Mengapa Anak-anak Cenderung Menyukai Rasa Manis? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Tata - Wednesday, 28 October 2026 | 05:28 PM


Mengapa Anak-anak Cenderung Menyukai Rasa Manis?
Pernahkah Anda memperhatikan anak-anak yang lebih bersemangat ketika melihat permen, cokelat, es krim, atau kue manis dibandingkan sayuran? Kebiasaan ini bukan sekadar akibat iklan atau pengaruh lingkungan. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak memang memiliki kecenderungan biologis untuk menyukai rasa manis, bahkan sejak usia dini.
Preferensi terhadap rasa manis dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari perkembangan tubuh hingga pengalaman makan sehari-hari. Memahami penyebabnya dapat membantu orang tua membentuk pola makan yang lebih sehat tanpa harus sepenuhnya melarang anak menikmati makanan manis.
1. Rasa Manis Merupakan Preferensi Alami Sejak Dini
Manusia sudah menunjukkan ketertarikan terhadap rasa manis sejak awal kehidupan. Bayi, misalnya, cenderung menerima rasa manis yang terdapat dalam ASI. Secara biologis, respons ini diperkirakan membantu manusia mengenali makanan yang dapat menyediakan energi.
Rasa manis umumnya berkaitan dengan keberadaan gula atau karbohidrat tertentu yang dapat digunakan tubuh sebagai sumber energi. Dalam lingkungan alami, buah-buahan yang matang menjadi salah satu contoh makanan manis yang juga menyediakan vitamin, mineral, dan serat.
Kecenderungan tersebut tidak berarti semua makanan manis pasti sehat. Permen, minuman berpemanis, dan kue dengan gula tambahan memiliki kandungan gizi yang berbeda dari buah utuh.
2. Anak-anak Sedang Mengalami Masa Pertumbuhan
Masa kanak-kanak merupakan periode penting bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan otak. Pada tahap ini, tubuh membutuhkan energi dan berbagai zat gizi untuk mendukung aktivitas serta perkembangannya.
Sejumlah penelitian mengemukakan bahwa preferensi terhadap rasa manis mungkin berkaitan dengan kebutuhan energi selama masa pertumbuhan. Namun, hubungan ini tidak berarti anak harus mengonsumsi banyak gula untuk memenuhi kebutuhan energinya.
Energi dapat diperoleh dari berbagai sumber makanan, seperti nasi, kentang, jagung, buah-buahan, serta sumber karbohidrat lainnya. Protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral juga diperlukan agar pertumbuhan berlangsung optimal.
3. Anak Lebih Sensitif terhadap Rasa Pahit
Selain cenderung menyukai rasa manis, anak-anak juga dapat menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap rasa pahit dibandingkan orang dewasa. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa sebagian anak menolak sayuran tertentu, seperti pare atau sayuran berdaun dengan rasa pahit.
Sensitivitas terhadap rasa pahit dipengaruhi oleh perkembangan usia dan variasi biologis setiap individu. Karena itu, respons anak terhadap makanan tidak selalu sama.
Meskipun anak menolak suatu sayuran pada percobaan pertama, orang tua dapat memperkenalkannya kembali secara bertahap. Menyajikan sayuran dengan cara memasak yang berbeda dan menggabungkannya dengan makanan yang sudah dikenal dapat membantu anak lebih terbiasa.
4. Kebiasaan Makan Keluarga Ikut Membentuk Selera
Preferensi terhadap rasa manis tidak hanya dipengaruhi oleh faktor bawaan. Pengalaman makan sejak dini juga berperan dalam membentuk selera anak.
Jika anak terbiasa mendapatkan minuman manis, permen, atau makanan dengan gula tambahan setiap hari, makanan dengan rasa manis yang kuat dapat menjadi bagian dari kebiasaan makannya.
Sebaliknya, anak yang diperkenalkan pada beragam makanan sehat sejak dini memiliki kesempatan untuk mengenali berbagai rasa, termasuk rasa alami buah dan sayuran.
Orang tua dapat memberikan contoh melalui kebiasaan makan keluarga. Menyediakan air putih, buah utuh, dan makanan bergizi di rumah merupakan langkah sederhana untuk membantu anak membangun pilihan makanan yang lebih baik.
5. Makanan Manis Memberikan Pengalaman yang Menyenangkan
Makanan manis sering dikaitkan dengan pengalaman menyenangkan. Anak mungkin mendapatkan permen sebagai hadiah, menikmati kue saat ulang tahun, atau menerima cokelat ketika merayakan sesuatu.
Pengalaman tersebut dapat membuat anak menghubungkan makanan manis dengan perasaan senang dan penghargaan. Akibatnya, ketertarikan terhadap makanan tersebut bisa semakin kuat.
Untuk membangun kebiasaan yang lebih sehat, orang tua sebaiknya tidak selalu menjadikan permen atau cokelat sebagai hadiah utama. Pujian, kegiatan bermain bersama, atau waktu berkualitas dengan keluarga dapat menjadi alternatif penghargaan yang tidak berpusat pada makanan.
6. Apakah Menyukai Rasa Manis Berbahaya bagi Anak?
Menyukai rasa manis merupakan hal yang wajar. Hal yang perlu diperhatikan adalah jenis makanan yang dikonsumsi, jumlah gula tambahan, dan seberapa sering anak mengonsumsinya.
Terlalu banyak gula tambahan dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi. Jika konsumsi makanan dan minuman tinggi gula berlangsung terus-menerus serta menyebabkan asupan energi berlebihan, risiko kelebihan berat badan dan masalah kesehatan terkait juga dapat meningkat.
Karena itu, orang tua perlu membedakan gula alami yang terdapat dalam buah utuh dengan gula tambahan pada permen, kue, sirup, dan minuman berpemanis. Buah utuh juga menyediakan serat dan zat gizi lain yang tidak selalu terdapat dalam makanan manis olahan.
7. Cara Membantu Anak Mengatur Konsumsi Makanan Manis
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak menikmati makanan secara seimbang.
- Perkenalkan beragam makanan sehat: Sajikan buah, sayuran, protein, dan sumber karbohidrat dalam variasi yang menarik.
- Utamakan air putih: Biasakan anak minum air putih dibandingkan minuman berpemanis dalam kegiatan sehari-hari.
- Batasi gula tambahan: Perhatikan label pangan dan kurangi frekuensi pemberian makanan atau minuman tinggi gula.
- Hindari memaksa anak: Kenalkan makanan baru secara berulang dan bertahap tanpa memberikan tekanan berlebihan.
- Berikan contoh yang baik: Anak dapat belajar dari kebiasaan makan orang tua dan anggota keluarga lainnya.
- Jangan menjadikan makanan manis sebagai hadiah rutin: Gunakan bentuk penghargaan lain agar anak tidak selalu mengaitkan keberhasilan dengan makanan manis.
Tujuannya bukan menghilangkan semua makanan manis dari kehidupan anak, melainkan membangun kebiasaan makan yang seimbang sejak dini.
Kesimpulan
Anak-anak cenderung menyukai rasa manis karena faktor biologis, kebutuhan selama masa pertumbuhan, dan pengalaman makan yang membentuk preferensi mereka. Mereka juga dapat lebih sensitif terhadap rasa pahit sehingga sebagian sayuran terasa kurang menarik.
Meski demikian, kesukaan terhadap rasa manis bukan berarti anak harus mengonsumsi banyak gula. Orang tua dapat membantu membangun kebiasaan makan yang sehat dengan memperkenalkan beragam makanan bergizi, membatasi gula tambahan, dan memberikan teladan yang baik.
Dengan pendekatan yang konsisten dan tanpa paksaan, anak dapat belajar menikmati berbagai rasa sekaligus memenuhi kebutuhan gizinya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Next News

Mengapa Ada Pulau yang Tidak Memiliki Penduduk Tetap? Ini Beberapa Faktor Penyebabnya
11 hours ago

Pulau Terpadat di Dunia dan Bagaimana Penduduknya Bertahan Hidup
11 hours ago

Mengenal Pulau Samosir yang Terletak di Tengah Danau Toba, Ini Keunikannya
11 hours ago

Mengapa Tidak Ada Suara yang Bisa Terdengar di Permukaan Bulan? Ini Penjelasan Ilmiahnya
11 hours ago

Mengapa Astronaut Bisa Melompat Lebih Tinggi di Permukaan Bulan? Ini Penjelasannya
in 40 minutes

Mengenal Sisi Jauh Bulan yang Tidak Pernah Terlihat Langsung dari Bumi, Ini Keunikannya
11 hours ago

Benarkah Bulan Memiliki Gempa yang Disebut Moonquake? Ini Fakta Ilmiahnya
12 hours ago

Bagaimana Cara Menyimpan Minyak Goreng agar Tidak Cepat Tengik? Ini Tips yang Benar
12 hours ago

Bagaimana Minyak Bumi Terbentuk Jauh di Bawah Permukaan Tanah? Ini Prosesnya
12 hours ago

Benarkah Minyak Kelapa Bisa Membantu Menjaga Kesehatan Rambut? Kenali Manfaatnya
12 hours ago





