Ketika Trotoar Berubah Menjadi Ruang Kehidupan Warga
Laila - Tuesday, 11 August 2026 | 12:00 PM


Lebih dari Sekadar Pijakan: Saat Trotoar Menjelma Jadi Ruang Napas dan Ruang Cari Cuan
Pernahkah kalian jalan kaki di Jakarta, atau mungkin di kota-kota besar lainnya di Indonesia, terus tiba-tiba merasa kalau trotoar itu fungsinya sudah beralih fungsi jadi segalanya kecuali tempat jalan kaki? Kalau jawabannya iya, selamat, kalian baru saja menyaksikan fenomena sosiologis paling nyata di negeri ini. Trotoar di kita itu bukan cuma soal beton atau ubin pemandu buat tunanetra, tapi sudah jadi ruang kehidupan yang lebih dinamis daripada mal ber-AC sekalipun.
Bayangkan saja, dalam rentang sepuluh meter trotoar, kita bisa menemukan ekosistem yang luar biasa lengkap. Ada abang penjual gorengan yang wajannya panas membara, bapak-bapak yang asyik main catur sambil nyeruput kopi hitam, hingga mbak-mbak kantoran yang lagi nunggu ojek online sambil scrolling TikTok. Trotoar kita adalah ruang publik yang paling jujur, di mana strata sosial seolah melebur jadi satu dalam kepulan asap knalpot dan aroma sate ayam.
Antara Fungsi Estetika dan Realitas Perut
Pemerintah kota biasanya punya mimpi yang mulia: trotoar lebar, bersih, dan estetik ala-ala di luar negeri. Kalau kita main ke Sudirman atau Thamrin, memang suasananya sudah lumayan mendekati "vibe" kota global. Tapi, coba geser sedikit ke kawasan seperti Senen, Blok M, atau daerah satelit lainnya. Trotoar berubah jadi pasar tumpah. Di sini, konflik antara fungsi dan realitas perut mulai terasa panas.
Bagi pejalan kaki, trotoar yang penuh PKL (Pedagang Kaki Lima) tentu menyebalkan. Kita dipaksa turun ke aspal, bersaing nyawa dengan motor dan mobil yang melaju kencang. Tapi di sisi lain, siapa sih yang nggak tergoda buat melipir sebentar beli siomay atau es teh plastik pas matahari lagi terik-teriknya? Inilah dilemanya. Kita butuh trotoar yang kosong buat jalan, tapi kita juga butuh "kehidupan" yang ada di atasnya buat bertahan hidup di tengah kerasnya kota.
Menurut gue, trotoar di Indonesia itu bukan sekadar infrastruktur, tapi merupakan jaring pengaman ekonomi. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari jualan di atas trotoar karena akses ke ruang usaha yang layak itu mahal banget. Jadi, jangan heran kalau usaha penertiban Satpol PP itu sering berakhir jadi drama kejar-kejaran yang nggak ada habisnya. Ini bukan cuma soal aturan, tapi soal urusan perut yang nggak bisa ditawar.
Trotoar Sebagai Panggung Budaya "Nongkrong"
Satu hal yang unik dari warga kita adalah kemampuan luar biasa untuk menciptakan kenyamanan di tempat yang paling nggak nyaman sekalipun. Di tangan anak muda zaman sekarang, trotoar nggak lagi dianggap sebagai tempat kotor. Lihat saja fenomena "Citayam Fashion Week" yang sempat viral beberapa waktu lalu. Trotoar di kawasan Dukuh Atas mendadak jadi panggung catwalk paling demokratis sepanjang sejarah Indonesia.
Nggak perlu bayar tiket masuk, nggak perlu pakai baju bermerek mahal—selama kalian punya nyali dan gaya, trotoar adalah milik kalian. Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita haus akan ruang publik. Karena taman kota masih terbatas dan mal mulai terasa membosankan (serta menguras kantong), trotoar pun jadi alternatif. Kita bisa melihat bagaimana budaya "nongkrong" atau sekadar duduk-duduk tanpa tujuan alias "ngalamun" menemukan wadahnya di sini.
Di Jogja, misalnya, trotoar Malioboro adalah ruang nostalgia. Orang-orang rela duduk berjam-jam cuma buat dengerin pengamen jalanan atau sekadar melihat lalu lalang manusia. Di sini, trotoar sudah naik kelas dari sekadar jalur transportasi menjadi ruang kontemplasi dan hiburan rakyat murah meriah.
Invasi Motor: Musuh Bersama di Trotoar
Kalau kita bicara soal trotoar sebagai ruang kehidupan, kita nggak bisa menutup mata dari musuh bebuyutan pejalan kaki: motor yang naik ke trotoar. Ini sih namanya sudah bukan "ruang kehidupan" lagi, tapi "ruang adu nyali". Sering banget kita lihat pemotor yang lebih galak daripada pejalan kaki kalau jalannya terhalang. Padahal, secara aturan jelas, trotoar itu hak mutlak pejalan kaki.
Fenomena ini menunjukkan kalau egoisme di jalan raya kita masih sangat tinggi. Trotoar yang harusnya jadi tempat paling aman bagi warga buat bergerak tanpa mesin, malah dikuasai oleh mereka yang malas macet-macetan. Ini PR besar buat kita semua. Bagaimana mau mengajak orang buat hidup sehat dengan jalan kaki kalau trotoarnya saja dihantui oleh knalpot brong?
Mencari Jalan Tengah: Trotoar yang Manusiawi
Lantas, apa solusinya? Apakah trotoar harus steril bersih tanpa ada satu pun pedagang? Rasanya itu mustahil dan malah bikin kota terasa mati. Kota yang terlalu rapi dan steril tanpa interaksi manusia itu membosankan. Tapi, membiarkan trotoar semrawut juga bukan pilihan bijak.
Mungkin kuncinya adalah penataan yang inklusif. Di beberapa kota di luar negeri, ada jam-jam tertentu di mana pedagang boleh jualan, atau ada area khusus yang dikelola supaya pejalan kaki tetap punya jalur yang lapang. Trotoar harus bisa merangkul semua kepentingan. Ia harus jadi tempat yang aman buat anak-anak berjalan, ramah buat disabilitas dengan ubin pengarah yang benar (nggak nabrak pohon atau tiang listrik, ya!), tapi juga tetap memberi ruang buat denyut ekonomi mikro.
Pada akhirnya, trotoar adalah cerminan peradaban sebuah kota. Bagaimana kita memperlakukan trotoar menunjukkan seberapa besar kita menghargai sesama warga. Apakah kita melihatnya cuma sebagai beton mati, atau sebagai ruang bernapas di tengah sesaknya gedung-gedung tinggi? Kalau kalian lewat trotoar besok pagi, coba perhatikan lebih detail. Ada banyak cerita, keringat, dan tawa yang tumpah di sana. Trotoar adalah saksi bisu perjuangan hidup warga kota yang nggak pernah tidur.
Jadi, yuk mulai hargai trotoar kita. Jangan parkir sembarangan di sana, jangan naik motor lewat sana, dan buat para pembuat kebijakan, tolong kalau bikin trotoar jangan cuma mengejar proyek, tapi pikirkan juga kenyamanan dan keamanannya buat manusia, bukan buat pajangan doang.
Next News

Dilema Depan Rak Minimarket: Pilih Langsung Bayar atau Cek Promo?
5 hours ago

Ketika AI Mulai Menjadi Teman Kerja, Bukan Sekadar Alat
5 hours ago

Mengapa Kita Merasa Kurang Bahagia Setelah Terlalu Lama Bermedia Sosial?
5 hours ago

Gigi Berlubang Bisa Mematikan? Ini Bahaya Infeksi Gigi yang Sering Diremehkan
an hour ago

Dunia Tanpa Kriuk: Apa Jadinya Kalau Semua Makanan Cuma Boleh Dikukus?
an hour ago

Bukan Cuma Bungkus Makanan, Ini 6 Kegunaan Aluminium Foil yang Jarang Diketahui
an hour ago

Bukan Cuma Jago Matematika, Ini 7 Ciri Anak Cerdas yang Punya Empati Tinggi
an hour ago

Siwak: Bukan Sekadar Kayu untuk Membersihkan Gigi, Ini Fakta dan Manfaatnya
an hour ago

Nanas: Buah Asam-Manis yang Kaya Manfaat, dari Vitamin C hingga Bromelain
2 hours ago

Rahasia di Balik Otot yang Tumbuh: Bukan Sulap, Begini Cara Otot Jadi Lebih Besar
3 hours ago





