Kamis, 1 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kentang Bertunas Masih Aman Dimakan? Ini yang Perlu Diperhatikan

Liaa - Thursday, 01 October 2026 | 03:20 AM

Background
Kentang Bertunas Masih Aman Dimakan? Ini yang Perlu Diperhatikan

Kentang yang disimpan terlalu lama dapat mengalami perubahan. Salah satu tanda yang paling mudah terlihat adalah munculnya tunas kecil dari permukaan kulit. Kondisi ini sering membuat orang bertanya apakah kentang tersebut masih bisa digunakan untuk memasak atau sebaiknya dibuang.

Kemunculan tunas berkaitan dengan proses alami pada kentang. Setelah disimpan dalam kondisi tertentu, mata kentang dapat mulai tumbuh dan menghasilkan tunas. Proses ini menunjukkan bahwa kentang mulai mengalami perubahan selama penyimpanan.

Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya keberadaan tunas, tetapi juga kondisi keseluruhan kentang. Kentang yang sudah bertunas sekaligus berubah menjadi hijau, sangat layu, keriput, rusak, atau memiliki rasa pahit sebaiknya tidak dikonsumsi.

Kentang termasuk kelompok tanaman yang secara alami mengandung senyawa glycoalkaloid, terutama solanin dan chaconine. Senyawa tersebut terdapat dalam jumlah lebih tinggi pada bagian tertentu, termasuk area tunas dan bagian yang mengalami penghijauan.

Warna hijau pada kentang berkaitan dengan paparan cahaya dan terbentuknya klorofil. Klorofil sendiri bukan penyebab keracunan, tetapi perubahan warna menjadi hijau dapat menjadi tanda bahwa kentang telah mengalami kondisi yang memungkinkan peningkatan glycoalkaloid.



Karena itu, kentang yang memiliki tunas kecil tetapi masih tampak sehat perlu diperiksa dengan teliti. Tunas dapat dibuang bersama bagian di sekitarnya menggunakan pisau. Namun, tindakan tersebut tidak selalu membuat kentang aman apabila kondisinya sudah menunjukkan perubahan yang lebih luas.

Kentang yang sudah banyak bertunas, berwarna hijau dalam area yang cukup luas, terasa sangat pahit, atau mengalami kerusakan sebaiknya tidak dipaksakan untuk dikonsumsi. Memasak juga bukan cara yang dapat diandalkan untuk menghilangkan seluruh glycoalkaloid, sehingga kondisi bahan sebelum dimasak tetap penting.

Paparan glycoalkaloid dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan gejala lain seperti mual, muntah, sakit perut, serta diare. Tingkat keparahan gejala dapat berbeda tergantung jumlah senyawa yang tertelan dan kondisi masing-masing orang.

Penyimpanan yang tepat dapat membantu memperlambat pertumbuhan tunas. Kentang sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk, kering, gelap, dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Menyimpannya di tempat yang terkena cahaya dalam waktu lama dapat mendorong penghijauan.

Kentang juga sebaiknya diperiksa sebelum dimasak. Jangan hanya melihat bagian luarnya secara sekilas. Perhatikan apakah terdapat warna hijau, tunas yang banyak, bagian yang busuk, tekstur yang sangat keriput, atau perubahan rasa yang tidak biasa.



Jadi, kentang bertunas tidak dapat langsung dianggap aman atau berbahaya hanya berdasarkan keberadaan tunas. Kondisi keseluruhan kentang menjadi pertimbangan penting. Tunas kecil pada kentang yang masih tampak baik dapat ditangani dengan membuang tunas dan bagian di sekitarnya, sedangkan kentang yang sudah banyak bertunas atau mengalami penghijauan luas lebih baik tidak dikonsumsi.

Memeriksa kondisi kentang sebelum mengolahnya merupakan langkah sederhana untuk mengurangi risiko. Jika muncul keraguan karena kentang sudah berubah warna, sangat pahit, atau mengalami kerusakan yang cukup parah, pilihan yang lebih aman adalah tidak menggunakannya sebagai bahan makanan.