Kamis, 22 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengapa Jerawat Sering Muncul Menjelang Menstruasi?

Tata - Wednesday, 21 October 2026 | 04:41 PM

Background
Mengapa Jerawat Sering Muncul Menjelang Menstruasi?

Jerawat yang muncul menjelang menstruasi merupakan masalah kulit yang cukup umum dialami perempuan. Ketika menstruasi semakin dekat, beberapa orang mendapati jerawat mulai bermunculan di dagu, rahang, atau bagian wajah lainnya. Menariknya, jerawat tersebut terkadang mereda setelah menstruasi selesai, tetapi dapat kembali muncul pada siklus berikutnya.

Perubahan ini bukan sekadar kebetulan. Salah satu faktor yang berperan adalah fluktuasi hormon selama siklus menstruasi. Perubahan tersebut dapat memengaruhi produksi minyak, kondisi pori-pori, dan respons peradangan pada kulit.

Lantas, mengapa jerawat lebih sering muncul menjelang menstruasi dan bagaimana cara mengatasinya?

1. Perubahan Hormon Memengaruhi Produksi Minyak

Salah satu penyebab utama jerawat menjelang menstruasi adalah perubahan keseimbangan hormon. Sepanjang siklus menstruasi, kadar hormon estrogen dan progesteron mengalami perubahan, sementara hormon androgen juga berperan dalam mengatur aktivitas kelenjar minyak.

Androgen dapat merangsang kelenjar sebaceous atau kelenjar sebasea untuk menghasilkan lebih banyak sebum, yaitu minyak alami yang membantu menjaga kelembapan kulit. Pada sebagian perempuan, perubahan hormon menjelang menstruasi dapat membuat kulit terasa lebih berminyak.



Ketika produksi sebum meningkat, minyak dapat bercampur dengan sel kulit mati dan menyumbat pori-pori. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang mendukung terbentuknya jerawat, terutama jika disertai peradangan.

Namun, respons kulit terhadap hormon berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang mengalami jerawat cukup parah sebelum menstruasi, sedangkan yang lain hanya mengalami beberapa bintik kecil atau tidak mengalami perubahan berarti.

2. Pori-Pori Lebih Mudah Tersumbat

Jerawat tidak hanya berkaitan dengan jumlah minyak pada kulit, tetapi juga proses pergantian sel kulit. Sel kulit mati yang tidak terlepas secara optimal dapat menumpuk dan bercampur dengan sebum di dalam pori-pori.

Sumbatan tersebut dapat membentuk komedo yang kemudian berkembang menjadi jerawat meradang. Jika lingkungan folikel rambut mendukung pertumbuhan bakteri Cutibacterium acnes, respons peradangan juga dapat meningkat.

Perubahan hormonal menjelang menstruasi dapat memperburuk kecenderungan ini pada orang yang rentan mengalami jerawat. Akibatnya, kulit yang sebelumnya tampak baik-baik saja bisa mulai menunjukkan komedo, benjolan kemerahan, atau jerawat yang terasa nyeri.



3. Jerawat Sering Muncul di Dagu dan Rahang

Jerawat yang berkaitan dengan siklus menstruasi kerap ditemukan di bagian bawah wajah, terutama dagu dan garis rahang. Sebagian perempuan juga mengalaminya di pipi bagian bawah atau area wajah lainnya.

Pola tersebut sering dikaitkan dengan pengaruh hormon terhadap kelenjar minyak dan peradangan kulit. Jerawat hormonal juga dapat muncul sebagai benjolan yang lebih dalam, terasa sakit ketika disentuh, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk mereda.

Meski demikian, lokasi jerawat saja tidak cukup untuk memastikan penyebabnya. Jerawat di dagu atau rahang juga dapat dipengaruhi faktor lain, seperti produk kosmetik yang menyumbat pori-pori, gesekan, dan kebiasaan menyentuh wajah.

4. Stres Dapat Memperburuk Kondisi Jerawat

Menjelang menstruasi, sebagian perempuan mengalami perubahan suasana hati, gangguan tidur, atau peningkatan tekanan emosional. Jika stres meningkat, kondisi kulit juga dapat ikut terpengaruh.

Stres dapat memengaruhi respons hormonal dan proses peradangan tubuh. Pada orang yang rentan berjerawat, keadaan ini berpotensi memperburuk jerawat yang sudah ada.



Selain itu, stres dapat membuat seseorang kurang konsisten menjalankan rutinitas perawatan kulit, lebih sering menyentuh wajah, atau mengalami perubahan kebiasaan tidur.

Karena itu, menjaga kualitas tidur, melakukan aktivitas fisik secara teratur, dan menyediakan waktu untuk beristirahat dapat menjadi bagian dari upaya mendukung kesehatan kulit. Langkah-langkah ini bukan jaminan jerawat akan hilang, tetapi dapat membantu menjaga kondisi tubuh secara keseluruhan.

5. Pola Makan dan Kebiasaan Perawatan Kulit Ikut Berpengaruh

Selain hormon, pola makan dan penggunaan produk perawatan kulit juga dapat memengaruhi jerawat pada sebagian orang.

Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara jerawat dan pola makan dengan indeks glikemik tinggi, seperti konsumsi makanan atau minuman yang cepat meningkatkan kadar gula darah. Pada sebagian individu, produk susu tertentu juga dikaitkan dengan jerawat, meskipun pengaruhnya tidak sama pada setiap orang.

Namun, tidak tepat jika semua jerawat menjelang menstruasi langsung dianggap disebabkan oleh makanan tertentu. Perubahan hormon tetap menjadi salah satu faktor penting, sementara pola makan merupakan bagian dari faktor yang dapat berkontribusi.



Penggunaan produk perawatan kulit yang terlalu keras, pembersihan berlebihan, atau kosmetik yang menyumbat pori-pori juga dapat memperburuk kondisi kulit. Oleh sebab itu, perawatan sebaiknya disesuaikan dengan jenis dan kebutuhan kulit masing-masing.

6. Cara Mencegah Jerawat Menjelang Menstruasi

Jerawat hormonal tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya, tetapi beberapa kebiasaan dapat membantu mengurangi risiko kemunculan dan tingkat keparahannya.

Pertama, bersihkan wajah secara lembut dua kali sehari dan setelah berkeringat. Hindari menggosok kulit terlalu keras karena iritasi dapat membuat jerawat semakin meradang.

Kedua, gunakan pelembap dan tabir surya yang berlabel nonkomedogenik, yaitu diformulasikan agar tidak mudah menyumbat pori-pori. Kulit yang berjerawat tetap membutuhkan kelembapan dan perlindungan dari sinar matahari.

Ketiga, hindari memencet jerawat. Kebiasaan ini dapat memperparah peradangan, meningkatkan risiko infeksi, dan meninggalkan bekas kehitaman atau jaringan parut.



Keempat, catat kapan jerawat muncul selama beberapa siklus menstruasi. Catatan sederhana dapat membantu mengenali pola dan mengetahui apakah jerawat memang cenderung memburuk menjelang menstruasi.

Kelima, jika diperlukan, bahan aktif seperti asam salisilat atau benzoil peroksida dapat membantu menangani jerawat. Gunakan sesuai petunjuk produk dan mulailah secara bertahap untuk mengurangi risiko iritasi. Jika sedang hamil atau merencanakan kehamilan, konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan obat jerawat, terutama retinoid.

7. Kapan Jerawat Perlu Diperiksakan ke Dokter?

Jerawat yang muncul sesekali menjelang menstruasi umumnya dapat dirawat dengan rutinitas perawatan kulit yang sesuai. Namun, pemeriksaan dokter kulit sebaiknya dipertimbangkan apabila jerawat terasa sangat nyeri, berbentuk benjolan dalam, sering meninggalkan bekas luka, atau tidak membaik dengan perawatan mandiri.

Dokter dapat menilai jenis jerawat dan menentukan perawatan yang sesuai. Pada kondisi tertentu, terapi hormonal atau obat resep mungkin dipertimbangkan berdasarkan kondisi dan kebutuhan pasien.

Jika jerawat disertai menstruasi yang sangat tidak teratur, pertumbuhan rambut berlebihan pada wajah atau tubuh, maupun keluhan lain yang mengarah pada gangguan hormon, konsultasi medis juga penting untuk mengevaluasi kemungkinan penyebabnya.



Kesimpulan

Jerawat sering muncul menjelang menstruasi karena perubahan hormon dapat memengaruhi produksi minyak, penyumbatan pori-pori, dan peradangan kulit. Stres, pola makan, serta penggunaan produk perawatan yang kurang sesuai juga dapat berperan dalam memperburuk kondisi pada sebagian orang.

Meski jerawat hormonal merupakan hal yang umum, kondisi ini tidak harus dibiarkan tanpa penanganan. Menjaga kebersihan wajah, menggunakan produk yang sesuai, menghindari kebiasaan memencet jerawat, dan mencari bantuan dokter jika diperlukan dapat membantu menjaga kesehatan kulit selama siklus menstruasi.