Rabu, 15 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Ingat Es Gabus? Primadona Jajanan SD di Depan Gerbang Sekolah

Liaa - Wednesday, 15 April 2026 | 01:35 PM

Background
Ingat Es Gabus? Primadona Jajanan SD di Depan Gerbang Sekolah

Menziarahi Masa Kecil Lewat Seiris Es Gabus: Jajanan Pelangi yang Kini Mulai Langka

Bayangkan sebuah siang yang terik di akhir tahun 90-an atau awal 2000-an. Bel sekolah baru saja berbunyi, menandakan penderitaan belajar matematika selama dua jam penuh akhirnya berakhir. Di depan gerbang sekolah, pemandangan surgawi sudah menanti: deretan gerobak jajanan. Ada cilok yang uapnya mengepul, gulali yang dibentuk jadi burung cendrawasih, sampai minuman bubuk rasa buah yang warnanya mencolok banget. Tapi, di antara itu semua, ada satu kotak termos yang selalu menarik perhatian karena isinya penuh warna. Namanya es gabus.

Buat generasi yang tumbuh di era itu, es gabus bukan sekadar makanan beku. Ia adalah simbol kebahagiaan sederhana yang harganya cuma beberapa ratus perak. Bentuknya kotak, teksturnya empuk-empuk gimana gitu, dan warnanya selalu menantang maut dengan gradasi pelangi yang sangat "ngejreng". Kalau diingat-ingat sekarang, warna hijaunya mungkin lebih mirip warna stabilo daripada warna pandan asli, tapi siapa peduli? Saat itu, lidah kita belum kenal apa itu artisan gelato atau es krim premium rasa sea salt yang harganya bisa buat beli beras lima kilo.

Kenapa Namanya Gabus? Sebuah Misteri Tekstur

Pernah nggak sih kalian mikir kenapa jajanan ini dinamakan es gabus? Padahal dia nggak ada hubungannya sama ikan gabus, apalagi sama material peredam suara di studio musik. Jawabannya terletak pada sensasi saat kita menggigitnya. Berbeda dengan es lilin yang kerasnya minta ampun sampai bikin gigi ngilu, atau es krim modern yang lembut dan langsung lumer, es gabus punya konsistensi yang unik. Dia padat tapi empuk. Begitu digigit, ada sensasi "nyess" yang terasa berpori, persis kayak kita lagi mengunyah gabus atau styrofoam, tapi versi bisa dimakan dan manis.

Rahasia di balik tekstur ajaib ini sebenarnya sederhana banget: tepung hunkwe. Tepung yang terbuat dari kacang hijau ini dimasak bersama santan, gula, dan sedikit garam sampai menjadi adonan yang kental dan kenyal seperti puding. Setelah itu, adonan dibagi-bagi, diberi pewarna makanan yang cerah, lalu disusun berlapis-lapis di dalam loyang. Setelah dingin dan memadat, barulah adonan itu dipotong-potong seukuran telapak tangan, dibungkus plastik mika transparan, lalu dimasukkan ke dalam freezer atau kotak es milik si abang penjual.

Ritual Memakan Pelangi

Memakan es gabus itu ada seninya sendiri. Kita nggak bisa langsung lahap begitu saja. Biasanya, hal pertama yang dilakukan adalah menunggu esnya sedikit melunak karena baru saja dikeluarkan dari kotak es yang penuh garam dan es batu (metode pendinginan tradisional yang super efektif itu). Begitu plastiknya dibuka, aroma santan dan vanili yang khas langsung menyeruak. Cara makannya? Digigit pelan-pelan dari bagian atas sampai ke bawah supaya semua warnanya terasa.



Jujur saja, kalau bicara soal rasa, es gabus sebenarnya nggak punya profil rasa yang kompleks. Rasanya ya cuma manis, gurih santan, dan ada sedikit rasa "tepung" yang tertinggal di langit-langit mulut. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Kesederhanaan rasa itu berpadu dengan dinginnya es yang bikin tenggorokan segar seketika di tengah panasnya udara siang hari. Es gabus adalah bukti nyata bahwa kebahagiaan itu nggak harus mahal dan nggak harus ribet.

Ke Mana Perginya Sang Primadona?

Sayangnya, seiring berjalannya waktu, keberadaan es gabus mulai tergerus zaman. Sekarang, kalau kalian keliling ke depan sekolah dasar, mungkin kalian lebih sering melihat stand boba, es kopi kekinian, atau es krim dari brand luar negeri yang punya cabang di setiap tikungan jalan. Es gabus perlahan-lahan menghilang dari peredaran, beralih status menjadi "jajanan langka" yang hanya bisa ditemukan di festival kuliner jadul atau pasar malam tertentu.

Ada sedikit rasa sedih kalau dipikir-pikir. Es gabus adalah bagian dari sejarah kuliner jalanan Indonesia yang sangat ikonik. Ia lahir dari kreativitas orang-orang lokal yang ingin menciptakan kudapan murah meriah namun tetap terlihat menarik secara visual. Fenomena menghilangnya es gabus ini sebenarnya wajar, mengingat tren selera pasar yang terus berubah. Anak zaman sekarang mungkin lebih suka es krim yang punya topping crunchy, saus cokelat melimpah, atau tekstur yang lembut banget. Es gabus yang bertekstur "kasar" dan beraroma santan mungkin dianggap kurang relevan bagi lidah generasi alpha.

Upaya Menghidupkan Kembali Memori

Tapi tenang saja, bagi para penganut paham "nostalgia adalah kunci kebahagiaan", es gabus sebenarnya nggak benar-benar mati. Belakangan ini, banyak orang yang mulai mencoba membuat es gabus sendiri di rumah. Resepnya bertebaran di TikTok dan Instagram. Ternyata, membuat es gabus sendiri itu seru banget. Kita bisa bereksperimen dengan rasa yang lebih modern, misalnya mengganti santan dengan susu cair, atau menambahkan potongan buah asli di dalamnya.

Membuat es gabus di rumah bukan cuma soal memuaskan rasa lapar, tapi juga soal menghidupkan kembali potongan memori masa kecil yang hampir hilang. Ada kepuasan tersendiri saat melihat adonan hunkwe yang warna-warni itu mulai memadat di dalam loyang. Dan saat kita memotongnya menjadi irisan-irisan tipis, kita seolah-olah ditarik kembali ke masa di mana masalah terbesar dalam hidup kita cuma soal PR matematika yang belum dikerjakan atau lutut yang lecet gara-gara jatuh main bola.



Es Gabus dan Filosofi Kebahagiaan

Kalau kita renungkan lebih dalam, es gabus mengajarkan kita satu hal: hidup itu nggak perlu terlalu kaku. Seperti teksturnya yang fleksibel—antara padat dan cair—kita juga harus bisa beradaptasi dengan keadaan. Es gabus juga mengingatkan kita bahwa warna-warni dalam hidup itu penting. Meskipun rasanya mungkin sama saja (manis semua), tapi tampilan yang penuh warna bikin hari-hari kita jadi lebih ceria.

Mungkin es gabus memang sudah bukan lagi raja di jalanan, tapi posisinya di hati para pejuang nostalgia nggak akan pernah tergantikan. Buat kalian yang kebetulan lewat di depan sekolah tua atau pasar tradisional dan melihat abang-abang yang masih setia menjual kotak-kotak pelangi beku ini, jangan ragu buat beli. Bukan cuma buat mendinginkan suasana hati, tapi juga sebagai bentuk dukungan kecil agar kuliner legendaris ini nggak benar-benar punah ditelan zaman yang serba modern ini.

Jadi, kapan terakhir kali kalian makan es gabus? Kalau lupa, mungkin ini saatnya buat berburu atau minimal bikin sendiri di dapur. Rasakan sensasi dingin yang empuk itu, dan biarkan ingatan kalian melayang kembali ke masa-masa paling indah: masa kecil yang penuh warna.