Mengapa Detak Jantung Naik Saat Berolahraga?
Laila - Saturday, 11 July 2026 | 11:25 AM


Pernah Mikir Nggak Sih Kenapa Jantung Kayak Mau Copot Pas Lagi Olahraga? Ini Penjelasannya!
Bayangkan skenario ini: Kamu lagi semangat-semangatnya memulai gaya hidup sehat. Kamu pakai sepatu lari paling keren, pasang playlist EDM di Spotify, lalu mulai lari keliling kompleks. Baru jalan lima menit, eh, dada rasanya sudah kayak ada konser musik metal. Jedag-jedug nggak karuan. Napas juga mulai pendek-pendek, alias ngosh-ngosan parah. Di saat itu, mungkin terlintas di pikiranmu, "Waduh, ini jantung aman nggak ya? Kok heboh banget?"
Tenang, sobat rebahan yang baru tobat. Fenomena jantung yang berpacu kencang saat kita lagi keringetan itu sebenarnya adalah cara tubuh kita bilang kalau dia lagi kerja keras buat kita. Ini bukan tanda-tanda mau pingsan (kecuali kalau kamu memang memaksakan diri melampaui batas, ya), melainkan mekanisme biologis yang super canggih. Mari kita bedah pelan-pelan kenapa si organ sebesar kepalan tangan ini bisa se-agresif itu saat kita gaspol olahraga.
Jantung: CEO Logistik di Tubuh Kamu
Kalau kita ibaratkan tubuh kita ini sebuah perusahaan besar, jantung itu posisinya adalah CEO sekaligus manajer logistik. Tugas utamanya satu: memastikan semua divisi (organ dan otot) dapat pasokan yang cukup buat operasional harian. Nah, pas kamu mulai olahraga—entah itu angkat beban, lari, atau cuma sekadar zumba lewat YouTube—otot-otot kamu tiba-tiba berubah jadi divisi yang paling cerewet dan banyak maunya.
Saat bergerak aktif, otot butuh energi yang berkali-kali lipat lebih banyak daripada saat kamu cuma duduk scroll TikTok. Energi ini diproduksi lewat pembakaran oksigen dan nutrisi. Masalahnya, otot nggak punya stok oksigen yang melimpah. Mereka butuh kiriman "instan". Di sinilah jantung beraksi. Supaya oksigen yang dibawa oleh darah bisa sampai ke otot tepat waktu, jantung harus memompa lebih cepat dan lebih kuat. Ibaratnya, kalau biasanya kurir pengantar paket jalannya santai pakai motor matic, pas lagi olahraga, jantung berubah jadi pembalap MotoGP yang ngebut demi mengejar deadline.
Bukan Cuma Kirim Barang, Tapi Juga Buang Sampah
Selain mengirimkan oksigen dan sari-sari makanan, jantung yang berdetak kencang punya tugas lain yang nggak kalah krusial: mengangkut sampah. Ketika otot bekerja keras, mereka menghasilkan produk sampingan berupa karbon dioksida dan asam laktat. Kalau zat-zat sisa ini numpuk di otot tanpa dibuang, badan kamu bakal terasa pegal luar biasa dan kram dalam sekejap.
Maka dari itu, darah yang sudah "kotor" karena membawa karbon dioksida tadi harus cepat-cepat ditarik kembali ke paru-paru buat ditukar lagi sama oksigen segar. Sirkulasi bolak-balik ini butuh kecepatan tinggi. Jadi, kalau detak jantungmu naik dari 70 kali per menit jadi 140 atau bahkan 170 kali per menit, itu tandanya sistem pembuangan sampah di tubuhmu lagi bekerja di level maksimal supaya kamu nggak cepat loyo.
Adrenalin: Sang "Hype Man" yang Bikin Heboh
Pernah merasa tiba-tiba bersemangat pas dengar musik up-beat atau pas lagi tanding futsal? Itu kerjaannya adrenalin. Saat kita mulai beraktivitas fisik, otak kita langsung kirim sinyal ke kelenjar adrenal buat merilis hormon adrenalin. Hormon ini adalah "hype man" sejati. Dia bakal membisikkan perintah ke jantung: "Woi, ayo lebih kencang lagi! Ini orang lagi mau lari kencang!"
Adrenalin inilah yang bikin pembuluh darah melebar supaya aliran darah makin lancar dan bikin detak jantung makin kencang bahkan sebelum otot kita benar-benar merasa capek. Jadi, kenaikan detak jantung itu nggak cuma karena faktor fisik, tapi juga faktor hormonal yang sudah diatur otomatis oleh sistem saraf kita. Canggih, kan?
Bedanya Atlet Pro sama Kaum "Jompo"
Nah, di sini ada fakta menarik. Pernah nggak kamu lihat atlet lari maraton yang setelah lari berkilo-kilo meter mukanya masih tenang-tenang saja, sementara kita baru naik tangga JPO saja sudah kayak mau pingsan? Itu semua soal efisiensi. Jantung atlet itu ibarat mesin mobil sport yang sudah di-tune up. Karena mereka rajin latihan, otot jantung mereka jadi lebih kuat dan ruang jantungnya bisa menampung serta memompa lebih banyak darah dalam satu kali detak.
Buat kita-kita yang masuk kategori "kaum jompo" atau yang jarang gerak, jantung kita cenderung kurang efisien. Karena jarang dilatih, jantung harus berdetak lebih sering hanya untuk mengalirkan jumlah darah yang sama. Itulah kenapa orang yang rajin olahraga biasanya punya "resting heart rate" atau detak jantung istirahat yang lebih rendah. Semakin fit kamu, semakin santai jantungmu bekerja saat nggak ngapa-ngapain.
Kapan Harus Mulai Khawatir?
Meskipun detak jantung naik itu normal, bukan berarti kita bisa cuek bebek sama alarm tubuh. Ada batasnya, kawan. Kalau pas lagi olahraga detak jantungmu dibarengi sama rasa nyeri dada yang kayak ditekan beban berat, pusing kliyengan sampai mau pingsan, atau napas yang saking sesaknya sampai nggak bisa ngomong sepatah kata pun, itu tandanya kamu harus berhenti. Jangan sok keras, tubuhmu lagi kasih kode kalau dia sudah di batas limit.
Penting juga buat tahu yang namanya "Maximum Heart Rate". Rumus gampangnya sih 220 dikurangi umurmu. Kalau umurmu 20 tahun, berarti batas maksimal detak jantungmu sekitar 200 kali per menit. Mengusahakan detak jantung di angka 70-85% dari batas maksimal itu sudah cukup banget buat bikin kamu sehat tanpa harus mengorbankan nyawa.
Kesimpulan
Jadi, mulai sekarang, kalau pas lagi olahraga jantungmu terasa berdegup kencang, jangan malah takut. Syukuri saja. Itu artinya mesin di dalam tubuhmu masih berfungsi dengan baik. Dia lagi mati-matian mendukung ambisimu buat punya badan yang lebih fit atau sekadar membakar kalori habis makan seblak semalam.
Olahraga memang bukan soal gaya-gayaan doang, tapi soal melatih si CEO Logistik alias jantung kita biar makin pinter dan kuat. Semakin sering kamu ajak dia "latihan", semakin tenang dia menghadapi tantangan di masa depan. Yuk, mulai gerak lagi, jangan kasih kendor, tapi tetap ingat buat dengerin apa kata tubuh sendiri. Tetap sehat dan jangan lupa minum air putih!
Next News

Mengapa Pelajaran Tertentu Terasa Sulit Padahal Sebenarnya Menarik?
11 minutes ago

Mengapa Orang Lebih Cepat Membaca Judul daripada Isi Berita?
11 minutes ago

Kenapa Kita Sering Membayangkan Skenario yang Belum Tentu Terjadi?
11 minutes ago

Mengapa Pemandangan Alam Bisa Membuat Pikiran Lebih Tenang?
11 minutes ago

Setelah Mengetahui Alasannya, Kamu Mungkin Akan Melihatnya dengan Cara Berbeda
11 minutes ago

Kelihatannya Sepele, tetapi Dampaknya Bisa Tidak Terduga
11 minutes ago

Ternyata Bukan Kebetulan, Ini Alasan di Balik Fenomena Sehari-hari
11 minutes ago

Ternyata Ada Alasan Mengapa Kita Melakukan Hal Ini Setiap Hari
11 minutes ago

Maulid Nabi Bukan Sekadar Tradisi, Ini Pelajaran Akhlak Rasulullah yang Relevan di Zaman Sekarang
in 2 hours

Bekerja Sendiri atau Bersama Tim? Kenali Kelebihan dan Tantangannya
in 2 hours





