Kenapa Barang Baru Terasa Lebih Menyenangkan Saat Pertama Kali Dipakai?
Laila - Friday, 21 August 2026 | 12:00 PM


Euphoria Si Barang Baru: Kenapa Unboxing Selalu Lebih Nagih Daripada Memakainya?
Pernah nggak sih kamu merasa kayak jadi orang paling bahagia sedunia cuma gara-gara baru aja dapet paket dari kurir? Padahal isinya mungkin cuma sepatu lari yang belum tentu dipakai lari tiap pagi, atau gadget baru yang fiturnya sebenarnya sebelas-dua belas sama HP lama. Begitu plastiknya dibuka, aromanya dihirup dalam-dalam—bau pabrik yang khas itu—rasanya dunia mendadak cerah benderang. Ada semacam kepuasan batin yang nggak bisa dijelaskan pake kata-kata baku di KBBI.
Fenomena ini bukan hal aneh. Kita semua, sadar atau nggak, adalah budak dari "rasa baru". Tapi pertanyaannya, kenapa sih barang baru itu rasanya jauh lebih enak, lebih keren, dan lebih menyenangkan pas pertama kali disentuh ketimbang pas sudah nongkrong di rak selama satu bulan? Kenapa semangat kita buat ngerawat barang itu biasanya cuma bertahan seminggu, terus setelahnya dilempar sembarangan? Mari kita bedah pelan-pelan sambil ngopi, biar nggak spaneng.
Dopamin: Si Dalang di Balik Senyum Lebarmu
Secara sains—oke, ini agak berat dikit tapi penting—otak kita itu punya sistem reward yang namanya dopamin. Dopamin ini sering disebut sebagai hormon kebahagiaan, tapi sebenarnya fungsinya lebih ke arah "antisipasi". Jadi, rasa senang yang luar biasa itu sebenarnya sudah muncul bahkan sebelum kamu bayar di kasir atau klik 'Checkout' di aplikasi orange.
Waktu kamu membayangkan bakal punya barang itu, otakmu sudah mulai pesta pora. Pas barangnya sampai dan kamu buka (unboxing), itu adalah puncak dari perayaan dopamin tadi. Masalahnya, dopamin itu sifatnya cuma sementara. Dia kayak tamu yang datang pas lagi seru-serunya party, tapi langsung cabut pas acara bersih-bersih dimulai. Itulah kenapa setelah seminggu, HP baru yang tadinya dielus-elus pakai microfiber, sekarang diletakkan sembarangan di atas meja makan yang penuh sisa kuah soto.
Ilusi "New Version of Me"
Ada satu alasan psikologis yang agak dalem: kita sering beli barang baru karena kita pengen beli "versi baru" dari diri kita sendiri. Pas beli sepatu lari baru, kita nggak cuma beli alas kaki, tapi kita lagi beli bayangan diri kita yang lebih rajin olahraga, lebih sehat, dan lebih estetik kalau difoto di GBK. Pas beli tablet mahal buat kerja, kita merasa jadi orang yang lebih produktif dan profesional.
Barang baru itu membawa harapan. Dia memberikan kita kanvas kosong. Saat pertama kali dipakai, kita merasa harapan itu masih sangat mungkin terjadi. Tapi begitu sudah dipakai beberapa kali dan kita ternyata tetap malas lari atau tetep sering prokrastinasi, barang itu kehilangan "sihirnya". Dia jadi barang biasa lagi karena realita ternyata nggak berubah cuma karena ada barang baru di tangan.
Hedonic Adaptation: Kutukan Rasa Terbiasa
Pernah dengar istilah Hedonic Adaptation? Ini adalah kecenderungan manusia buat balik lagi ke tingkat kebahagiaan yang stabil setelah mengalami kejadian yang sangat positif atau sangat negatif. Sederhananya begini: sebagus apapun barang yang kamu beli, fisik dan mental kamu bakal terbiasa sama barang itu dalam waktu singkat.
Minggu pertama punya mobil baru, rasanya kayak jadi raja jalanan. Minggu kedua, biasa aja. Bulan ketiga, kamu mulai ngeluh karena pajaknya mahal atau bannya kena paku. Kita cepat banget beradaptasi sama kenyamanan. Kebahagiaan dari benda mati itu punya expiration date yang lumayan singkat. Makanya, jangan heran kalau banyak orang yang terjebak dalam lingkaran setan konsumerisme; beli barang baru demi dapet "high" yang sama kayak sebelumnya, terus bosen, terus beli lagi. Gitu terus sampai limit kartu kredit menjerit.
Efek Sosial dan Validasi Digital
Zaman sekarang, kesenangan pakai barang baru juga dipicu sama jempol orang lain. Budaya pamer—eh, maksudnya sharing—di media sosial bikin adrenalin kita makin kenceng. Ada kepuasan tersendiri pas kita posting foto unboxing atau mirror selfie pakai outfit baru terus dapet notifikasi "Nice bro!" atau "Spill link-nya dong kak!".
Barang baru memberikan kita status sosial instan, meskipun itu cuma di layar HP. Kita merasa divalidasi bahwa kita "mampu" dan "up-to-date". Tapi ya itu tadi, setelah fotonya masuk ke arsip story, kesenangannya pun ikut menguap. Kita jadi butuh "konten" baru lagi buat memuaskan ego kita yang haus validasi itu.
Kesimpulan: Nikmati Aja, Tapi Jangan Terjebak
Jadi, salah nggak sih kalau kita seneng banget pas pakai barang baru? Ya nggak salah lah! Itu manusiawi banget. Yang perlu kita pahami adalah bahwa kesenangan itu emang ada masanya. Jangan sampai kita mengejar barang baru cuma buat nutupin kekosongan hati atau rasa bosan dalam hidup, karena itu nggak bakal pernah cukup.
Tips biar barang baru terasa lebih awet "sihirnya" adalah dengan mempraktikkan rasa syukur (ciee, berat nih). Coba deh tiap kali mau pakai barang itu, ingat-ingat perjuangan pas nabung buat belinya. Rawat barangnya seolah-olah itu masih hari pertama. Karena pada akhirnya, bukan barangnya yang bikin kita bahagia, tapi bagaimana kita menghargai apa yang sudah kita miliki.
Gimana? Udah siap mau beli barang baru lagi hari ini, atau mau mulai bersih-bersih barang lama yang sudah berdebu di pojokan kamar? Pilihan di tangan kamu, tapi inget, kurir juga butuh istirahat!
Next News

Mengapa Pasar Malam Selalu Punya Daya Tarik Tersendiri?
in 3 hours

Tradisi Lokal yang Diam-Diam Mulai Dikenal Generasi Muda
in 3 hours

Bahasa Daerah di Era Digital: Bertahan, Berubah, atau Menghilang?
in 3 hours

Playlist Berdasarkan Suasana Hati, Mengapa Banyak Orang Melakukannya?
in 3 hours

Radio di Era Streaming: Apakah Siaran Suara Masih Punya Tempat?
in 3 hours

Ternyata Ada Alasan Mengapa Kita Selalu Memilih Tempat Duduk yang Sama
in 3 hours

Dunia Terasa Biasa Sampai Kita Mulai Bertanya: Kenapa Hal Sederhana Bisa Terjadi?
in 3 hours

Mengapa Kita Bisa Hafal Lirik Lagu Tanpa Sengaja?
in 4 hours

Kenapa Lagu Tertentu Selalu Mengingatkan Kita pada Seseorang?
in 4 hours

Burung Bisa Pulang ke Tempat Semula, Bagaimana Mereka Menemukan Arah?
in 3 hours





