Minggu, 15 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Makanan Ringan Jaman Dulu vs Sekarang

Liaa - Sunday, 15 March 2026 | 06:45 AM

Background
Makanan Ringan Jaman Dulu vs Sekarang

Dari Chiki Berhadiah Tazos ke Croffle Estetik: Evolusi Ngemil yang Makin Ke Sini Makin Ke Sana

Kalau kita bicara soal makanan ringan, rasanya seperti membuka kotak memori yang isinya campur aduk antara rasa micin yang nendang dan kenangan masa kecil yang nggak ada matinya. Dunia perseblakan, per-aci-an, sampai per-pastry-an sekarang sudah jauh banget bedanya kalau kita bandingkan dengan zaman pas kita masih jadi bocil yang nungguin abang-abang jualan di depan pagar sekolah. Ada semacam pergeseran budaya yang nggak cuma soal rasa di lidah, tapi juga soal gengsi, tampilan, dan tentu saja harga yang kadang bikin dompet menangis dalam diam.

Zaman Micin Adalah Koentji

Dulu, standar kebahagiaan kita itu sederhana banget. Cukup dengan uang jajan lima ratus perak, kita sudah bisa dapet satu bungkus makanan ringan legendaris semacam Anak Mas atau Chiki Balls. Ritualnya pun sakral. Ingat nggak gimana serunya meremas-remas mi instan mentah di dalam bungkusnya, lalu menaburkan bumbu "ajaib" yang isinya entah apa tapi rasanya surgawi banget? Itu adalah puncak kenikmatan hakiki yang susah dijelaskan ke generasi Z yang sekarang lebih kenal sama truffle oil atau salted egg.

Belum lagi soal hadiah di dalam bungkusnya. Kita dulu beli snack bukan cuma karena laper atau doyan, tapi demi mendapatkan sekeping Tazos atau mainan bongkar pasang kertas. Ada semacam adrenalin tersendiri pas meraba-raba bungkus snack di warung, mencoba menebak mana yang isinya ada "harta karun"-nya. Sekarang? Mana ada snack yang kasih hadiah mainan fisik di dalamnya. Paling-paling cuma QR code buat dapet cashback atau kuota internet. Nggak ada seninya, Masbro!

Era Estetika dan Ke-viral-an

Masuk ke era sekarang, makanan ringan bukan lagi sekadar pengganjal perut saat nunggu jemputan. Sekarang, makanan ringan adalah konten. Sebelum masuk ke mulut, makanan itu harus "sungkem" dulu ke kamera smartphone. Istilahnya, nggak estetik nggak asik. Lihat saja fenomena Cromboloni atau Croffle yang sempat bikin antrean mengular sampai ke parkiran mall. Padahal kalau dipikir-pikir, intinya ya adonan roti juga, tapi karena bentuknya cantik dan topping-nya melimpah ruah, orang rela bayar mahal demi sebuah foto yang layak pajang di Feed Instagram atau FYP TikTok.

Sekarang, rasa seolah jadi nomor dua setelah visual. Kalau dulu kita bangga lidah kita jadi berwarna merah karena makan lidi-lidian pedas, sekarang kita bangga kalau bisa pamer kemasan snack yang desainnya minimalis ala-ala kafe di Seoul. Makanan ringan zaman sekarang itu punya tekanan sosial yang tinggi. Kalau nggak ikut nyobain yang lagi viral, rasanya kayak ketinggalan zaman banget alias FOMO parah.



Dari Jajanan Pinggir Jalan ke "Artisan"

Menariknya lagi, banyak makanan tradisional kita yang sekarang naik kelas. Seblak, misalnya. Dulu seblak itu ya cuma kerupuk basah yang dimasak pakai kencur dan cabe di gerobak pinggir jalan. Murah meriah, pedasnya bikin kapok tapi nagih. Eh, sekarang ada seblak prasmanan di ruko ber-AC, pakai topping lobster sampai wagyu. Harganya? Bisa buat makan seharian di warteg. Fenomena ini menunjukkan kalau makanan ringan sekarang sudah jadi bagian dari gaya hidup kelas menengah.

Istilah "artisan" juga jadi sangat laku. Kentang goreng biasa kalau dibilang "hand-cut artisan fries" harganya langsung melonjak tiga kali lipat. Padahal ya sama-sama kentang dari pasar. Tapi ya begitulah uniknya pasar zaman sekarang. Narasi dan branding jauh lebih mahal harganya daripada bahan baku itu sendiri. Kita nggak lagi beli makanannya, kita beli ceritanya.

Kesehatan vs Kenikmatan

Ada satu lagi perbedaan mencolok: kesadaran kesehatan. Dulu kita nggak peduli berapa miligram MSG yang masuk ke tubuh. Yang penting lidah bergoyang, hati senang. Sekarang, label "gluten-free", "low calorie", atau "baked not fried" jadi nilai jual utama. Ada semacam dilema bagi anak muda sekarang; pengen ngemil enak tapi takut kolesterol atau gula darah naik. Akhirnya muncullah keripik kale atau keripik apel yang rasanya kadang "begitu sajalah", tapi kita telan juga demi gaya hidup sehat yang katanya lebih berkelanjutan.

Tapi jujur saja, sekeras apapun kita mencoba beralih ke camilan sehat, rasa micin dari jajanan SD itu punya tempat spesial yang nggak bakal bisa digantikan oleh granola bar manapun. Ada ikatan batin antara generasi 90-an dengan aroma bumbu rahasia yang bikin haus seharian itu.

Kesimpulan: Mana yang Lebih Baik?

Sebenarnya nggak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Makanan ringan zaman dulu menang di sisi nostalgia dan kesederhanaan. Ia adalah simbol masa kecil yang bebas beban. Sementara makanan ringan zaman sekarang menang di kreativitas dan variasi rasa yang lebih eksploratif. Kita jadi punya banyak pilihan, dari yang harganya seribuan sampai yang setara dengan harga tiket bioskop.



Pada akhirnya, ngemil itu soal kenyamanan. Mau itu makan gorengan panas di pinggir jalan sambil gibah sama temen, atau makan dessert box mahal di kafe sambil buka laptop, intinya satu: mencari kebahagiaan kecil di tengah ruwetnya kehidupan. Jadi, kalian tim mana? Tim mi remes yang bumbunya nempel di jari, atau tim pastry estetik yang makannya harus pakai pisau garpu? Apapun pilihannya, yang penting jangan lupa minum air putih yang banyak ya, biar ginjal kita tetap aman terkendali!