4 Alasan Kenapa Kita Bisa Merinding, dari Kedinginan hingga Emosi
Liaa - Wednesday, 15 April 2026 | 01:15 PM


Merinding merupakan kondisi ketika rambut halus di kulit berdiri akibat kontraksi otot kecil di sekitar folikel rambut. Dalam istilah ilmiah, fenomena ini dikenal sebagai piloerection. Reaksi ini terjadi secara otomatis sebagai bagian dari sistem saraf tubuh.
Mengutip berbagai sumber kesehatan, terdapat beberapa penyebab umum seseorang mengalami merinding, mulai dari faktor lingkungan hingga kondisi medis tertentu.
1. Kedinginan
Salah satu penyebab paling umum merinding adalah paparan suhu dingin. Saat tubuh merasa kedinginan, otak akan mengirimkan sinyal untuk mempertahankan suhu tubuh tetap hangat.
Salah satu responsnya adalah membuat rambut berdiri agar dapat menjebak lapisan udara hangat di dekat kulit. Mekanisme ini membantu mengurangi kehilangan panas tubuh.
Beberapa tanda yang sering muncul saat merinding karena kedinginan antara lain:
- Tubuh terasa menggigil atau demam
- Dorongan untuk memeluk diri sendiri
- Kulit tampak pucat
Biasanya, kondisi ini akan mereda setelah tubuh kembali hangat. Namun, jika disertai gejala seperti linglung, sulit bicara, atau mengantuk berlebihan, hal tersebut bisa mengarah pada Hipotermia yang memerlukan penanganan medis segera.
2. Respons Emosional
Merinding juga bisa dipicu oleh emosi yang kuat, seperti rasa takut, haru, kagum, atau bahkan ketertarikan.
Saat emosi memuncak, tubuh melepaskan hormon seperti adrenalin yang memicu berbagai reaksi fisik, termasuk merinding. Reaksi ini merupakan bagian dari sistem pertahanan alami tubuh.
Selain merinding, biasanya muncul gejala lain seperti:
- Detak jantung meningkat
- Napas menjadi lebih cepat
- Tubuh terasa panas dingin
- Mata berkaca-kaca atau menangis
3. Penumpukan Keratin (Keratosis Pilaris)
Kondisi kulit tertentu juga dapat membuat permukaan kulit tampak seperti merinding. Salah satunya adalah Keratosis Pilaris.
Gangguan ini terjadi akibat penumpukan keratin yang menyumbat folikel rambut, sehingga muncul bintik-bintik kecil pada kulit. Area yang sering terdampak antara lain:
- Lengan atas
- Paha
- Pipi
- Area bokong
Meski tampak seperti merinding, kondisi ini tidak berbahaya dan umumnya dapat membaik dengan sendirinya seiring waktu.
4. Kejang (Terkait Gangguan Neurologis)
Dalam kasus tertentu, merinding bisa menjadi bagian dari gejala kejang, khususnya pada penderita Epilepsi Lobus Temporal.
Jenis epilepsi ini memengaruhi bagian otak yang berhubungan dengan emosi. Akibatnya, gejala yang muncul tidak selalu berupa kejang besar, tetapi bisa berupa sensasi aneh termasuk merinding.
Gejala lain yang mungkin menyertai:
- Linglung atau kebingungan
- Tatapan kosong atau menengadah
- Gerakan jari tidak terkendali
- Tergigitnya lidah
Kejang biasanya berlangsung singkat, namun jika terjadi berulang, penting untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis.erdiri?
Next News

Mengapa Es Bisa Mengapung di Atas Air?
9 hours ago

Cara Membuat Suasana Belajar di Rumah Lebih Menyenangkan
9 hours ago

Mengapa Menjaga Silaturahmi Begitu Dianjurkan dalam Islam?
9 hours ago

Mengenal Filosofi Rumah Adat dari Berbagai Daerah di Indonesia
9 hours ago

Mengapa Setiap Daerah Memiliki Tradisi Pernikahan yang Berbeda?
9 hours ago

8 Bahan Dapur yang Ternyata Bisa Memperkuat Cita Rasa Masakan
9 hours ago

Pentingnya Menjaga Kebersihan Tangan dalam Kehidupan Sehari-hari
9 hours ago

Cara Menjaga Kesehatan Tulang Sejak Usia Muda
9 hours ago

Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Kesehatan Mata
9 hours ago

Sering Bangun dengan Mulut Kering? Kenali Beberapa Penyebabnya
9 hours ago





