Jumat, 21 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Lagu Tertentu Selalu Mengingatkan Kita pada Seseorang?

Liaa - Friday, 21 August 2026 | 12:45 PM

Background
Kenapa Lagu Tertentu Selalu Mengingatkan Kita pada Seseorang?

Mesin Waktu di Kantong Celana: Kenapa Lagu Tertentu Selalu Bikin Kita Inget Si 'Dia'?

Bayangkan situasinya begini: Kamu lagi asyik belanja bulanan di supermarket, dorong troli dengan muka datar, sambil mikirin cicilan atau deadline kantor yang nggak habis-habis. Tiba-tiba, speaker di langit-langit toko muter lagu pop menye-menye dari medio 2010-an. Detik itu juga, langkah kaki kamu terhenti. Rasanya kayak ada portal dimensi yang terbuka di antara rak deterjen dan tumpukan mi instan.

Tiba-tiba, kamu nggak lagi di supermarket. Kamu balik ke masa SMA, duduk di motor kehujanan, atau lagi nongkrong di kafe remang-remang sama seseorang yang sekarang statusnya cuma jadi 'penonton setia' Instagram Story kamu. Kamu nggak cuma inget wajahnya, tapi juga bau parfumnya, tawa khasnya, sampai rasa sakit hati yang dulu kamu pikir udah sembuh total. Kenapa sih, otak kita hobi banget mainin drama musikal tanpa izin begini?

Fenomena ini bukan sekadar perasaan "baper" atau cengeng semata. Ada penjelasan ilmiah yang bikin kita sadar kalau otak manusia itu emang dirancang buat jadi "arsiparis" perasaan yang sangat handal kalau udah urusan melodi.

Memori yang "Nyangkut" di Antara Nada

Dalam dunia psikologi, fenomena ini sering disebut sebagai Music-Evoked Autobiographical Memories (MEAMs). Sederhananya, musik itu punya jalur tol khusus menuju pusat emosi di otak kita. Saat kita dengerin lagu sambil ngalamin momen emosional—entah itu lagi jatuh cinta setengah mati atau lagi patah hati sampai rasanya mau pindah planet—otak kita bakal "memotret" momen itu barengan sama lagunya.

Berbeda dengan memori visual yang kadang memudar atau memori verbal yang sering kita lupakan, memori musik itu sifatnya sangat resisten. Itulah kenapa penderita demensia atau Alzheimer seringkali lupa nama cucunya, tapi masih bisa ikut nyanyi dengan lancar pas denger lagu favorit dari masa mudanya. Musik nempel di bagian otak yang namanya hippocampus dan prefrontal cortex, yang bertanggung jawab atas memori jangka panjang dan regulasi emosi.



Jadi, kalau lagu tertentu bikin kamu tiba-tiba inget mantan, itu bukan berarti kamu belum move on (eh, atau mungkin iya juga sih), tapi karena otak kamu emang udah mengunci melodi itu sebagai "label" untuk folder kenangan bersama orang tersebut. Lagu itu adalah shortcut atau jalan pintas untuk ngebuka folder yang selama ini kamu simpan rapat-rapat.

Soundtrack Hidup dan "Reminiscence Bump"

Pernah merasa kalau lagu-lagu zaman dulu jauh lebih enak dan bermakna daripada lagu zaman sekarang? Tenang, kamu nggak sendirian dan kamu nggak (selalu) jadi tua yang menyebalkan. Ada istilah namanya reminiscence bump. Ini adalah kecenderungan orang dewasa untuk lebih mengingat memori yang terjadi selama masa remaja sampai awal usia 20-an.

Di usia-usia itu, identitas kita lagi dibentuk. Perasaan kita lagi meledak-ledak. Cinta pertama, ciuman pertama, atau patah hati pertama biasanya terjadi di rentang usia ini. Karena emosinya sangat intens, lagu yang kita dengerin di masa itu jadi punya "perekat" yang lebih kuat di otak. Makanya, jangan heran kalau lagu-lagu indie atau pop melayu tahun 2000-an punya kekuatan magis yang lebih besar buat bikin kita melankolis dibanding lagu TikTok yang lagi viral minggu ini.

Kita nggak cuma dengerin lagunya, kita dengerin lagi "versi diri kita" yang dulu. Dan seringkali, versi diri kita itu nggak bisa dipisahkan dari kehadiran seseorang yang saat itu ada di samping kita. Musik adalah mesin waktu yang paling murah dan efektif yang pernah ditemukan manusia.

Kenapa Harus Orang Tertentu?

Nggak semua lagu ngingetin kita sama orang. Biasanya, lagu-lagu yang punya "efek samping" ini adalah lagu yang diputar secara berulang (repetisi) atau lagu yang liriknya dirasa sangat mewakili keadaan saat itu. Istilah anak sekarangnya, "Lagu ini gue banget."



Ada juga faktor "Lagu Kita". Ini adalah kesepakatan tak tertulis antara dua orang untuk mengklaim sebuah lagu sebagai simbol hubungan mereka. Entah karena lagu itu diputer pas pertama kali jalan, atau karena liriknya mirip sama kisah perjuangan mereka. Begitu hubungan itu selesai, lagu itu bakal jadi ranjau darat. Kamu nggak bakal tahu kapan bakal denger lagu itu lagi, tapi begitu denger, "BOOM!", efeknya bisa bikin seharian jadi mendung meski di luar lagi panas terik.

Menikmati Nostalgia Tanpa Perlu Tersiksa

Terus, gimana dong kalau kita capek diingetin terus sama masa lalu tiap kali muter Spotify? Sebenarnya, nostalgia itu nggak selamanya buruk. Para ahli bilang kalau nostalgia bisa jadi mekanisme pertahanan diri untuk bikin kita merasa lebih stabil secara emosional. Dengan mengingat masa lalu, kita jadi sadar kalau kita pernah dicintai, pernah bahagia, dan yang terpenting: kita berhasil melewati masa-masa itu.

Lagipula, musik punya kemampuan buat "ditimpa". Kalau dulu sebuah lagu ngingetin kamu sama si A yang udah ninggalin kamu tanpa kabar, coba deh dengerin lagu itu lagi sambil masak bareng temen, atau sambil lari pagi di taman yang sejuk. Perlahan tapi pasti, otak kamu bakal bikin asosiasi baru. Memori lama nggak bakal hilang, tapi dia bakal punya "tetangga" baru yang lebih menyenangkan.

Tapi ya, jujur aja, kadang emang asyik juga kan sesekali menikmati rasa sesak di dada pas denger lagu lama? Kayak ada kepuasan tersendiri bisa ngerasain vibes masa lalu yang udah nggak mungkin terulang lagi. Itu manusiawi banget. Kita semua punya daftar lagu yang sengaja nggak kita hapus dari playlist, bukan karena kita mau balikan, tapi karena kita cuma mau mastiin kalau kita masih punya perasaan.

Jadi, kalau besok-besok kamu tiba-tiba pengen nangis di tengah mall gara-gara denger lagu Sheila on 7 atau Tulus, nggak usah malu. Itu cuma otak kamu lagi ngajak jalan-jalan sebentar ke masa lalu. Nikmati aja perjalanannya, habis itu balik lagi ke kenyataan. Lagian, hidup kan emang gitu: kadang kita yang muter lagunya, kadang lagunya yang muter balik perasaan kita.



Pada akhirnya, lagu-lagu itu adalah saksi bisu. Mereka nggak berubah, kitalah yang berubah. Dan mungkin itu alasan kenapa musik selalu punya tempat spesial di hidup kita—dia menjaga bagian dari diri kita tetap hidup, bahkan ketika orang yang bersangkutan udah lama pergi dari hidup kita.

Tags