Mengapa Tubuh Blobfish Berubah Saat Diangkat ke Permukaan?
Liaa - Monday, 27 April 2026 | 02:05 PM


Si Paling "Bonyok": Benarkah Blobfish Itu Ikan Terjelek di Dunia, atau Kita Saja yang Jahat?
Bayangkan kamu sedang asyik-asyiknya tidur di kamar yang nyaman, tiba-tiba ada tangan raksasa yang menarikmu keluar, menembus atap, lalu membawamu terbang ke luar angkasa tanpa baju astronot. Selain sesak napas, tubuhmu pasti bakal mengalami perubahan drastis karena perbedaan tekanan udara yang ekstrem. Kurang lebih, itulah nasib tragis yang dialami oleh tokoh utama kita kali ini: Psychrolutes marcidus, atau yang lebih akrab kita sapa dengan nama blobfish.
Sejak tahun 2013, blobfish resmi menyandang gelar sebagai "Hewan Terjelek di Dunia" versi Ugly Animal Preservation Society. Fotonya yang terlihat seperti gumpalan lendir merah muda dengan hidung besar dan ekspresi wajah super sedih langsung viral ke seluruh dunia. Meme-meme bertebaran, menjadikannya ikon kegalauan atau sekadar bahan ejekan visual. Tapi, pernahkah kita berpikir dari sudut pandang si ikan? Apakah dia memang sejelek itu, atau jangan-jangan ini adalah kasus bullying lintas spesies terbesar dalam sejarah modern?
Tragedi Dekompresi: Saat Ikan Ganteng Jadi "Adonan Gagal"
Mari kita luruskan satu fakta penting: blobfish tidak terlihat seperti puding basi saat berada di rumahnya. Habitat asli blobfish berada di kedalaman 600 hingga 1.200 meter di bawah permukaan laut, tepatnya di perairan dalam sekitar Australia, Selandia Baru, dan Tasmania. Di sana, tekanannya bisa mencapai 120 kali lipat lebih tinggi daripada tekanan udara yang kita hirup sekarang.
Untuk bertahan hidup di lingkungan ekstrem seperti itu, blobfish punya struktur tubuh yang jenius. Mereka hampir tidak punya tulang keras dan otot yang padat. Sebagian besar tubuh mereka terdiri dari daging yang teksturnya mirip jeli, dengan massa jenis yang sedikit lebih rendah dari air laut. Mengapa? Agar mereka bisa melayang di dasar laut tanpa harus membuang energi untuk berenang. Mereka juga tidak punya gelembung renang organ berisi gas yang membantu ikan biasa mengapung karena di kedalaman segitu, gas akan langsung meledak atau menciut habis karena tekanan hebat.
Nah, masalah muncul saat blobfish terjaring pukat harimau milik nelayan dan ditarik ke permukaan dengan cepat. Perubahan tekanan yang drastis membuat tubuh jelinya mengembang tak terkendali. Bayangkan balon yang dipencet lalu dilepaskan tiba-tiba di ruang hampa. Hasilnya? Tubuh mereka hancur secara struktural, wajahnya "melesek," dan jadilah sosok merah muda lembek yang kita lihat di internet. Jadi, mengejek blobfish jelek itu sebenarnya sama saja dengan mengejek korban kecelakaan yang mukanya bonyok. Agak jahat, kan?
Gaya Hidup Rebahan Level Dewa
Selain soal tampang, blobfish juga sering dianggap sebagai makhluk paling malas di lautan. Kalau di dunia manusia ada istilah "kaum rebahan," maka blobfish adalah ketuanya. Mereka bukan pemburu aktif yang mengejar mangsa seperti hiu atau barakuda. Strategi bertahan hidup mereka sangat efisien: melayang pelan tepat di atas dasar laut dan membuka mulut lebar-lebar.
Apapun yang lewat di depan mulutnya baik itu kepiting kecil, moluska, atau sisa-sisa makanan dari atas langsung disedot. Di kedalaman laut yang gelap gulita dan minim nutrisi, hemat energi adalah kunci. Blobfish tidak mau repot-repot nge-gym atau lari maraton kalau cuma buat cari makan. Strategi ini terbukti efektif selama jutaan tahun, setidaknya sampai manusia datang dengan jaring-jaring besarnya.
Kenapa Kita Begitu Terobsesi dengan "Kejelekan" Mereka?
Sebenarnya, fenomena viralnya blobfish menunjukkan bias psikologis manusia yang disebut "Anthropomorphism." Kita suka memberikan atribut manusia pada hewan. Hidung blobfish yang besar (yang sebenarnya hanyalah daging yang melorot akibat dekompresi) terlihat seperti hidung manusia yang sedang cemberut. Ekspresi "sedih" mereka membuat kita merasa iba sekaligus geli.
Namun, ada sisi positif di balik gelar "Hewan Terjelek" ini. Simon Watt, biolog yang mendirikan Ugly Animal Preservation Society, punya misi yang mulia. Selama ini, kampanye konservasi selalu fokus pada hewan-hewan "ganteng" atau lucu seperti panda, harimau, atau lumba-lumba. Padahal, hewan yang bentuknya aneh atau "jelek" juga punya peran penting dalam ekosistem dan mereka juga terancam punah.
Blobfish menjadi duta bagi makhluk-makhluk yang tidak punya hak istimewa secara estetika. Lewat kejelekannya, orang-orang jadi peduli tentang bahaya pukat harimau di laut dalam yang bisa menghancurkan ekosistem yang belum banyak kita jelajahi. Siapa sangka, wajah yang dianggap mirip kakek-kakek sedang galau ini ternyata adalah kunci untuk menyelamatkan jutaan spesies lain di dasar samudra?
Cantik Itu Relatif, Tapi Tekanan Itu Absolut
Jadi, apakah benar blobfish adalah ikan paling jelek? Kalau parameter yang kamu gunakan adalah standar kecantikan manusia di daratan, mungkin jawabannya iya. Tapi kalau kamu melihatnya di habitat aslinya, blobfish terlihat seperti ikan biasa pada umumnya sedikit tembam, tapi proporsional dan sangat fungsional untuk menahan tekanan air yang luar biasa.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti menjuluki mereka "jelek" dan mulai memberikan rasa hormat. Bayangkan, mereka bisa hidup dengan tenang di tempat yang bakal meremukkan tulang manusia dalam sekejap. Di dunianya, blobfish adalah penyintas yang hebat. Mereka adalah bukti bahwa alam semesta tidak selalu menciptakan sesuatu untuk memanjakan mata manusia, tapi untuk bertahan hidup di tengah kerasnya alam.
Lain kali kalau kamu merasa sedang menjalani hari yang buruk atau merasa wajahmu kurang oke saat bangun tidur, ingatlah blobfish. Setidaknya, kamu tidak ditarik keluar dari kamarmu oleh alien lalu difoto dalam kondisi bonyok untuk dijadikan bahan tertawaan satu galaksi. Tetap semangat, dan jangan lupa untuk lebih berempati pada makhluk-makhluk "estetikanya kurang" di luar sana!
Next News

Flashback Film Ada Apa Dengan Cinta
in 3 hours

Benarkah Indra Penciuman Ikut Mati Saat Tidur? Ini Faktanya
13 hours ago

Kenapa Awan yang Beratnya Jutaan Ton Tidak Jatuh ke Bumi? Ini Penjelasan
an hour ago

Mengapa Laut Terlihat Biru Padahal Airnya Bening? Cek Faktanya
2 hours ago

Kenapa Makan Pakai Tangan Selalu Terasa Lebih Nikmat?
2 hours ago

Kenapa Sih Emas Harganya Nggak Pernah Santai? Ternyata Ini Rahasia di Balik Kilau Mahalnya
2 hours ago

Masa Daluwarsa: Bukan Sekadar Tanggal di Kemasan, Ini Penjelasan Lengkapnya
2 hours ago

Misteri Kata Hah: Respon Otomatis Saat Sedang Tidak Fokus
2 hours ago

Oksidasi vs Degradasi: Apa Bedanya dan Kenapa Sering Disalahpahami?
15 hours ago

Apakah Orang Introvert itu AnSos?
15 hours ago





