Selasa, 5 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Makan Pedas Bikin Nagih? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Liaa - Tuesday, 05 May 2026 | 08:55 PM

Background
Makan Pedas Bikin Nagih? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Dilema Seblak Level 5: Kenapa Perut Sering Ngajak Berantem Habis Makan Pedas?

Siapa sih di sini yang nggak suka pedas? Sebagai warga negara Indonesia yang berbakti pada nusa dan bangsa, rasanya ada yang kurang kalau makan nggak pakai sambal. Mau itu ayam geprek yang cabainya menutupi nasi, seblak dengan kuah merah membara yang levelnya bikin malaikat maut geleng-geleng, sampai mi instan Korea yang pedasnya sanggup bikin telinga berdenging. Rasanya tuh ada kepuasan tersendiri pas keringat mulai bercucuran dan bibir jadi makin seksi alias dower.

Tapi, ada satu ritual yang hampir pasti terjadi setelah euforia pedas itu usai: perut mules alias melilit. Biasanya sih datangnya beberapa jam setelah makan, atau yang paling epik itu pas bangun tidur di pagi hari. Kita mendadak jadi atlet lari dadakan menuju kamar mandi, sambil memaki-maki diri sendiri, "Kapok gue makan pedas lagi!" Tapi ya namanya juga manusia, besoknya pas lihat bakso pedas, ya khilaf lagi. Siklusnya terus berulang kayak lagu galau yang diputar replay.

Sebenarnya, apa sih yang terjadi di dalam perut kita? Kenapa si sambal yang tadinya terasa nikmat di lidah malah berubah jadi "teroris" saat masuk ke sistem pencernaan? Mari kita bedah secara santai tapi tetap berbobot.

Si Biang Kerok Bernama Kapsaisin

Segala keributan di perut kamu itu sebenarnya punya satu dalang utama: kapsaisin. Ini adalah senyawa kimia aktif yang ada di dalam cabai. Kapsaisin inilah yang memberikan sensasi terbakar dan panas yang kita kenal sebagai rasa pedas. Menariknya, pedas itu sebenarnya bukan "rasa" seperti manis, asin, atau pahit. Pedas itu adalah sinyal rasa sakit.

Bayangkan kapsaisin ini kayak tamu nggak diundang yang masuk ke rumah kamu (alias tubuh) terus langsung bikin rusuh. Begitu kamu mengunyah cabai, kapsaisin akan berikatan dengan reseptor saraf di mulut yang namanya TRPV1. Reseptor ini fungsinya mendeteksi panas. Karena "ketipu" sama si kapsaisin, otak kamu mikir kalau mulut kamu beneran lagi kebakaran. Makanya, tubuh bereaksi dengan ngeluarin keringat, air mata, sampai ingusan, tujuannya buat mendinginkan suasana.



Lambung yang Kaget dan Langsung "Mode Perang"

Masalahnya nggak berhenti di mulut. Begitu makanan pedas itu meluncur ke lambung, drama yang sebenarnya baru dimulai. Lambung kita sebenarnya punya lapisan pelindung yang cukup kuat buat nahan asam. Tapi, kapsaisin ini agresif banget. Dia bisa mengiritasi lapisan mukosa (selaput lendir) lambung.

Bagi orang-orang yang lambungnya sensitif atau punya riwayat mag, kehadiran kapsaisin ini kayak nyiram bensin ke api. Lambung bakal ngerespons dengan memproduksi lebih banyak lendir dan asam buat mencoba "melarutkan" si pengganggu ini. Efeknya? Perut kamu bakal kerasa perih, panas, atau kembung. Ini adalah sinyal dari tubuh yang bilang, "Woi, ini ada benda asing yang bikin sakit, tolong keluarin secepatnya!"

Usus Besar yang Pengen Cepat-Cepat Kelar

Kenapa sih kalau habis makan pedas, perut rasanya mules pengen ke belakang terus? Itu karena adanya percepatan gerak peristaltik usus. Normalnya, proses penyerapan makanan di usus itu pelan-pelan dan santai biar nutrisinya terserap maksimal. Tapi karena kapsaisin dianggap sebagai racun atau iritan oleh sistem saraf kita, usus besar nggak mau lama-lama nyimpen makanan itu.

Saraf di pencernaan bakal ngirim pesan darurat ke otak buat mempercepat gerakan usus. Akibatnya, makanan yang harusnya diproses lama malah "diterjang" keluar gitu aja. Itulah kenapa kotoran yang keluar biasanya jadi lebih lembek atau malah diare. Air yang harusnya diserap kembali oleh usus besar jadi nggak sempat diserap karena semuanya buru-buru pengen keluar. Istilah kerennya, pencernaan kamu lagi melakukan fast track alias jalur kilat karena panik.

Efek "Ring of Fire" alias Panas di Pintu Keluar

Nah, ini nih bagian yang paling bikin trauma. Kenapa pas buang air besar rasanya panas banget, sampai-sampai ada istilah ring of fire? Jawabannya sederhana: reseptor TRPV1 yang tadi kita bahas itu nggak cuma ada di lidah atau lambung, tapi juga ada di sepanjang saluran pencernaan sampai ke anus.



Karena proses pencernaan yang dipercepat tadi, kapsaisin nggak semuanya hancur atau terurai. Jadi, sisa-sisa "api" dari cabai itu masih nempel di kotoran kamu. Pas dia melewati anus, reseptor di sana bakal teriak kesakitan karena mendeteksi panas yang sama persis kayak pas kamu makan itu cabai di awal. Jadi ya, pedasnya emang beneran dari hulu ke hilir, nggak ada diskon sama sekali.

Kenapa Ada Orang yang Kuat Banget Makan Pedas?

Pasti kalian punya kan satu teman yang kalau makan bakso, sambalnya bisa satu mangkuk sendiri tapi dia biasa aja? Kok bisa? Ini masalah kebiasaan atau toleransi. Orang yang sering makan pedas lama-lama saraf reseptornya bakal jadi agak "kebas" atau nggak sesensitif orang yang jarang makan pedas. Otak mereka sudah terbiasa nerima sinyal "sakit" itu dan menganggapnya sebagai hal normal, bahkan berubah jadi endorfin yang bikin nagih.

Selain itu, faktor genetik juga berpengaruh. Ada orang yang lahir dengan jumlah reseptor TRPV1 yang lebih sedikit, jadi ya emang dari sananya udah punya bakat jadi "manusia api". Tapi buat kita-kita yang lambungnya baperan, ya jangan maksain diri cuma demi konten atau gengsi.

Gimana Caranya Biar Nggak Terlalu Menderita?

Kalau udah terlanjur makan pedas dan perut mulai demo, jangan cuma minum air putih dingin. Air itu nggak bisa melarutkan kapsaisin karena kapsaisin bersifat seperti minyak (non-polar). Yang paling ampuh itu adalah susu atau produk olahan susu kayak yoghurt. Susu mengandung protein bernama kasein yang fungsinya kayak sabun buat ngiket kapsaisin dan membilasnya dari reseptor saraf.

Selain itu, cobalah makan nasi atau roti lebih banyak buat menyerap minyak cabai di perut. Dan yang paling penting, tahu diri. Kalau perut udah kasih kode "nyerah", ya berhenti. Jangan ditambahin lagi pakai es teh manis yang gulanya segunung, yang ada malah makin kembung.



Makan pedas itu emang nikmat, apalagi kalau lagi stres atau cuaca lagi mendung-mendung syahdu. Tapi ingat, badan kita punya batasnya sendiri. Sakit perut itu adalah cara tubuh ngomong kalau dia lagi kerja keras buat jagain kita. Jadi, lain kali kalau mau mukbang seblak level maksimal, siapin mental, siapin susu, dan pastikan stok tisu di toilet masih aman ya!