Mengapa Kita Sulit Melupakan Seseorang yang Pernah Berarti?
Liaa - Friday, 21 August 2026 | 10:55 AM


Seni Gagal Lupa: Mengapa Melepaskan Kenangan Itu Jauh Lebih Sulit daripada Memulainya?
Pernah nggak sih, kamu lagi asik-asiknya scroll media sosial di jam dua pagi, terus tiba-tiba muncul sebuah lagu atau postingan random yang bikin memori kamu terlempar jauh ke masa lalu? Detik itu juga, dada rasanya sesak, dan wajah seseorang yang (katanya) sudah coba kamu lupakan mendadak muncul dengan sangat jelas. Padahal, kejadiannya sudah lewat berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun yang lalu. Kamu pun mulai bertanya-tanya: Kenapa sih otak gue susah banget diajak kerja sama buat menghapus nama dia?
Fenomena sulit melupakan ini sebenarnya adalah hal yang sangat manusiawi, tapi juga sangat menjengkelkan. Kita sering menyalahkan diri sendiri, merasa lemah, atau menganggap diri kita "gagal move on". Padahal, di balik rasa sesak itu, ada penjelasan ilmiah, psikologis, hingga sosiologis yang saling sengkarut. Melupakan seseorang yang pernah punya porsi besar di hidup kita itu bukan cuma soal menghapus chat atau membuang barang pemberiannya. Ini soal merombak ulang sistem di dalam otak kita sendiri.
Otak Kita Ternyata Seorang 'Pecandu'
Secara sains, alasan pertama kenapa kita sulit melupakan mantan atau seseorang yang pernah berarti adalah karena cara kerja otak kita yang mirip dengan pecandu narkoba. Serius, ini bukan hiperbola. Saat kita sedang jatuh cinta dan merasa sangat dekat dengan seseorang, otak kita memproduksi hormon dopamin dan oksitosin dalam jumlah besar. Ini adalah hormon "bahagia" yang bikin kita merasa melayang.
Ketika sosok tersebut hilang dari kehidupan kita, pasokan hormon-hormon tadi mendadak distop. Otak kita mengalami fase withdrawal atau sakau. Secara otomatis, otak bakal terus-terusan mencari cara untuk mendapatkan kembali "dosis" kebahagiaan itu dengan memutar kembali memori-memori indah bersamanya. Jadi, jangan heran kalau memori itu sering muncul tanpa diundang; itu cuma cara otakmu meminta jatah dopamin yang hilang.
Memori Bukan Cuma di Pikiran, Tapi di Kebiasaan
Masalahnya, melupakan seseorang bukan cuma urusan perasaan, tapi juga soal urusan logistik harian. Selama menjalin hubungan, kita membangun apa yang disebut sebagai rutinitas bersama. Kamu mungkin terbiasa mengirim pesan "pagi" setelah bangun tidur, atau punya tempat makan soto langganan yang cuma enak kalau dimakan bareng dia. Bahkan, pemilihan menu kopi pun bisa jadi terpengaruh oleh seleranya.
Saat orangnya pergi, rutinitas itu tetap ada, tapi pemeran utamanya hilang. Inilah yang bikin kita sering "terpeleset". Kamu lewat jalan tertentu, teringat dia. Kamu dengar lagu tertentu, teringat candaannya. Memori manusia itu sifatnya asosiatif. Kita tidak menyimpan kenangan dalam laci-laci yang rapi, melainkan dalam jaring-jaring yang saling terhubung. Selama kamu masih hidup di lingkungan yang sama dengan saat kalian bersama, pemicu kenangan itu akan selalu ada di mana-mana.
Efek Zeigarnik: Urusan yang Belum Selesai
Dalam psikologi, ada istilah keren namanya Zeigarnik Effect. Intinya, otak manusia itu punya kecenderungan untuk lebih mudah mengingat hal-hal yang belum selesai atau terputus di tengah jalan dibandingkan hal-hal yang sudah tuntas. Hubungan yang berakhir seringkali meninggalkan banyak tanda tanya. Kenapa dia berubah? Apa salah saya? Harusnya dulu saya begini...
Pertanyaan-pertanyaan "apa jadinya kalau" atau what-if inilah yang bikin kita terjebak dalam putaran yang sama. Karena kita merasa ada sesuatu yang belum tuntas, otak kita terus-terusan memproses informasi tersebut, mencoba mencari penutup atau closure yang mungkin nggak akan pernah kita dapatkan. Kita sulit melupakan karena kita masih mencoba menyelesaikan puzzle yang kepingannya sudah hilang separuh.
Hantu Digital di Kantong Kita
Mari jujur, hidup di zaman sekarang bikin proses melupakan jadi sepuluh kali lebih sulit dibandingkan zaman orang tua kita dulu. Dulu, kalau putus ya sudah, paling cuma bakar foto atau buang surat. Sekarang? Ada fitur memories di Instagram, ada arsip chat di WhatsApp, ada jejak digital di Spotify yang ngasih tahu kalau dia lagi dengerin lagu galau juga.
Kita sering terjebak dalam kegiatan doomscrolling atau melakukan investigasi digital ke akun sosial medianya. Hal ini sebenarnya merusak proses penyembuhan luka. Setiap kali kita mengintip kehidupannya lewat layar ponsel, kita sebenarnya sedang membuka kembali luka yang hampir mengering. Digital footprint ini adalah "hantu" yang paling nyata di masa modern. Kita tidak benar-benar berpisah selama akun kita masih saling mengikuti, atau selama jempol kita masih gatal untuk mengetik namanya di kolom pencarian.
Menerima Bahwa Lupa Itu Bukan Tujuan
Mungkin kesalahan terbesar kita adalah menetapkan "lupa" sebagai tujuan utama. Padahal, otak manusia yang sehat itu memang didesain untuk mengingat, bukan menghapus. Semakin keras kamu mencoba melupakan, semakin besar perhatian yang kamu berikan pada ingatan itu. Analoginya sederhana: coba jangan pikirkan gajah pink. Pasti yang muncul di kepalamu sekarang adalah gajah pink, kan?
Alih-alih berusaha menghapus memori, yang bisa kita lakukan adalah mengubah resonansi emosinya. Seseorang yang pernah berarti akan selalu punya tempat di satu sudut ingatanmu, dan itu nggak apa-apa. Tujuannya bukan untuk membuat memori itu hilang, tapi untuk sampai pada titik di mana ketika memori itu muncul, dadamu nggak lagi terasa sesak. Kamu cuma akan tersenyum tipis, mengenangnya sebagai salah satu bab yang sudah selesai di buku hidupmu.
Melupakan seseorang memang butuh waktu yang nggak bisa ditentukan oleh kalender manapun. Ada yang butuh sebulan, ada yang butuh bertahun-tahun. Tapi percayalah, seiring berjalannya waktu, otak kita akan mulai membangun rutinitas baru, menemukan dopamin dari sumber yang berbeda, dan perlahan-lahan menumpuk memori lama dengan kenangan-kenangan baru yang lebih segar. Jadi, kalau hari ini kamu masih merasa sulit melupakan, tenang saja. Kamu nggak gagal, kamu cuma sedang menjadi manusia.
Next News

Mengapa Pasar Malam Selalu Punya Daya Tarik Tersendiri?
in 5 hours

Tradisi Lokal yang Diam-Diam Mulai Dikenal Generasi Muda
in 5 hours

Bahasa Daerah di Era Digital: Bertahan, Berubah, atau Menghilang?
in 5 hours

Playlist Berdasarkan Suasana Hati, Mengapa Banyak Orang Melakukannya?
in 5 hours

Radio di Era Streaming: Apakah Siaran Suara Masih Punya Tempat?
in 5 hours

Ternyata Ada Alasan Mengapa Kita Selalu Memilih Tempat Duduk yang Sama
in 5 hours

Kenapa Barang Baru Terasa Lebih Menyenangkan Saat Pertama Kali Dipakai?
in 5 hours

Dunia Terasa Biasa Sampai Kita Mulai Bertanya: Kenapa Hal Sederhana Bisa Terjadi?
in 5 hours

Mengapa Kita Bisa Hafal Lirik Lagu Tanpa Sengaja?
in 6 hours

Kenapa Lagu Tertentu Selalu Mengingatkan Kita pada Seseorang?
in 6 hours





