Kamis, 22 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Suasana Hati Bisa Berubah Tanpa Disadari?

Laila - Saturday, 15 August 2026 | 12:00 AM

Background
Kenapa Suasana Hati Bisa Berubah Tanpa Disadari?

Kenapa Sih Mood Kita Suka Naik Turun Kayak Roller Coaster? Ternyata Ini Pelakunya!

Pernah nggak sih kamu bangun pagi dengan perasaan segar bugar, saking semangatnya sampai-sampai kamu merasa bisa menaklukkan dunia? Tapi anehnya, begitu masuk jam makan siang, tiba-tiba semangat itu luntur entah ke mana. Rasanya kayak HP yang baterainya tiba-tiba drop dari 90 persen ke 5 persen tanpa alasan yang jelas. Padahal, nggak ada kejadian besar yang bikin sedih. Nggak ada drama sama pacar, kerjaan juga lagi aman-aman saja. Tapi kok, rasanya pengen marah atau malah pengen nangis di pojokan? Fenomena perubahan suasana hati atau mood swing yang datang tanpa diundang ini memang sering banget bikin kita bertanya-tanya: sebenernya ada apa sih sama diri kita sendiri?

Perubahan mood yang mendadak ini sebenarnya bukan karena kamu "lebay" atau kurang bersyukur. Manusia itu makhluk yang kompleks banget, jauh lebih rumit daripada algoritma TikTok yang suka lewat di FYP kamu. Ada banyak faktor yang bekerja di balik layar, mulai dari urusan biologis di dalam otak sampai hal-hal sepele di sekitar kita yang sering luput dari perhatian. Mari kita bedah pelan-pelan biar kamu nggak merasa sendirian dalam kegalauan ini.

Urutan Hormon yang Lagi "Party" di Kepala

Kalau kita bicara soal mood, pelakunya seringkali adalah sekelompok zat kimia di otak yang namanya neurotransmitter. Ada dopamin yang bikin kita merasa dapet reward, ada serotonin yang bikin kita tenang, dan ada endorfin yang jadi obat pereda sakit alami. Bayangkan zat-zat ini kayak anggota band. Kalau mereka mainnya harmonis, mood kita bakal stabil dan enak didengar. Tapi kalau drummer-nya lagi nggak sinkron atau gitarisnya telat masuk, musiknya jadi berantakan. Nah, berantakannya musik inilah yang kita rasakan sebagai mood swing.

Kadang, perubahan hormon ini sifatnya siklus. Buat para perempuan, urusan PMS (Pre-Menstrual Syndrome) itu nyata dan bukan sekadar mitos. Fluktuasi hormon estrogen dan progesteron bisa bikin seseorang merasa sangat sensitif. Tapi jangan salah, laki-laki pun punya siklus hormonalnya sendiri, meski nggak sedramatis siklus bulanan perempuan. Kurang tidur satu malam saja sudah cukup untuk mengacaukan produksi hormon ini, bikin kita jadi gampang tersinggung atau istilah anak sekarangnya: sumbu pendek.

Efek "Hangry" yang Sering Diremehkan

Pernah dengar istilah hangry? Gabungan dari hungry (lapar) dan angry (marah). Ini bukan sekadar candaan internet, tapi ada penjelasan ilmiahnya. Saat kita telat makan, kadar gula darah dalam tubuh bakal menurun drastis. Ketika otak kekurangan suplai energi dari gula, dia bakal mengirimkan sinyal darurat. Masalahnya, sinyal darurat ini seringkali diterjemahkan tubuh dalam bentuk pelepasan hormon stres kayak kortisol dan adrenalin.



Hasilnya? Kamu jadi gampang emosi. Suara temen kantor yang lagi ngetik di keyboard aja bisa terdengar kayak suara mesin giling yang berisik banget di telinga kamu. Kalau kamu merasa mood tiba-tiba hancur, coba deh diingat-ingat lagi: kapan terakhir kali kamu makan? Kadang-kadang solusi dari kegalauan hidup itu bukan "healing" ke Bali, tapi cuma sepiring nasi padang atau segelas es teh manis.

Doomscrolling dan Jebakan Media Sosial

Zaman sekarang, pemicu perubahan mood ada di genggaman tangan kita sendiri. Kamu lagi asyik rebahan, terus iseng buka Instagram. Awalnya cuma pengen lihat meme kucing, tapi lama-lama jarimu scrolling ke story temen yang lagi liburan ke Jepang, terus liat LinkedIn temen lama yang baru aja dapet promosi jabatan. Tanpa sadar, perasaan "inferior" atau rasa kurang percaya diri mulai merayap masuk.

Ini yang sering disebut sebagai perbandingan sosial yang nggak sadar. Otak kita memproses informasi itu dengan sangat cepat. Meskipun mulut kita bilang "Wah, ikut seneng ya buat mereka," tapi di pojok hati yang paling dalam, ada rasa cemas kalau kita tertinggal. Paparan informasi yang bertubi-tubi di media sosial—mulai dari berita politik yang bikin naik darah sampai pamer kekayaan—itu kayak serangan bertubi-tubi buat mental kita. Nggak heran kalau setelah sejam main HP, perasaanmu malah jadi lebih buruk daripada sebelumnya.

Lingkungan yang "Bising" Secara Visual

Kadang, perubahan suasana hati disebabkan oleh hal-hal fisik di sekitar kita yang kita anggap remeh. Coba lihat meja kerjamu sekarang, atau kamar tidurmu. Berantakan nggak? Tumpukan baju kotor, kertas-kertas berserakan, atau kabel yang nggak karuan bisa jadi pemicu stres bawah sadar. Mata kita itu mengirimkan ribuan sinyal ke otak tiap detiknya. Kalau lingkungan sekitar kita terlalu "berisik" secara visual, otak bakal capek buat memprosesnya.

Selain itu, kurangnya paparan sinar matahari juga bisa bikin mood drop. Ada kondisi yang namanya Seasonal Affective Disorder (SAD), di mana orang jadi merasa sedih karena kurang sinar matahari. Meskipun kita tinggal di Indonesia yang mataharinya melimpah, tapi kalau seharian kamu cuma mendekam di ruangan ber-AC yang tertutup rapat tanpa jendela, jangan kaget kalau tiba-tiba perasaanmu jadi mendung kayak cuaca di luar.



Memori Bawah Sadar yang Tiba-tiba "Kepanggil"

Pernah nggak kamu mencium bau parfum tertentu di lift, terus tiba-tiba perasaanmu jadi nggak enak? Atau dengar potongan lagu di radio, terus mendadak merasa mellow? Otak kita punya gudang penyimpanan memori yang sangat luas, dan memori itu seringkali nempel sama indra penciuman atau pendengaran.

Bisa jadi, ada bau atau suara tertentu di sekitarmu yang memicu memori buruk di masa lalu, meskipun kamu sendiri nggak sadar memori apa itu. Alam bawah sadar kita itu bekerja 24 jam sehari. Dia menangkap detail-detail kecil yang dilewatkan oleh pikiran sadar kita. Jadi, kalau mood kamu berubah tiba-tiba, bisa jadi itu adalah cara otakmu merespons sesuatu yang "terasa familiar" tapi nggak kamu sadari.

Gimana Caranya Biar Nggak Gampang Terombang-ambing?

Menghadapi mood swing itu kayak belajar berselancar. Kamu nggak bisa menghentikan ombak, tapi kamu bisa belajar caranya tetap berdiri di atas papan. Pertama, akui aja kalau perasaanmu lagi nggak enak. Nggak perlu dipaksa buat selalu bahagia atau kelihatan kuat. Kalau lagi sedih, ya sedih aja. Kalau lagi capek, ya istirahat.

Kedua, coba cek kebutuhan dasar tubuhmu: udah makan belum? Udah minum air putih yang cukup belum? Tidur tadi malam berapa jam? Seringkali, masalah mental itu solusinya ada di kesehatan fisik. Ketiga, batasi konsumsi informasi. Kasih jeda buat dirimu sendiri buat nggak pegang HP, atau istilahnya digital detox ringan selama satu atau dua jam sehari.

Terakhir, sadarilah bahwa mood itu kayak cuaca—pasti bakal berubah. Mendung nggak selamanya ada di langit, dan badai pasti bakal lewat. Dengan lebih sadar tentang apa yang terjadi di dalam diri, kita nggak akan lagi terlalu bingung saat suasana hati tiba-tiba berubah warna. Jadi, kalau hari ini mood kamu lagi berantakan, jangan terlalu keras sama diri sendiri, ya. Besok masih ada matahari yang bakal terbit lagi, kok!



Tags