Ketungging: Si Mirip Kalajengking yang Hobinya Nyemprot Cuka dan Bikin Kita Salah Sangka
Laila - Sunday, 03 May 2026 | 09:00 PM


Pernah nggak sih kalian lagi asyik bersih-bersih gudang atau lagi bongkar-bongkar tumpukan kayu di belakang rumah, terus tiba-tiba nemu makhluk hitam, pipih, punya capit gede, dan ekor panjang yang mencuat ke atas? Reaksi pertama pasti panik. "Waduh, kalajengking nih!" batin kalian. Tangan sudah gatal pengen ambil sapu atau sandal buat "mengakhiri" riwayat si hewan ini karena takut disengat.
Tapi, tunggu dulu. Sebelum kalian melancarkan aksi eksekusi, coba perhatikan lebih dekat (tapi jangan dekat-dekat amat juga sih). Kalau hewan itu nggak punya alat penyengat di ujung ekornya dan malah punya ekor tipis mirip cambuk, selamat! Kalian baru saja bertemu dengan Ketungging. Hewan ini sering banget jadi korban salah sasaran karena tampangnya yang memang "preman" banget, padahal aslinya mereka adalah sobat santuy yang nggak berbahaya buat manusia.
Bukan Kalajengking, Cuma Mirip Doang
Dalam dunia biologi, ketungging masuk ke dalam ordo Thelyphonida. Memang masih satu geng sama kalajengking dan laba-laba dalam kelas Arachnida, tapi mereka beda kasta. Di luar negeri, ketungging punya nama yang keren sekaligus kocak: Vinegaroon. Nama ini bukan diambil tanpa alasan, melainkan karena kemampuan unik mereka yang bisa bikin hidung kalian mengkerut.
Secara anatomi, ketungging ini sebenarnya "PHP" alias Pemberi Harapan Palsu bagi yang takut kalajengking. Mereka punya capit (pedipalpus) yang kelihatan sangat mengintimidasi. Tapi, ekor panjang yang kalian lihat itu bukan berisi racun mematikan layaknya kalajengking gurun. Ekor itu hanyalah alat sensor untuk mendeteksi getaran dan navigasi di kegelapan. Jadi, kalau kalian disenggol ekornya, rasanya cuma kayak kesenggol helai rambut tebal doang, nggak bakal bikin meriang atau masuk rumah sakit.
Senjata Rahasia: Semprotan Cuka yang Bikin Mata Perih
Nah, ini dia fakta yang paling epik dari ketungging. Kalau mereka merasa terancam, mereka nggak bakal menyengat atau menggigit secara brutal. Sebagai gantinya, mereka bakal ngangkat pantatnya dan menyemprotkan cairan kimia dari kelenjar di pangkal ekornya. Cairan ini mengandung asam asetat berkonsentrasi tinggi. Ya, kalian nggak salah baca, itu adalah bahan utama cuka dapur, tapi versinya jauh lebih pekat.
Bayangkan kalian lagi makan bakso terus nggak sengaja nyemprotin cuka sebotol ke mata. Nah, kira-kira begitu rasanya kalau predator (atau tangan kalian yang usil) kena semprotan ketungging. Baunya kecut menyengat dan bisa bikin iritasi kalau kena kulit yang sensitif atau mata. Tapi buat manusia, ini cuma gangguan sesaat. Nggak ada racun saraf atau racun darah di dalamnya. Ketungging cuma pengen bilang, "Woy, jangan ganggu gue, bau tau!" lewat semprotan cukanya itu.
Gaya Hidup Introvert dan Pembasmi Hama Alami
Ketungging itu tipikal hewan yang introvert parah. Mereka benci cahaya matahari dan lebih suka nongkrong di tempat yang lembap, gelap, dan tersembunyi. Itulah kenapa kalian sering nemu mereka di bawah batu, tumpukan daun kering, atau sudut-sudut lembap di rumah yang jarang tersentuh sapu. Mereka aktif di malam hari (nokturnal) buat nyari makan.
Sebenarnya, keberadaan ketungging di sekitar rumah itu adalah berkah terselubung. Kenapa? Karena mereka adalah predator alami bagi hama-hama yang jauh lebih menyebalkan. Menu makanan favorit mereka adalah kecoak, jangkrik, hingga kalajengking kecil lainnya. Jadi, daripada kalian capek-capek nyemprot pestisida yang bau kimia, mending biarkan ketungging melakukan tugasnya sebagai jasa pembasmi kecoak gratisan. Mereka kerja dalam diam, tanpa minta gaji, dan nggak bakal berisik.
Sisi Melankolis: Ibu yang Sangat Protektif
Ada satu hal yang bikin ketungging terasa sangat "manusiawi" atau setidaknya punya sisi lembut di balik cangkangnya yang keras. Ketungging betina adalah tipe ibu yang sangat protektif. Setelah bertelur, sang ibu bakal membawa kantung telurnya di bawah perutnya selama berminggu-minggu. Selama masa ini, si ibu nggak bakal makan dan tetap bersembunyi demi keamanan anak-anaknya.
Bahkan setelah telurnya menetas, bayi-bayi ketungging yang berwarna putih pucat bakal naik ke punggung ibunya dan tinggal di sana sampai mereka cukup kuat untuk mandiri. Kalau kalian melihat pemandangan ini, rasanya bakal agak geli tapi sekaligus terharu melihat perjuangan seekor serangga (oke, arachnida) menjaga keturunannya. Begitu mereka ganti kulit pertama kali, barulah mereka turun dan mulai hidup masing-masing.
Jangan Langsung Digebuk!
Opini pribadi saya sih, kita sebagai manusia seringkali terlalu cepat menghakimi makhluk lain cuma dari tampangnya. Ketungging adalah contoh nyata bagaimana penampilan yang "sangar" ternyata hanyalah mekanisme pertahanan diri, bukan alat untuk menyerang. Mereka nggak punya minat sedikit pun buat nyerang manusia kalau nggak merasa terdesak banget.
Jadi, lain kali kalau kalian ketemu ketungging, jangan buru-buru ambil sandal buat memukulnya sampai gepeng. Cukup ambil pengki atau wadah plastik, pindahkan mereka dengan pelan ke kebun atau area yang jauh dari aktivitas orang. Biarkan mereka hidup tenang, memangsa kecoak-kecoak nakal di luar sana, dan tetap menjadi produsen cuka alami di alam liar. Lagipula, di dunia yang sudah penuh dengan drama ini, kita nggak butuh tambahan drama sama hewan yang cuma pengen hidup tenang di balik tumpukan kayu, kan?
Mari kita mulai jadi manusia yang lebih santai dalam menghadapi keberagaman hayati, bahkan untuk hewan sekecil dan se-kecut ketungging. Karena bagaimanapun juga, mereka adalah bagian dari ekosistem yang menjaga rumah kita tetap seimbang dari serbuan serangga lain yang mungkin jauh lebih merugikan.
Next News

Menyulap Sampah Dapur Jadi Pupuk Alami Tanpa
in 7 hours

Aroma Menggoda di Balik Gurihnya Ikan Asin: Enak di Lidah, Tapi Kok Bisa Picu Kanker?
in 7 hours

Makan Pedas Bikin Nagih? Ini Penjelasan Ilmiahnya
in 6 hours

Ngidam Rujak Saat Hamil? Simak Fakta Menarik di Baliknya
in 6 hours

Kenapa Sih Kuliner Indonesia Disebut Sebagai Markasnya Pedas Dunia?
in 5 hours

Alasan Mengapa Cabai Rawit Sangat Penting Bagi Gorengan
in 5 hours

Kenapa Sih Tulisan Cowok Kebanyakan Mirip Cakar Ayam? Bukan Malas, Ini Penjelasannya
in 6 hours

7 Budaya Unik Masyarakat India yang Sarat Tradisi dan Nilai Warisan
in 4 hours

Rumah Sekarang Terasa Lebih Panas?Cek Material Bangunannya
in 4 hours

Sulit Fokus Bukan Malas: Ini yang Terjadi pada Otak di Era Digital
in 4 hours





