Selasa, 28 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Flashback Film Ada Apa Dengan Cinta

Liaa - Tuesday, 28 April 2026 | 10:40 PM

Background
Flashback Film Ada Apa Dengan Cinta

Mengenang Rangga, Cinta, dan Lembaran Puisi yang Menyelamatkan Sinema Kita

Kalau kita bicara soal tahun 2002, apa yang terlintas di kepala kalian? Mungkin sebagian besar bakal ingat zaman-zaman HP Nokia 3310 masih jadi primadona, atau era di mana kaset pita masih harus diputar pakai pensil kalau pitanya kusut. Tapi buat pecinta film di Indonesia, tahun 2002 adalah tonggak sejarah yang nggak bakal bisa dihapus. Di tahun itulah, sebuah film berjudul Ada Apa dengan Cinta? (AADC) muncul dan meledak, mengubah wajah industri perfilman kita yang waktu itu lagi mati suri.

Bayangkan saja, sebelum geng Cinta muncul di layar lebar, bioskop-bioskop kita lebih sering diisi oleh film-film horor esek-esek yang kualitasnya ya gitu deh, atau film impor dari Hollywood. Tiba-tiba, muncul sosok Rangga dengan buku puisinya dan Cinta dengan keriangannya. Boom! Anak muda se-Indonesia langsung demam. Cowok-cowok mendadak pengen jadi puitis dan misterius, sementara cewek-cewek sibuk nyari jepit rambut ala Dian Sastrowardoyo.

Rangga: Sang Pionir Sad Boy Sebelum Istilah Itu Ada

Jauh sebelum tren "anak senja" atau "sad boy" menjamur di media sosial, kita sudah punya prototipenya: Rangga. Nicholas Saputra sukses memerankan karakter yang cuek, galak, tapi punya sisi lembut yang tersembunyi di balik barisan kata-kata puitis. Rangga bukan tipe cowok populer yang jago basket atau bawa motor gede. Dia cuma cowok yang sering mojok di perpustakaan, baca buku sastra, dan hobi dengerin musik klasik lewat walkman.

Gara-gara Rangga, standar "cowok keren" di mata remaja putri saat itu langsung bergeser. Nggak perlu pamer otot, cukup pamer buku "Aku" karya Sjuman Djaya di Kwitang, kamu sudah dianggap cool level dewa. Karakter Rangga ini memberikan pesan tersirat kalau jadi pintar dan gemar baca itu seksi. Ya, walaupun di dunia nyata, kalau kita secuek Rangga ke gebetan, kemungkinan besar kita bakal diblokir duluan sebelum sempat baca puisi.

Geng Cinta dan Dinamika Persahabatan yang Relate Abis

Selain urusan asmara Rangga dan Cinta, daya tarik utama film ini adalah persahabatan antara Cinta, Maura, Milly, Karmen, dan Alya. Mereka bukan sekadar pelengkap cerita. Geng ini menggambarkan gimana serunya (dan ribetnya) punya sahabat di masa SMA. Ada Maura yang paling stylish, Milly yang agak telat mikir tapi lucu, Karmen yang tomboy dan protektif, serta Alya yang menyimpan rahasia kelam di balik senyumnya.



Konflik yang mereka hadapi juga terasa jujur. Ingat nggak adegan legendaris di lapangan basket saat Cinta berantem sama Karmen? "Salah gue? Salah temen-temen gue?" Kalimat itu ikonik banget sampai sekarang. Di situ kita diingatkan kalau cinta monyet kadang bisa bikin kita lupa daratan sampai mengabaikan sahabat sendiri. AADC mengajarkan kalau solidaritas itu harganya mahal, bahkan lebih mahal dari sekadar janji kencan di malam minggu.

Puisi, Musik, dan Estetika Kwitang

Kita nggak bisa membahas AADC tanpa menyinggung soundtrack-nya. Melly Goeslaw dan Anto Hoed benar-benar jenius menciptakan atmosfer yang pas. Begitu intro lagu "Ada Apa dengan Cinta" atau "Denting" berbunyi, memori kita langsung terseret balik ke lorong-lorong SMA. Musiknya punya nyawa sendiri yang bikin setiap adegan terasa lebih dalam dan emosional.

Belum lagi soal puisinya. Siapa yang nggak merinding dengar narasi Rangga tentang bosan yang melanda? Film ini berhasil membawa sastra ke level yang lebih populer. Pasar buku Kwitang yang dulu mungkin cuma dianggap tempat barang bekas, mendadak jadi tempat yang sangat romantis berkat adegan Rangga dan Cinta di sana. AADC membuktikan kalau film remaja nggak harus dangkal; ia bisa tetap cerdas tanpa harus menggurui.

Legacy yang Nggak Pernah Pudar

Setelah lebih dari dua dekade berlalu, kenapa kita masih sering nostalgia sama AADC? Jawabannya sederhana: karena film ini jujur. Ia menangkap potret remaja di masanya dengan sangat akurat. Mulai dari gaya bahasa, fashion, hingga kecemasan-kecemasan khas anak muda yang lagi mencari jati diri. AADC bukan cuma sebuah film, tapi sudah jadi artefak budaya.

Kehadiran AADC 2 belasan tahun kemudian pun membuktikan kalau publik belum bisa move on. Kita semua penasaran gimana nasib Rangga yang ditinggal di bandara. Kita pengen tahu apakah Cinta sudah bahagia dengan hidupnya di Jakarta. Meskipun ada banyak film remaja baru yang muncul dengan teknologi yang lebih canggih, AADC tetap punya tempat spesial sebagai "kakak tertua" yang memulai semuanya.



Menonton ulang AADC sekarang rasanya seperti membuka album foto lama yang penuh debu tapi menyenangkan. Ada rasa geli melihat gaya rambut kita dulu, tapi ada juga rasa haru mengingat betapa polosnya kita saat itu. Film ini adalah pengingat bahwa di balik segala hiruk-pikuk kehidupan dewasa yang melelahkan, dulu kita pernah begitu berapi-api hanya karena sepucuk surat atau sekilas tatapan di perpustakaan sekolah.

Jadi, kalau nanti malam kamu nggak tahu mau ngapain, coba deh putar lagi film ini. Rasakan lagi getarannya, nyanyikan lagi lagu-lagunya, dan jangan lupa siapkan tisu buat bagian akhirnya. Karena mau berapa kali pun ditonton, perpisahan di bandara itu tetap saja bikin nyesek, kan?