Kukang: Si Mata Bulat yang Terancam Punah, Kenapa Sulit Diselamatkan?
Tata - Monday, 14 September 2026 | 02:10 PM


Kukang: Si Lucu yang Hidupnya Lagi di Ujung Tanduk, Kenapa Sih Susah Banget Selamat?
Pernah nggak sih kalian lagi asyik scrolling Instagram atau TikTok, terus nemu video hewan bermata bulat besar, gerakannya lambat bin mager, dan kelihatan pasrah banget pas digelitik? Kalau iya, kemungkinan besar itu adalah kukang. Memang, secara visual, kukang itu juaranya kalau soal "gemoy". Tapi, di balik wajahnya yang kayak boneka hidup itu, ada cerita kelam yang bikin kita mestinya nggak cuma bilang "lucu banget", tapi juga "kasihan banget".
Kukang, atau yang sering disebut slow loris dalam bahasa Inggris, sekarang posisinya lagi nggak baik-baik saja. Populasinya makin merosot, dan kalau kita nggak peduli, bisa jadi anak cucu kita cuma bisa lihat mereka lewat arsip video di YouTube doang. Masalahnya kompleks, mulai dari ego manusia yang pengen pelihara hewan eksotis sampai urusan lahan hutan yang makin tipis. Yuk, kita bedah pelan-pelan kenapa primata satu ini makin terancam punah.
1. Kutukan "Terlalu Lucu" dan Konten Media Sosial
Jujur nih ya, musuh terbesar kukang itu kadang malah penampilannya sendiri. Gara-gara dianggap lucu, banyak orang yang ngebet pengen pelihara. Media sosial punya peran besar di sini. Video kukang yang "menyerah" saat digelitik ketiaknya itu viral banget. Padahal, buat yang belum tahu, saat kukang angkat tangan itu bukan karena dia kegelian atau senang, tapi itu adalah respon defensif alias dia lagi merasa terancam.
Kukang punya kelenjar racun di sikunya. Saat mereka angkat tangan, mereka sebenarnya lagi bersiap menjilat kelenjar itu buat mencampur racun dengan air liur mereka. Gigitan kukang itu berbisa, lho! Tapi ya itu, narasi di medsos seringkali salah kaprah. Akibatnya, permintaan pasar gelap melonjak. Orang-orang ngerasa keren kalau punya peliharaan unik di rumah, tanpa sadar kalau mereka baru aja berkontribusi dalam rantai kepunahan.
2. Praktik Cabut Gigi yang Brutal
Nah, ini bagian yang paling bikin nyesek. Karena kukang punya gigitan berbisa, para pedagang hewan ilegal punya cara licik nan kejam supaya kukang aman dijual ke orang awam: giginya dicabut paksa. Bayangin, gigi mereka dipotong atau dicabut pakai tang potong biasa, tanpa anestesi, tanpa prosedur medis yang bener. Cuma biar si pembeli nggak kena racun.
Efeknya apa? Banyak banget kukang yang akhirnya mati karena infeksi atau stres berat setelah giginya dicabut. Kalaupun mereka berhasil disita oleh pihak berwenang dan direhabilitasi, kukang yang giginya sudah dicabut nggak bakal bisa dilepasliarkan lagi ke alam. Kenapa? Karena mereka nggak bisa lagi mencari makan sendiri atau bertahan hidup tanpa alat pertahanan utamanya. Mereka jadi "cacat" permanen gara-gara ego manusia.
3. Habitat yang Makin Ciut dan Terfragmentasi
Kalau kita bicara soal hewan liar, masalah klasik yang nggak pernah selesai adalah soal rumah alias habitat. Hutan-hutan di Indonesia, yang merupakan rumah bagi berbagai jenis kukang (kayak Kukang Jawa, Kukang Sumatra, dan Kukang Kalimantan), makin lama makin habis diganti jadi perkebunan sawit, pemukiman, atau lahan tambang.
Masalahnya bukan cuma hutannya hilang, tapi juga "terfragmentasi". Jadi, hutannya kepotong-potong sama jalan raya atau kabel listrik. Karena kukang itu hewan arboreal (hidup di atas pohon) dan gerakannya lambat, mereka nggak bisa asal nyebrang jalan. Sering banget kejadian kukang mati tersetrum kabel listrik karena mereka kira itu dahan pohon, atau malah ketabrak kendaraan pas lagi nyoba pindah area. Sedih banget, kan?
4. Mitos Pengobatan Tradisional yang Nggak Masuk Akal
Di beberapa daerah, masih ada kepercayaan kuno yang menganggap bagian tubuh kukang bisa jadi obat atau jimat. Ada yang bilang tulang kukang bisa menyembuhkan penyakit, atau darahnya punya khasiat tertentu. Padahal secara medis, itu sama sekali nggak terbukti. Ini murni mitos yang celakanya masih dipercaya oleh sebagian orang.
Permintaan untuk kebutuhan klenik atau obat tradisional ini bikin perburuan liar tetap subur. Pemburu masuk ke hutan, masang jerat, dan ngambil kukang dalam jumlah besar buat dijual bagian tubuhnya secara terpisah. Ini benar-benar praktek yang bikin geleng-geleng kepala di zaman yang sudah serba digital kayak sekarang.
5. Laju Reproduksi yang Lemot
Secara biologis, kukang itu bukan kayak tikus atau kelinci yang bisa punya anak banyak dalam waktu singkat. Kukang itu hewan yang cukup "eksklusif" soal urusan asmara. Mereka biasanya cuma melahirkan satu anak dalam satu masa kehamilan, dan butuh waktu lama buat membesarkan anaknya sampai mandiri. Jadi, kalau satu ekor kukang diambil dari alam, butuh waktu bertahun-tahun buat populasi itu pulih kembali. Angka perburuan jauh lebih cepat daripada angka kelahiran mereka.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Terus, apa kita cuma bisa diam doang lihat mereka punah? Tentu nggak. Langkah paling simpel yang bisa kita lakukan adalah berhenti memberikan panggung buat konten-konten yang mengeksploitasi kukang sebagai peliharaan. Jangan kasih like, jangan kasih share, kalau perlu di-report aja kontennya. Edukasi temen-temen sekitar kalau pelihara kukang itu nggak keren, tapi kejam.
Kalau kalian nemu ada yang jualan kukang di pasar burung atau di grup Facebook, jangan ragu buat lapor ke pihak berwenang atau organisasi konservasi kayak IAR (International Animal Rescue) Indonesia. Kita harus sadar kalau kukang itu tempatnya di pohon, bukan di dalam kandang besi di ruang tamu kita. Menjaga mereka tetap di hutan adalah satu-satunya cara supaya "si mata bulat" ini nggak cuma jadi sejarah di buku pelajaran anak cucu kita nanti.
Jadi, intinya, stop mikir kukang itu boneka. Mereka adalah predator kecil yang punya peran penting buat ekosistem hutan kita. Mari kita biarkan mereka tetap mager di atas pohon, jauh dari jangkauan tangan-tangan jahil manusia.
Next News

Kenapa Jagung Bisa Meletup Jadi Popcorn? Ternyata Ini Sains di Balik Ledakan Kecilnya
in 7 hours

Jerawat Hilang, Bopeng Datang: Kenapa Wajah Bisa Jadi Berlubang seperti Permukaan Bulan?
in 7 hours

Kenapa Eropa Punya Banyak Negara Kecil? Ternyata Ini Sejarah Panjang di Baliknya
in 7 hours

Kenapa Susah BAB Padahal Sudah Makan Banyak? Ternyata Bukan Soal Porsi Makanan
in 7 hours

Kenapa Tubuh Menggigil Saat Mendaki Gunung? Ternyata Ini Cara Tubuh Melawan Dingin
in 7 hours

Apa Itu Rollmop? Mengenal Kuliner Ikan Haring Gulung Khas Eropa yang Rasanya Asam
in 7 hours

Veneer Gigi: Rahasia di Balik Senyum Putih dan Rapi, Apa Saja Risikonya?
in 6 hours

Makanan yang Baik dan Sebaiknya Dihindari Saat Ambeien, Biar BAB Nggak Jadi Drama
in 6 hours

Kenapa Mata Sering Berkedip Tanpa Kita Sadari? Ini Penjelasannya
in 4 hours

Kenapa Kita Menguap Saat Mengantuk? Ternyata Bukan Sekadar Karena Lelah
in 4 hours





