ke permukaan kulit. Air yang dikeluarin biasanya jernih, nggak berbau, dan isinya mayoritas air plus sedikit garam (makanya kalau nggak sengaja masuk mulut, rasanya asin-asin gimana gitu). Tugas utama si Ekrin ini simpel: jadi radiator alami tubuh biar kita nggak overheat pas cuaca lagi panas-panasnya.



Kedua, ada Kelenjar Apokrin. Nah, yang satu ini agak lebih "eksklusif" tempatnya. Dia biasanya ngumpul di area yang banyak rambutnya, kayak ketiak atau area lipatan tubuh lainnya. Berbeda sama Ekrin, Kelenjar Apokrin ini baru aktif pas kita masuk masa pubertas. Cairan yang dihasilkan juga lebih kental dan mengandung lemak serta protein. Si Apokrin inilah yang sering dituduh jadi biang kerok bau badan, padahal sebenernya dia mah polos aja, cuma lingkungannya aja yang bikin dia jadi "toxic".

Gimana Caranya Tubuh Tahu Kapan Harus 'Bocor'?

Bayangin tubuh kita punya pusat kontrol yang canggih banget, namanya hipotalamus. Bagian di otak ini fungsinya kayak termostat di AC kamar lo. Pas suhu lingkungan naik, atau pas lo lagi lari-lari ngejar angkot, suhu inti tubuh lo bakal naik juga. Di sinilah hipotalamus beraksi.

Dia bakal ngirim sinyal lewat sistem saraf ke kelenjar-kelenjar keringat tadi, "Woi, panas nih! Keluarin air sekarang!" Kelenjar itu pun langsung memompa cairan keluar ke permukaan kulit. Begitu keringat itu sampai di kulit dan kena angin, dia bakal menguap. Proses penguapan (evaporasi) inilah yang sebenernya bikin suhu tubuh kita turun dan kita ngerasa adem lagi. Jadi, keringat itu sebenernya adalah sistem pendingin paling canggih yang pernah diciptakan alam.

Tapi, keringat nggak cuma urusan suhu doang. Kenapa pas kita lagi deg-degan mau presentasi atau lagi dikagetin setan di film horor, tangan kita langsung basah? Itu namanya keringat emosional. Tubuh kita bereaksi terhadap stres dengan memicu saraf simpatik, yang ujung-ujungnya nyuruh kelenjar keringat (terutama di telapak tangan dan ketiak) buat kerja lembur. Jadi, kalau gebetan lo megang tangan lo dan kerasa basah, jangan ilfeel dulu. Itu tandanya dia lagi deg-degan parah karena lo!

Mitos Bau Keringat: Jangan Salahin Airnya!

Ini nih salah kaprah yang paling sering terjadi. Banyak yang bilang "Duh, keringat gue bau banget." Padahal faktanya, keringat itu aslinya nggak ada baunya sama sekali. Mau yang dari kelenjar ekrin atau apokrin, awalnya tuh tawar-tawar aja aromanya (tapi jangan dicobain juga ya).



Yang bikin bau itu sebenernya adalah bakteri-bakteri nakal yang nongkrong di kulit kita. Pas keringat dari kelenjar apokrin (yang kaya lemak dan protein tadi) keluar, bakteri-bakteri ini ngerasa dapet prasmanan gratis. Mereka makanin zat-zat di keringat itu, dan hasil proses metabolisme mereka itulah yang ngeluarin aroma "ajaib" alias bau badan. Jadi, kalau lo mau wangi, kuncinya bukan cuma ngurangin keringat, tapi juga jaga kebersihan biar bakteri nggak betah berlama-lama di kulit lo.

Kenapa Kita Harus Bersyukur Bisa Keringatan?

Mungkin ada kalanya kita ngerasa iri sama orang yang kayaknya jarang banget keringatan, tetep rapi meski cuaca lagi membara. Tapi jujur deh, nggak bisa keringatan itu malah bahaya, lho. Ada kondisi medis yang namanya anhidrosis, di mana seseorang nggak bisa ngeluarin keringat secara normal. Akibatnya? Mereka gampang banget pingsan atau kena heatstroke karena tubuhnya nggak punya cara buat buang panas.

Keringat itu juga jadi tanda kalau metabolisme tubuh lo bekerja dengan baik. Selain mendinginkan suhu, keringat juga membantu ngeluarin sedikit zat sisa dari tubuh, meskipun nggak sebanyak lewat urin atau BAB ya. Keringat juga bisa dibilang sebagai "moisturizer" alami yang menjaga tekstur kulit kita nggak terlalu kering kerontang.

Jadi, mulai sekarang, kalau lo ngerasa baju lo mulai basah pas lagi jalan kaki di bawah sinar matahari, jangan langsung ngeluh "Apes banget hari ini." Coba liat dari sisi lain: itu artinya otak lo lagi kerja keras, kelenjar lo lagi sehat, dan sistem pendingin lo lagi berfungsi optimal. Daripada malu karena burket, mending kita bawa baju ganti atau sedia deodoran yang oke, kan?

Intinya, keringat itu bukan sekadar air sisa. Dia adalah bukti nyata betapa canggihnya tubuh manusia merespons lingkungan. Dia adalah mekanisme bertahan hidup yang dibalut dengan sedikit rasa risih. Jadi, yuk lebih damai sama keringat sendiri. Toh, tanpa dia, kita mungkin udah "melepuh" sejak lama kena panasnya kenyataan hidup ini.