Mengapa Satu Hari Terdiri dari 24 Jam? Ini Sejarah dan Penjelasan Ilmiahnya
Laila - Saturday, 09 May 2026 | 09:30 AM


Banyak orang pernah bertanya mengapa satu hari terdiri dari 24 jam. Pertanyaan ini sering muncul ketika seseorang merasa waktu dalam sehari terasa tidak cukup untuk menyelesaikan berbagai aktivitas.
Namun, pembagian waktu selama 24 jam ternyata memiliki sejarah panjang yang berasal dari peradaban kuno dan berkaitan erat dengan pergerakan Bumi.
Berasal dari Peradaban Kuno
Sistem 24 jam dipercaya berasal dari peradaban Mesir Kuno dan Sumeria yang menggunakan sistem bilangan berbasis 12 dan 60. Berbeda dengan sistem desimal modern berbasis 10, masyarakat kuno lebih sering menggunakan angka yang mudah dibagi ke dalam beberapa bagian.
Angka 12 dianggap praktis karena dapat dibagi menjadi 2, 3, 4, dan 6. Salah satu teori menyebutkan bahwa sistem ini berasal dari cara menghitung menggunakan ruas jari tangan.
Pada empat jari selain ibu jari, terdapat tiga ruas pada masing-masing jari sehingga totalnya menjadi 12. Cara tersebut kemudian digunakan sebagai dasar sistem perhitungan waktu.
Pembagian Waktu Siang dan Malam
Masyarakat Mesir Kuno membagi waktu siang menjadi 12 bagian berdasarkan pergerakan Matahari yang diamati melalui jam matahari.
Sementara itu, malam hari juga dibagi menjadi 12 bagian berdasarkan pengamatan terhadap kelompok bintang tertentu yang muncul secara bergantian di langit malam.
Dari pembagian tersebut, terbentuklah sistem 24 jam dalam satu hari yang kemudian diwariskan dan digunakan hingga sekarang.
Pernah Ada Upaya Mengubah Sistem Waktu
Pada masa Revolusi Prancis, pernah muncul gagasan untuk mengganti sistem waktu menjadi sistem desimal agar lebih sederhana.
Dalam sistem tersebut, satu hari dibagi menjadi 10 jam, satu jam terdiri dari 100 menit, dan satu menit terdiri dari 100 detik.
Meskipun terdengar lebih teratur secara matematis, sistem ini tidak bertahan lama karena masyarakat sudah terbiasa menggunakan sistem 24 jam. Perubahan tersebut juga dinilai menyulitkan aktivitas sehari-hari.
Berkaitan dengan Rotasi Bumi
Secara ilmiah, panjang satu hari ditentukan oleh waktu yang dibutuhkan Bumi untuk berotasi pada porosnya, yaitu sekitar 24 jam.
Rotasi tersebut juga memengaruhi ritme biologis manusia atau ritme sirkadian, yaitu siklus alami tubuh yang mengatur waktu tidur, hormon, suhu tubuh, dan berbagai fungsi biologis lainnya.
Karena itu, tubuh manusia telah beradaptasi dengan siklus siang dan malam yang berlangsung selama 24 jam.
Rotasi Bumi Ternyata Tidak Selalu Sama
Para ilmuwan juga menemukan bahwa rotasi Bumi mengalami perlambatan secara perlahan akibat pengaruh gravitasi Bulan.
Jutaan tahun lalu, satu hari di Bumi diperkirakan berlangsung lebih singkat dibanding sekarang. Perubahan tersebut berlangsung sangat lambat, sehingga tidak terasa dalam kehidupan manusia modern.
Waktu Tidak Hanya Soal Angka
Selain penjelasan ilmiah, persepsi manusia terhadap waktu juga dipengaruhi oleh kondisi psikologis. Waktu sering terasa cepat saat seseorang menikmati aktivitas tertentu, tetapi terasa lambat ketika berada dalam situasi membosankan.
Karena itu, banyak orang merasa waktu 24 jam tidak cukup, bukan semata-mata karena durasinya terlalu singkat, tetapi karena banyaknya aktivitas dan tuntutan yang dijalani setiap hari.
Next News

Manfaat Menulis dengan Tangan untuk Daya Ingat dan Kesehatan Mental
in 6 hours

Benarkah Lidah Merupakan Otot Terkuat dalam Tubuh Manusia? Ini Penjelasannya
in 6 hours

Makna Lagu "About You" dari The 1975: Nostalgia, Kenangan, dan Luka Masa Lalu
in 6 hours

Perbedaan Dapur Kotor dan Dapur Bersih di Rumah!
in 5 hours

Mengenal Ginseng Jawa, Tanaman Herbal Lokal dengan Beragam Manfaat untuk Kesehatan
in 5 hours

Rahasia Tempe Orek: Penyelamat Dompet Tipis yang Selalu Dirindu
in 5 hours

Tips Penting Sebelum Pakai Panci Baru Biar Awet Bertahun-tahun
in 4 hours

Kenapa Bau Cat Rumah Baru Bisa Membuat Pusing?
in 5 hours

Jangan Anggap Remeh Bahaya Jamur Di Dinding Rumah
in 5 hours

Mengenal Keramik, Granit, dan Marmer. Jangan Sampai Salah Pilih
in 5 hours





