Sabtu, 4 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Sejarah Payung: Dari Simbol Kerajaan Menjadi Benda Sehari-hari

Liaa - Saturday, 04 April 2026 | 07:40 PM

Background
Sejarah Payung: Dari Simbol Kerajaan Menjadi Benda Sehari-hari

Payung di Peradaban Kuno

Payung pertama diyakini muncul lebih dari 4.000 tahun lalu di peradaban Mesir, Cina, dan Mesopotamia.

Namun pada masa itu payung bukan digunakan untuk hujan, melainkan sebagai pelindung dari matahari.

Di Mesir kuno, payung sering terlihat dalam ukiran dinding kuil yang menggambarkan firaun atau bangsawan sedang berjalan dengan pelayan yang membawa payung di atas kepala mereka.

Payung menjadi simbol kekuasaan karena hanya orang dengan status tinggi yang boleh menggunakannya.

Menurut sejarawan dari British Museum, payung pada masa itu disebut parasol, berasal dari bahasa Latin para (melindungi) dan sol (matahari).



Payung saat itu sederhana terbuat dari daun palem, bulu, atau papirus.

Perkembangan di Cina dan Asia

Cina menjadi salah satu negara yang mengembangkan teknologi payung paling awal.

Sekitar abad ke-11 SM, masyarakat Cina mulai membuat payung dari:

•bambu

•kertas minyak



•kain sutra.

Payung tersebut dilapisi lilin atau minyak agar tahan terhadap hujan.

Payung lipat juga diyakini pertama kali muncul di Cina sebelum menyebar ke wilayah lain.

Di Asia Timur, payung juga memiliki makna simbolis dalam budaya dan seni, terutama dalam:

•upacara kerajaan



•pertunjukan tradisional

•simbol perlindungan spiritual.

Payung di Jepang

Payung di Jepang, disebut Wagasa,diperkenalkan ke Jepang dari Tiongkok sekitar periode Heian (794–1185 M), awalnya sebagai payung tetap (tidak bisa dilipat) yang digunakan oleh kalangan bangsawan atau untuk upacara keagamaan/Buddhis.

Versi yang bisa dibuka-tutup mirip Wagasa modern,berkembang pada periode Azuchi-Momoyama (akhir abad ke-16) hingga populer luas pada periode Edo (1603–1868).

Saat itu wagasa menjadi barang sehari-hari, aksesori fashion, serta digunakan dalam upacara teh, pernikahan, dan pemakaman.



Payung di Eropa

Payung mulai populer di Eropa sekitar abad ke-17.

Awalnya, payung dianggap sebagai aksesori perempuan. Pria jarang menggunakannya karena dianggap tidak maskulin.

Saat itu, Payung parasol mewah berbahan kain sutra atau katun dengan hiasan renda, pita, dan gagang kayu indah – menjadi aksesori fashion bagi wanita bangsawan.

Baru pada abad ke-18 seorang pria Inggris bernama Jonas Hanway mulai menggunakan payung secara rutin di jalanan London.

Ia sering diejek karena kebiasaannya tersebut.



Namun perlahan-lahan masyarakat mulai mengikuti kebiasaannya dan payung menjadi barang umum.

Payung Modern

Payung modern berkembang pesat setelah revolusi industri.

Material baru seperti:

•baja ringan

•aluminium



•kain sintetis tahan air

membuat payung menjadi lebih ringan, kuat, dan praktis.

Kini payung tidak lagi menjadi simbol status sosial, melainkan alat sederhana yang digunakan oleh hampir semua orang di dunia.

Dan fungsinya menjadi bertambahn

Dari yang semula hanya untuk menahan terik matahari, kini juga menjadi pelindung dari hujan.