Mengapa Makan Kepala Ayam Terasa Begitu Nikmat? Ini Alasannya
Tata - Monday, 16 February 2026 | 07:30 PM


Suka Makan Kepala Ayam? Antara Seni 'Klamut' dan Risiko Kesehatan yang Perlu Kamu Tahu
Bayangkan kamu lagi duduk di warung tenda pecel lele pinggir jalan saat jam makan malam. Aroma sambal terasi yang disiram minyak panas beradu dengan harum ayam goreng yang baru saja diangkat dari wajan. Di tengah keriuhan itu, ada satu pemandangan yang lazim banget kita temui: seorang pelanggan dengan penuh khidmat sedang "bertarung" dengan sepotong kepala ayam. Bunyi krek-krek saat tulang muda digigit, hingga aksi menghisap bagian-bagian tersembunyi, seolah menjadi ritual yang nggak bisa diganggu gugat.
Bagi sebagian orang, kepala ayam adalah bagian paling "estetik" sekaligus nikmat. Ada kepuasan tersendiri saat berhasil menguliti bagian kulitnya yang kenyal atau menemukan sedikit daging di balik tulang tengkoraknya yang keras. Istilahnya, seni 'klamut-klamut'. Tapi, di sisi lain, nggak sedikit juga orang yang merasa ngeri atau jijik melihat bentuknya yang masih utuh dengan paruh dan (terkadang) mata yang menatap nanar. Pertanyaannya sekarang, selain urusan selera, apa sih dampak sebenarnya hobi makan kepala ayam ini buat tubuh kita? Apakah ini murni sumber gizi atau malah investasi penyakit di masa depan?
Mari kita bedah pelan-pelan. Secara nutrisi, kepala ayam sebenarnya nggak kosong-kosong amat. Dia mengandung protein, lemak, dan beberapa mineral. Di dalam otak ayam yang ukurannya cuma seupil itu, terdapat kandungan kolagen yang konon bagus buat kulit. Tapi ya masalahnya, porsinya kecil banget. Kamu butuh makan satu truk kepala ayam mungkin baru bisa dapet efek glowing yang signifikan. Justru yang jadi perhatian utama para ahli kesehatan bukan cuma apa yang ada di dalamnya secara alami, tapi apa yang "disuntikkan" ke sana selama masa pertumbuhan si ayam.
Sudah bukan rahasia lagi kalau industri peternakan ayam potong seringkali menggunakan berbagai macam zat kimia untuk mempercepat pertumbuhan. Mulai dari hormon pertumbuhan hingga antibiotik agar ayam nggak gampang sakit. Nah, zat-zat kimia ini biasanya disuntikkan lewat area leher atau sayap. Secara biologis, residu atau sisa-sisa obat ini cenderung mengendap di bagian kepala dan leher. Bayangkan kalau kamu hobi banget makan bagian ini setiap hari. Secara nggak langsung, kamu juga "menabung" residu kimia tadi di dalam tubuhmu. Dampaknya nggak langsung terasa sekarang, tapi bisa memicu gangguan hormonal hingga risiko kanker dalam jangka panjang. Serem? Ya, dikit sih, tapi ini fakta yang perlu masuk radar pertimbanganmu.
Lalu, ada masalah klasik yang namanya kolesterol. Buat kamu yang sudah mulai sering merasa leher kaku atau pusing kalau habis makan enak, kepala ayam adalah "tersangka" yang patut diwaspadai. Sebagian besar kenikmatan kepala ayam itu datang dari kulit dan lemaknya. Kadar lemak jenuh di bagian kepala ayam tergolong tinggi. Kalau kamu tipikal orang yang kalau makan penyetan harus nambah kepala dua atau tiga porsi, mending cek rutin kadar kolesterol jahat (LDL) di darahmu. Jangan sampai niatnya mau healing pakai makanan enak, malah berakhir di ruang tunggu dokter.
Selain soal zat kimia dan lemak, ada faktor kebersihan yang sering terabaikan. Kepala adalah bagian luar ayam yang punya banyak celah. Mulai dari lubang hidung, paruh, hingga mata. Kalau proses pencuciannya di rumah potong atau di warung nggak benar-benar bersih, ada risiko bakteri atau kotoran yang masih nempel di sana. Belum lagi soal kandungan logam berat. Beberapa penelitian kecil menyebutkan bahwa ayam yang diberi pakan sembarangan atau hidup di lingkungan yang tercemar, logam beratnya cenderung terkumpul di organ dalam dan area kepala (otak). Jadi, meskipun rasanya gurih-gurih nyoi, ada risiko kontaminasi yang nggak main-main.
Tapi, apakah ini berarti kita harus benci total sama kepala ayam? Ya nggak juga. Hidup itu soal keseimbangan, bro. Kalau kamu makan kepala ayam cuma sesekali, misalnya sebulan sekali pas lagi pengen banget, dampaknya ke tubuh nggak akan se-ekstrem itu. Tubuh manusia itu punya sistem detoks alami yang cukup canggih. Masalah baru muncul kalau kepala ayam jadi menu wajib harian alias "comfort food" yang dikonsumsi berlebihan.
Ada pendapat menarik dari teman saya yang seorang food enthusiast. Katanya, "Makan kepala ayam itu soal pengalaman sensorik, bukan soal kenyang." Dan dia benar. Orang makan kepala ayam bukan karena lapar, tapi karena menikmati prosesnya. Tapi sebagai manusia modern yang sudah punya akses ke berbagai informasi kesehatan, kita harus lebih bijak. Kalau memang kepengin banget, pastikan ayamnya berasal dari sumber yang jelas (lebih bagus ayam kampung atau ayam organik yang minim suntikan). Dan yang paling penting, jangan lupa bersihkan dengan sangat teliti.
Sebagai penutup, buat kalian tim pecinta kepala ayam, tetaplah nikmati seni 'klamut' kalian. Tapi ingat, jangan abai sama sinyal tubuh. Kalau sudah merasa berat di tengkuk atau berat badan mulai naik nggak terkontrol, mungkin itu tanda kalau hubungan cintamu dengan kepala ayam harus segera diberi jeda. Jangan sampai gara-gara hobi makan bagian paling murah di ayam, biaya berobatnya jadi yang paling mahal. Seimbangkan dengan makan serat, perbanyak minum air putih, dan sesekali ganti menu dengan dada ayam yang lebih "sepi" dari risiko residu hormon. Stay healthy, tetap makan enak, tapi pakai logika ya!
Next News

Di Mana Bayamnya? Menguak Rahasia di Balik Sayur Bening Pasien
5 hours ago

Mata Panda Kaum Lembur: Benarkah Eye Pad Solusi Cepat Atasi Kantung Mata?
5 hours ago

Rahasia Gurun Sahara: Eksportir Debu Terbesar ke Seluruh Dunia
5 hours ago

Chiropractic: Si Ahli "Kretek-Kretek" Tulang, Amankah?
17 hours ago

Seberapa Penting Donor Darah bagi Kesehatan?
17 hours ago

Vitamin Apa Saja yang Diperlukan Usia 40 Tahun ke Atas?
17 hours ago

Robotik Medis: Masa Depan Pelayanan Kesehatan di Indonesia
17 hours ago

Anak Jarang Main di Luar, Apa Dampaknya untuk Otak?
17 hours ago

Benarkah Diet Tinggi Protein Bisa Menurunkan Berat Badan?
17 hours ago

Telinga Berdenging Tiba-Tiba, Normal atau Bahaya?
17 hours ago





