Kenapa Tubuh Menggigil Saat Mendaki Gunung? Ternyata Ini Cara Tubuh Melawan Dingin
Tata - Monday, 14 September 2026 | 02:50 PM


Duh, Kok Gemetar? Rahasia di Balik Tubuh Menggigil Pas Lagi Asyik Mendaki Gunung
Bayangkan skenario ini: Kamu lagi di tengah jalur pendakian menuju puncak Rinjani atau mungkin lagi santai di pos 3 Lawu. Matahari baru saja terbenam, gradasi langit berubah jadi ungu keemasan yang cantik banget buat masuk feed Instagram. Tapi, tiba-tiba ada satu perasaan yang nggak enak mulai merayap dari ujung kaki sampai ke rahang. Bukan, ini bukan karena kamu lagi ngelihat penampakan atau teringat mantan yang baru aja tunangan. Ini adalah rasa dingin yang bikin gigi kamu beradu, alias menggigil.
Bagi para pendaki, baik yang sudah pro maupun yang baru sekali nyoba "muncak" demi konten, menggigil itu sudah kayak teman lama yang nggak diundang tapi hobi banget muncul tiba-tiba. Pertanyaannya, kenapa sih tubuh kita otomatis jadi kayak mesin cuci yang lagi mode pengering pas kena hawa gunung? Kenapa nggak langsung panas aja biar kita tetap hangat?
Sistem Pertahanan Tubuh yang Agak "Drama"
Sebenarnya, menggigil itu adalah cara tubuh kita teriak minta tolong. Secara biologis, tubuh manusia itu punya "thermostat" internal di otak yang namanya hipotalamus. Tugasnya berat, bos. Dia harus menjaga suhu inti tubuh kita tetap di angka keramat 37 derajat Celcius. Begitu suhu lingkungan turun drastis—yang mana di gunung itu hal biasa—dan suhu kulit kita mulai drop, hipotalamus bakal ngirim sinyal darurat ke seluruh otot.
Nah, gerakan gemetar atau menggigil itu sebenarnya adalah kontraksi otot yang terjadi secara cepat dan nggak sadar. Otot-otot kita dipaksa gerak bolak-balik buat menghasilkan energi panas. Jadi, kalau kamu menggigil, itu artinya tubuh kamu lagi berusaha "bakar bensin" buat ngangetin mesin. Masalahnya, kalau kamu nggak gerak atau nggak nambah asupan kalori, "bensin" ini bakal cepat habis, dan di situlah bahaya mengintai.
Baju Basah: Musuh Dalam Selimut
Salah satu penyebab paling umum pendaki menggigil hebat itu bukan cuma karena udaranya dingin, tapi karena bajunya basah. Entah itu kena hujan atau—ini yang sering disepelekan—kena keringat sendiri. Banyak pendaki pemula yang pakai kaus katun karena merasa nyaman. Padahal, di dunia pendakian ada pepatah kejam: "Cotton is rotten".
Bahan katun itu sifatnya menyerap air tapi susah banget kering. Begitu kamu sampai di camp dan berhenti jalan, keringat yang nempel di baju itu bakal mendingin dengan cepat. Proses penguapan air dari baju basah ini bakal menyedot panas tubuh kamu secara brutal. Inilah kenapa banyak orang yang pas jalan merasa panas, tapi begitu duduk istirahat lima menit langsung gemetaran hebat kayak habis liat tagihan kartu kredit.
Perut Kosong dan Kurang Tidur
Sering banget kita ketemu pendaki yang terlalu ambisius sampai lupa makan. Padahal, mendaki gunung itu aktivitas fisik tingkat tinggi yang butuh kalori banyak banget. Tubuh butuh energi buat bergerak, dan tubuh butuh energi jauh lebih banyak buat memproduksi panas. Kalau perut kamu kosong, tubuh nggak punya bahan bakar buat melakukan proses termogenesis (pembentukan panas).
Ditambah lagi kalau malamnya kamu kurang tidur karena asyik ngobrol atau tendanya kurang nyaman. Kelelahan fisik bikin metabolisme tubuh melambat. Saat tubuh capek banget, sistem pengatur suhu kita jadi agak "eror" dan lebih rentan kena hipotermia. Jadi, jangan sok kuat dengan nggak makan, ya. Makan cokelat atau cemilan manis itu krusial banget buat jaga suhu tubuh tetap stabil.
Faktor Angin yang Suka "Ngegas"
Di gunung, ada yang namanya wind chill factor. Suhu udara di termometer mungkin menunjukkan 10 derajat, tapi kalau ada angin kencang yang nabrak tubuh, rasanya bisa kayak 2 derajat. Angin ini bertugas menyapu lapisan udara hangat yang tipis di permukaan kulit kita. Begitu lapisan hangat itu hilang, kulit langsung terpapar suhu ekstrem secara langsung. Inilah alasan kenapa jaket windbreaker atau outer yang tahan angin itu hukumnya wajib, bukan sunnah lagi.
Gimana Caranya Biar Nggak Jadi "Manusia Es"?
Kalau kamu sudah mulai menggigil, jangan cuma diam dan pasrah meratapi nasib. Ada beberapa langkah preventif dan penanganan biar kamu nggak makin drop:
- Pakai Sistem Layering: Jangan cuma pakai satu jaket tebal. Pakai sistem lapis: base layer (penyerap keringat), mid layer (penahan panas/fleece), dan outer layer (tahan air dan angin).
- Ganti Baju Segera: Begitu sampai di tempat camp, langsung ganti baju yang basah dengan baju kering. Jangan nunggu nanti-nanti.
- Makan dan Minum yang Hangat: Segelas jahe hangat atau cokelat panas bukan cuma enak di lidah, tapi beneran bisa menaikkan suhu inti tubuh.
- Jangan Diam Saja: Kalau mulai merasa dingin, gerakkan jari kaki dan tangan. Lakukan gerakan kecil biar aliran darah tetap lancar.
- Pelukan (Kalau Ada Pasangan): Oke, ini opsional dan harus legal ya. Skin-to-skin contact adalah cara tercepat buat transfer panas tubuh dalam kondisi darurat hipotermia.
Intinya, menggigil itu adalah sinyal peringatan dini dari tubuh. Jangan disepelekan, tapi jangan juga panik berlebihan. Gunung itu tempat yang indah, tapi dia nggak punya perasaan. Dia bakal tetap dingin mau kamu secantik atau seganteng apa pun. Jadi, persiapan fisik dan pengetahuan soal manajemen suhu tubuh itu jauh lebih penting daripada sekadar punya foto estetik di puncak.
Tetap waspada, tetap makan yang banyak, dan pastikan jaket kamu nggak ketinggalan di rumah. Selamat mendaki dan jangan lupa pulang dengan selamat!
Next News

Kenapa Jagung Bisa Meletup Jadi Popcorn? Ternyata Ini Sains di Balik Ledakan Kecilnya
in 6 hours

Jerawat Hilang, Bopeng Datang: Kenapa Wajah Bisa Jadi Berlubang seperti Permukaan Bulan?
in 6 hours

Kenapa Eropa Punya Banyak Negara Kecil? Ternyata Ini Sejarah Panjang di Baliknya
in 6 hours

Kenapa Susah BAB Padahal Sudah Makan Banyak? Ternyata Bukan Soal Porsi Makanan
in 6 hours

Apa Itu Rollmop? Mengenal Kuliner Ikan Haring Gulung Khas Eropa yang Rasanya Asam
in 5 hours

Veneer Gigi: Rahasia di Balik Senyum Putih dan Rapi, Apa Saja Risikonya?
in 5 hours

Makanan yang Baik dan Sebaiknya Dihindari Saat Ambeien, Biar BAB Nggak Jadi Drama
in 5 hours

Kukang: Si Mata Bulat yang Terancam Punah, Kenapa Sulit Diselamatkan?
in 5 hours

Kenapa Mata Sering Berkedip Tanpa Kita Sadari? Ini Penjelasannya
in 3 hours

Kenapa Kita Menguap Saat Mengantuk? Ternyata Bukan Sekadar Karena Lelah
in 3 hours





