Mengapa Kita Merasa Kurang Bahagia Setelah Terlalu Lama Bermedia Sosial?
Laila - Tuesday, 11 August 2026 | 12:00 PM


Dilema Doomscrolling: Kenapa Makin Scroll Instagram Malah Makin Sumpek?
Bayangkan skenario ini: hari sudah menunjukkan pukul dua pagi. Mata sudah perih, leher sudah kaku karena menunduk berjam-jam, tapi jempol kamu seolah punya nyawa sendiri. Sret, sret, sret. Terus saja menggulir layar. Dari video kucing lucu, beralih ke temen SMA yang tiba-tiba sudah beli rumah di BSD, lalu nyasar ke akun gosip yang isinya orang berantem. Bukannya malah terhibur dan siap tidur dengan tenang, yang ada malah perasaan hampa yang nempel di dada. Pernah ngerasa gitu? Tenang, kamu nggak sendirian.
Fenomena ini bukan hal aneh di zaman sekarang. Kita sering terjebak dalam paradoks teknologi: media sosial diciptakan untuk menghubungkan kita, tapi seringnya malah bikin kita merasa makin terisolasi dan kurang bahagia. Padahal niat awalnya cuma mau cari hiburan sebentar biar nggak stres abis kerja, eh malah tambah mumet. Kenapa sih hal ini bisa terjadi?
Jebakan Batman Bernama 'Highlight Reel'
Sadar atau nggak, apa yang kita lihat di media sosial itu bukan kenyataan yang utuh. Itu cuma "highlight reel" atau potongan-potongan terbaik dari hidup seseorang. Masalahnya, otak kita seringkali lupa akan fakta itu. Kita secara otomatis membandingkan "behind the scenes" hidup kita yang berantakan dengan "hasil editan" hidup orang lain.
Pas kita lagi pusing mikirin tagihan atau cucian yang numpuk, tiba-tiba di timeline muncul postingan teman yang lagi liburan di Iceland atau pamer dapet promosi jabatan. Secara instan, ada suara kecil di kepala yang bilang, "Kok hidup gue gini-gini aja ya?". Inilah yang disebut dengan social comparison. Di dunia nyata, kita mungkin nggak bakal sesering itu dapet asupan pencapaian orang lain. Tapi di media sosial, pamer adalah mata uang utama. Walhasil, rasa syukur kita jadi cepat habis tergerus oleh standar semu yang ada di layar handphone.
Dopamin Murahan dan Kelelahan Mental
Secara biologis, aplikasi media sosial itu didesain mirip mesin slot di kasino. Fitur "pull-to-refresh" itu bikin otak kita ketagihan nungguin hal baru apa lagi yang bakal muncul. Tiap ada notifikasi, like, atau komentar, otak kita ngelepasin dopamin—zat kimia yang bikin kita ngerasa senang sesaat. Masalahnya, ini adalah dopamin murahan.
Ketika kita terus-terusan dapet suntikan kesenangan instan tanpa usaha, otak kita lama-lama jadi kebas. Kita butuh asupan yang lebih banyak lagi buat ngerasain level bahagia yang sama. Inilah yang bikin kita susah berhenti scrolling meskipun sudah merasa capek. Ujung-ujungnya, mental kita mengalami kelelahan atau digital burnout. Informasi yang masuk terlalu cepat, terlalu banyak, dan terlalu beragam bikin sistem saraf kita kerja lembur tanpa bayaran.
Paradoks Koneksi: Ramai di Layar, Sepi di Kamar
Banyak dari kita yang punya followers ribuan, tapi kalau ditanya siapa yang bisa diajak curhat jam dua pagi pas lagi sedih-sedihnya, mungkin jempol kita malah bingung mau chat siapa. Media sosial seringkali cuma kasih kita "ilusi koneksi". Kita merasa dekat karena sering lihat update story-nya, tapi secara emosional kita nggak benar-benar terhubung.
Interaksi di media sosial itu dangkal. Kita cuma kasih jempol atau emoji api, tanpa benar-benar ngobrol mendalam. Lama-lama, kualitas hubungan sosial kita di dunia nyata ikut menurun karena kita lebih sibuk mikirin gimana caranya bikin konten yang bagus daripada menikmati momen bareng orang di depan mata. Kita jadi lebih peduli pada validasi dari orang asing daripada kenyamanan dari orang terdekat. Rasa kesepian inilah yang diam-diam menggerogoti kebahagiaan kita.
Efek 'Fear Of Missing Out' (FOMO) yang Nggak Ada Habisnya
Siapa sih yang nggak takut ketinggalan tren? Entah itu tempat kopi baru yang lagi viral, istilah slang terbaru di X (Twitter), atau drama selebgram yang lagi panas-panasnya. Media sosial menciptakan urgensi palsu kalau kita harus tahu semuanya saat itu juga. Kalau nggak tahu, kita merasa kayak orang kuper alias kurang pergaulan.
FOMO ini bikin level kecemasan kita naik. Kita jadi merasa harus selalu "on" dan memantau layar setiap saat. Padahal, sebagian besar informasi yang kita konsumsi itu sebenarnya nggak ada gunanya buat kelangsungan hidup kita. Tapi ya gitu, rasa takut ketinggalan itu jauh lebih kuat daripada keinginan buat istirahat tenang. Kita jadi lupa caranya bosan, padahal dari rasa bosan itulah biasanya ide-ide kreatif muncul.
Lalu, Harus Gimana?
Kita nggak perlu ekstrem langsung hapus semua akun dan balik ke zaman batu pakai surat kaleng. Kuncinya ada di kesadaran atau mindfulness. Coba deh mulai kurangi durasi main sosmed, terutama pas bangun tidur dan sebelum tidur. Alih-alih langsung buka Instagram pas mata baru melek, mending minum air putih atau peregangan sebentar.
Kurasi juga siapa yang kamu ikuti. Kalau ada akun yang cuma bikin kamu merasa rendah diri, nggak cukup sukses, atau malah bikin emosi tiap kali lewat di timeline, jangan ragu buat klik tombol unfollow atau minimal mute. Kebahagiaan kamu jauh lebih berharga daripada jumlah followers mereka.
Ingat, media sosial itu alat, bukan tujuan. Jangan sampai kita yang dikendalikan oleh algoritma, tapi kitalah yang harus pegang kendali. Dunia nyata mungkin nggak seestetik filter Paris di Instagram, tapi setidaknya di sini kita bisa benar-benar bernapas, merasakan hangatnya kopi tanpa perlu difoto dulu, dan tertawa bareng teman tanpa perlu sibuk nyari sudut kamera yang pas. Cobain deh, rasanya jauh lebih lega.
Next News

Dilema Depan Rak Minimarket: Pilih Langsung Bayar atau Cek Promo?
5 hours ago

Ketika AI Mulai Menjadi Teman Kerja, Bukan Sekadar Alat
5 hours ago

Ketika Trotoar Berubah Menjadi Ruang Kehidupan Warga
5 hours ago

Gigi Berlubang Bisa Mematikan? Ini Bahaya Infeksi Gigi yang Sering Diremehkan
an hour ago

Dunia Tanpa Kriuk: Apa Jadinya Kalau Semua Makanan Cuma Boleh Dikukus?
an hour ago

Bukan Cuma Bungkus Makanan, Ini 6 Kegunaan Aluminium Foil yang Jarang Diketahui
an hour ago

Bukan Cuma Jago Matematika, Ini 7 Ciri Anak Cerdas yang Punya Empati Tinggi
an hour ago

Siwak: Bukan Sekadar Kayu untuk Membersihkan Gigi, Ini Fakta dan Manfaatnya
an hour ago

Nanas: Buah Asam-Manis yang Kaya Manfaat, dari Vitamin C hingga Bromelain
an hour ago

Rahasia di Balik Otot yang Tumbuh: Bukan Sulap, Begini Cara Otot Jadi Lebih Besar
2 hours ago





