Senin, 10 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengenal Anoreksia Nervosa: Bukan Sekadar Diet Ketat, Ini Gejala dan Cara Mendapatkan Bantuan

Tata - Monday, 10 August 2026 | 06:50 PM

Background
Mengenal Anoreksia Nervosa: Bukan Sekadar Diet Ketat, Ini Gejala dan Cara Mendapatkan Bantuan

Mengenal Anoreksia: Bukan Sekadar Diet Ketat, Tapi Perang di Dalam Kepala

Pernah nggak sih kamu lagi asyik scrolling TikTok atau Instagram, terus tiba-tiba lewat video "What I Eat in a Day" yang porsinya cuma seupil, atau ngelihat influencer dengan badan yang "body goals" banget sampai bikin kamu insecure? Di dunia yang serba visual ini, standar kecantikan seringkali jadi beban yang beratnya melebihi beban hidup itu sendiri. Akhirnya, banyak dari kita yang terjebak dalam obsesi pengen kurus. Tapi, ada satu titik di mana keinginan buat langsing berubah jadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya, yaitu Anoreksia Nervosa.

Jujur aja, banyak orang yang masih salah kaprah dan nganggep anoreksia itu cuma "diet yang kebablasan". Padahal, kenyataannya nggak sesederhana itu. Anoreksia itu bukan cuma soal makanan, tapi soal kesehatan mental yang lagi nggak baik-baik aja. Ini adalah gangguan makan yang bikin penderitanya punya ketakutan luar biasa sama kenaikan berat badan, sampai-sampai mereka ngelihat diri mereka di cermin jauh lebih gemuk daripada kenyataannya. Anoreksia itu kayak punya "bisikan" di kepala yang terus-terusan bilang kalau kamu nggak boleh makan, dan kontrol atas makanan adalah satu-satunya cara buat merasa aman.

Gejala yang Sering Nggak Disadari

Kalau kita ngomongin gejala anoreksia, bayangan pertama yang muncul pasti orang yang tinggal tulang dibalut kulit. Tapi sebenernya, gejalanya udah muncul jauh sebelum fisiknya berubah drastis. Secara emosional, penderita biasanya mulai obsesif banget sama kalori. Mereka bakal hafal di luar kepala kalori sebutir kurma atau sepotong kerupuk. Nggak cuma itu, mereka sering banget bohong kalau ditanya udah makan apa belum. "Udah kok tadi di luar," padahal perutnya udah konser karena laper banget.

Secara perilaku, kamu mungkin bakal ngelihat mereka punya ritual makan yang aneh. Misalnya, motong makanan jadi kecil-kecil banget atau muter-muterin makanan di piring biar kelihatan kayak udah dimakan banyak. Ada juga yang mendadak jadi hobi olahraga gila-gilaan, pokoknya harus bakar kalori sebanyak mungkin terlepas dari kondisi badannya yang udah lemes. Secara fisik, tanda-tandanya mulai dari rambut yang rontok parah, kulit kering kekuningan, sampai sering merasa kedinginan padahal cuaca lagi panas-panasnya. Buat yang perempuan, siklus menstruasi biasanya bakal kacau atau malah berhenti total.

Kenapa Sih Bisa Kena Anoreksia?

Nggak ada satu penyebab tunggal kenapa seseorang bisa terjebak di lubang hitam ini. Biasanya, ini adalah kombinasi dari genetik, lingkungan, dan psikologis. Secara genetik, emang ada beberapa orang yang secara biologis lebih rentan kena gangguan makan. Tapi faktor lingkungan biasanya jadi pemicu paling kenceng. Coba bayangin, dari kecil kita dicekoki sama iklan-iklan yang bilang kalau cantik itu harus putih dan langsing. Standar ini masuk ke alam bawah sadar kita dan bikin kita ngerasa "kurang" kalau nggak sesuai sama standar itu.



Selain itu, orang dengan kepribadian perfeksionis biasanya lebih berisiko. Mereka pengen segalanya sempurna, termasuk bentuk tubuhnya. Kadang, anoreksia juga jadi mekanisme koping (cara bertahan) buat ngadepin stres atau trauma. Saat hidup terasa kacau dan nggak bisa dikontrol, satu-satunya hal yang mereka rasa bisa mereka kontrol adalah apa yang masuk ke mulut mereka. Jadi, diet ketat itu jadi semacam cara buat ngerasa punya kuasa atas hidup sendiri, meskipun cara itu justru ngerusak diri mereka pelan-pelan.

Gimana Cara Mengatasinya?

Keluar dari jeratan anoreksia itu jujur aja nggak gampang. Nggak bisa cuma dengan dibilangin "Ayo dong makan yang banyak biar sehat." Kata-kata kayak gitu kadang malah bikin mereka merasa makin nggak dimengerti. Langkah pertama yang paling krusial adalah mengakui kalau ada masalah dan berani buat minta bantuan profesional. Kamu butuh tim medis yang lengkap, mulai dari dokter buat benerin kondisi fisik, ahli gizi buat ngatur pola makan yang bener, sampai psikolog atau psikiater buat benerin cara berpikir dan kesehatan mental.

Terapi perilaku kognitif (CBT) biasanya sering digunain buat bantu penderita ngubah pola pikir negatif soal tubuh dan makanan. Selain bantuan profesional, support system alias dukungan dari keluarga dan temen deket itu penting banget. Jangan di-judge, jangan dikomentari fisiknya (meskipun maksudnya muji kalau mereka udah gemukan), tapi dengerin aja ceritanya. Mereka butuh lingkungan yang bikin mereka merasa aman tanpa harus dinilai dari angka di timbangan.

Proses penyembuhan anoreksia itu bukan lari sprint, tapi maraton yang panjang dan melelahkan. Bakal ada hari di mana mereka merasa udah lebih baik, tapi mungkin besoknya mereka merasa pengen balik lagi ke pola lama. Dan itu nggak apa-apa, asalkan nggak berhenti berjuang. Intinya, kita harus mulai belajar buat sayang sama diri sendiri apa adanya. Kurus nggak selalu berarti bahagia, dan punya badan yang sehat itu jauh lebih berharga daripada dapet validasi dari orang lain soal bentuk tubuh kita.

Ingat, kamu lebih dari sekadar angka di timbangan atau ukuran baju. Kesehatan mental kamu berhak buat diperjuangin. Kalau kamu ngerasa punya gejala ini atau punya temen yang kayaknya lagi berjuang sama gangguan makan, jangan ragu buat cari bantuan ya. You are not alone in this fight.