Sabtu, 4 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Sih Opor Ayam Selalu Jadi 'Bintang Utama' Pas Lebaran?

Liaa - Friday, 20 March 2026 | 10:55 AM

Background
Kenapa Sih Opor Ayam Selalu Jadi 'Bintang Utama' Pas Lebaran?

Kenapa Sih Opor Ayam Selalu Jadi 'Bintang Utama' Pas Lebaran? Ternyata Ini Sejarah dan Filosofinya!

Bayangin deh, kamu baru saja selesai salat Id. Badan masih seger karena pakai baju baru, bau parfum sisa-sisa tadi pagi masih nempel dikit. Begitu melangkah masuk ke rumah, hidung kamu langsung disambut aroma gurih yang sangat khas. Perpaduan antara santan, lengkuas, serai, dan rempah-rempah yang mendidih di panci besar. Ya, apalagi kalau bukan opor ayam.

Rasanya ada yang kurang kalau Lebaran nggak ada opor. Mau semahal apa pun kue kering di meja tamu, atau secanggih apa pun gadget baru yang kamu pamerin ke sepupu, tetap saja "primadona" aslinya ada di meja makan. Opor ayam dan ketupat sudah kayak pasangan goals yang nggak bisa dipisahkan. Tapi, pernah nggak sih kamu kepikiran, kenapa harus opor? Kenapa nggak steak, ramen, atau seblak sekalian buat merayain kemenangan setelah sebulan puasa?

Akulturasi Budaya dalam Sesuap Kuah Gurih

Jujurly, opor itu bukan sekadar masakan "asli" satu daerah yang tiba-tiba muncul gitu aja. Kalau kita bedah sejarahnya, opor ayam adalah hasil "perkawinan" budaya yang keren banget. Sejarawan kuliner sering bilang kalau opor itu sebenarnya adalah bentuk modifikasi dari kari asal India dan gulai dari tanah Arab.

Dulu, pedagang dari India dan Arab bawa resep kari dan gulai ke Nusantara. Tapi, lidah orang lokal—khususnya di Jawa—punya selera yang beda. Kita nggak terlalu suka rempah yang terlalu "nonjok" atau pedas yang bikin keringetan parah di pagi hari. Akhirnya, resep itu dimodifikasi. Penggunaan rempah dikurangi intensitasnya, lalu ditambahkan santan yang kental biar rasanya lebih legit dan creamy. Lahirlah opor ayam yang kita kenal sekarang. Jadi, opor itu sebenarnya bukti kalau bangsa kita itu pinter banget melakukan adaptasi dan inovasi kuliner.

Santan dan Simbol Permintaan Maaf

Bukan Indonesia namanya kalau makanan nggak ada filosofinya. Di Jawa, ada sebuah cocoklogi yang sebenarnya cukup masuk akal dan puitis. Opor ayam identik banget dimakan bareng ketupat. Nah, "ketupat" itu sendiri sering diasosiasikan dengan istilah "ngaku lepat" (mengakui kesalahan). Lalu, apa hubungannya sama opor?



Ternyata, kuah opor yang berbahan dasar santan itu punya makna sendiri. Dalam bahasa Jawa, santan sering dihubungkan dengan kata "pangapunten" yang berarti permohonan maaf. Jadi, pas kita makan ketupat bareng opor, secara simbolis kita lagi bilang: "Saya mengakui kesalahan dan mohon dimaafkan." Keren banget, kan? Sebuah hidangan sederhana ternyata punya pesan perdamaian yang mendalam. Jadi, kalau kamu lagi musuhan sama mantan atau temen, coba deh kirimin opor. Siapa tahu hatinya langsung luluh.

Menu "Pesta" yang Mewah pada Zamannya

Kalau zaman sekarang kita bisa beli ayam kapan saja di supermarket atau lewat aplikasi ojol, beda ceritanya sama zaman dulu. Dulu, ayam—apalagi ayam kampung—adalah barang mewah. Nggak setiap hari orang bisa potong ayam. Nah, Idul Fitri adalah momen "pesta pora" setelah berjuang menahan nafsu selama sebulan penuh. Memasak opor ayam adalah cara masyarakat merayakan hari kemenangan dengan hidangan terbaik yang mereka punya.

Kenapa nggak digoreng aja? Karena kuah santan yang banyak itu bikin porsi makanan jadi terlihat lebih melimpah. Jadi, kalau ada tetangga atau saudara jauh datang, semua bisa kebagian kuahnya. Semangat berbagi inilah yang bikin opor ayam jadi sangat relevan dengan semangat Lebaran yang penuh kebersamaan.

Kenikmatan yang Hakiki: Opor 'Hari Kedua'

Ada satu fakta unik soal opor yang kayaknya disetujui sama semua orang: opor ayam itu makin enak kalau sudah dipanasin berkali-kali. Hari pertama Lebaran mungkin rasanya enak, tapi pas hari kedua atau ketiga, saat kuahnya mulai menyusut dan bumbunya makin meresap ke serat-serat ayam... wah, itu sih level nikmatnya beda lagi! Istilahnya, bumbunya sudah "merasuk ke dalam jiwa" ayamnya.

Meski kadang kita ngerasa bosen karena pagi, siang, sore makannya opor lagi, tapi anehnya kita nggak pernah kapok. Ada semacam rasa kangen yang muncul tiap tahun. Vibes makan opor bareng keluarga besar, sambil dengerin celotehan tante-tante yang nanya "kapan nikah?" atau "kerja di mana sekarang?", itulah paket lengkap pengalaman Lebaran di Indonesia.



Kesimpulan

Jadi, kenapa opor ayam identik dengan Lebaran? Jawabannya adalah karena sejarah panjang akulturasi budaya, filosofi permohonan maaf yang terselip di balik gurihnya santan, serta nilai tradisi yang sudah diwariskan turun-temurun. Opor bukan cuma soal rasa, tapi soal memori dan rasa syukur.

Tanpa opor, Lebaran mungkin cuma bakal jadi hari libur biasa. Opor adalah pengikat rasa, penawar rindu, dan tentu saja, alasan paling sah untuk nambah porsi nasi (atau ketupat) meskipun kita sudah janji mau diet setelah puasa. Jadi, sudah siap buat war paha ayam di meja makan tahun ini?