Senin, 10 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Benarkah Makan Kacang Bikin Jerawatan? Ini Fakta dan Penjelasan yang Perlu Diketahui

Tata - Monday, 10 August 2026 | 06:40 PM

Background
Benarkah Makan Kacang Bikin Jerawatan? Ini Fakta dan Penjelasan yang Perlu Diketahui

Benarkah Makan Kacang Bikin Jerawatan? Yuk, Bongkar Mitos yang Bikin Kita Takut Ngemil!

Bayangkan situasinya begini: kamu lagi asyik rebahan sambil nonton serial Netflix favorit, ditemani satu toples kacang bawang atau kacang kulit yang gurihnya minta ampun. Pas lagi seru-serunya ngunyah, tiba-tiba suara Mama atau temen kos terngiang di telinga, "Hati-hati, jangan kebanyakan makan kacang, nanti besok paginya mukamu panen jerawat!" Seketika, semangat ngemil kamu drop. Tangan yang tadinya mau ambil kacang lagi, malah jadi ragu-ragu.

Mitos soal kacang penyebab jerawat ini sudah kayak warisan turun-temurun di Indonesia. Dari zaman kakek-nenek sampai generasi TikTok sekarang, tuduhan terhadap kacang sebagai "biang kerok" wajah bruntusan masih saja eksis. Tapi pertanyaannya, apakah sains setuju dengan klaim ini? Atau jangan-jangan selama ini kita sudah memfitnah kacang secara tidak adil?

Bukan Kacangnya yang Salah, Tapi "Teman-temannya"

Mari kita luruskan dulu satu hal penting: secara biologis, belum ada penelitian medis yang benar-benar kuat membuktikan bahwa makan kacang—secara langsung—bisa bikin jerawatan. Kacang sendiri sebenarnya mengandung banyak nutrisi yang justru bagus buat kulit, seperti Vitamin E, zinc, dan selenium. Jadi, kalau kamu makan kacang almond atau kenari yang diproses dengan benar, kulitmu justru bisa jadi lebih glowing.

Lalu, kenapa banyak orang curhat kalau habis makan kacang terus jerawatan? Nah, di sinilah letak jebakannya. Seringkali yang jadi masalah bukan kacangnya, tapi cara pengolahannya. Kebanyakan kacang yang kita konsumsi di Indonesia itu digoreng dengan minyak yang sudah dipakai berkali-kali, atau dibalut tepung tebal, garam yang berlebihan, bahkan gula. Minyak goreng yang mengandung lemak jenuh tinggi inilah yang sebenarnya memicu peradangan dalam tubuh, yang ujung-ujungnya bisa bikin produksi minyak di wajah (sebum) jadi makin liar.

Jadi, kalau kamu makan kacang atom yang renyahnya bikin nagih tapi minyaknya nempel banget di tangan, jangan salahkan kacangnya kalau besok muncul "gunung merapi" di pipi. Salahkan minyak dan proses penggorengannya yang sudah lewat batas wajar.



Kenapa Wajah Kita Bisa Jerawatan?

Untuk memahami kenapa menyalahkan satu jenis makanan itu agak kurang adil, kita harus paham cara kerja jerawat. Jerawat itu bukan cuma soal apa yang masuk ke perut, tapi soal kombinasi maut antara pori-pori yang tersumbat, produksi minyak berlebih, bakteri Propionibacterium acnes, dan peradangan.

Faktor hormon juga punya peran besar. Makanya, kalau lagi stres atau menjelang menstruasi buat para cewek, jerawat bakal muncul meski kamu sudah diet ketat sampai nggak makan kacang sebutir pun. Selain itu, gaya hidup yang berantakan, malas cuci muka setelah seharian pakai makeup atau kena polusi, dan kurang tidur juga punya andil besar dalam merusak kehalusan wajah kita.

Intinya, jerawat itu kompleks, Gaes. Nggak sesederhana "makan A besok muncul B". Kalau kita cuma fokus nyalahin kacang, kita bakal melewatkan penyebab utama lainnya yang mungkin malah lebih berbahaya buat kulit.

Musuh Sebenarnya: Gula dan Susu

Kalau kamu benar-benar peduli sama kesehatan kulit, ada "tersangka" lain yang jauh lebih valid secara ilmiah daripada kacang: yaitu makanan dengan indeks glikemik tinggi. Apa itu? Singkatnya, makanan yang bikin kadar gula darah melonjak drastis, seperti roti putih, minuman boba, cake, dan segala jenis junk food yang penuh gula.

Saat gula darah naik, tubuh bakal memproduksi hormon insulin secara besar-besaran. Lonjakan insulin ini bisa merangsang kelenjar minyak buat bekerja lebih keras. Hasilnya? Wajah jadi ladang minyak dan pori-pori gampang tersumbat. Selain gula, beberapa penelitian juga menyebutkan kalau konsumsi produk olahan susu (dairy) secara berlebihan bisa memperparah kondisi jerawat bagi sebagian orang yang sensitif.



Jadi, daripada takut makan kacang rebus yang sehat, mending kamu lebih waspada sama es kopi susu kekinian yang gulanya minta ampun itu. Itu lebih potensial bikin kulit kamu "marah" daripada segenggam kacang tanah tanpa kulit.

Lalu, Harus Gimana Biar Tetap Bisa Ngemil Kacang?

Nggak perlu musuhan sama kacang, kok. Kamu tetap bisa menikmati camilan gurih ini dengan beberapa tips biar kulit tetap aman terkendali:

  • Pilih cara masak yang benar: Ganti kacang goreng dengan kacang sangrai, kacang panggang (roasted), atau kacang rebus. Rasanya tetap enak dan jauh lebih sehat karena nggak ada tambahan lemak trans dari minyak goreng.
  • Perhatikan porsi: Sesuatu yang berlebihan itu emang nggak pernah bagus. Makan kacang sewajarnya saja, misalnya satu genggam sehari sebagai sumber protein dan lemak sehat.
  • Cek label nutrisi: Kalau beli kacang kemasan, lihat kandungan garam dan gulanya. Kadang kacang dibalut bumbu penyedap yang isinya MSG dan sodium tinggi yang bisa bikin tubuh kita terlihat bengkak (bloating).
  • Tetap hidrasi: Banyakin minum air putih setelah ngemil kacang supaya sistem metabolisme tetap lancar dan suhu tubuh stabil.

Kesimpulan: Jangan Termakan Mitos

Kesimpulannya, berita soal makan kacang bikin jerawatan itu lebih ke arah mitos urban yang kurang dasar ilmiahnya. Kacang mengandung vitamin dan mineral yang baik, tapi pengolahannya lah yang seringkali salah. Jadi, jangan langsung insecure atau merasa berdosa kalau habis ngemil kacang.

Setiap kulit orang itu unik. Ada yang makan apa saja kulitnya tetap mulus kayak porselen, ada juga yang kena debu sedikit langsung jerawatan. Yang paling penting adalah mengenal tubuh sendiri. Kalau kamu merasa setiap kali makan kacang tertentu kulitmu bereaksi negatif, ya dikurangi saja. Tapi kalau kulitmu baik-baik saja, ya silakan lanjut ngemilnya.

Daripada sibuk mengkambinghitamkan kacang, mending kita fokus ke gaya hidup yang lebih bersih: rutin cuci muka, kurangi makanan manis, cukup tidur, dan kelola stres dengan baik. Karena pada akhirnya, kulit yang sehat bukan cuma hasil dari menghindari kacang, tapi hasil dari bagaimana kita mencintai tubuh kita secara keseluruhan. Jadi, mau lanjut makan kacangnya nggak, nih?