Kenapa Orang Suka Jalan-Jalan Tanpa Tujuan? Ini Penjelasan Psikologinya
Liaa - Wednesday, 08 July 2026 | 08:35 PM


Kenapa Kita Suka Jalan-Jalan Tanpa Tujuan? Ternyata Ini Alasan Psikologis di Balik Gabut Berfaedah
Pernah nggak sih, kamu tiba-tiba merasa jenuh banget sama kerjaan atau tugas kuliah, terus akhirnya memutuskan buat keluar rumah? Bukan mau ke minimarket beli deterjen, bukan juga mau ke rumah gebetan (karena ya, sadar diri aja). Kamu cuma pengen menyalakan motor, muter-muter keliling kota, atau sekadar jalan kaki menyusuri trotoar tanpa tahu mau berhenti di mana. Istilah kerennya sih, "ngetem" di jalan atau "healing tipis-tipis".
Bagi sebagian orang yang hidupnya super terjadwal, kelakuan kayak gini dianggap buang-buang bensin atau buang waktu. Tapi buat kita-kita yang hobi "tersesat" dengan sengaja, jalan-jalan tanpa tujuan itu punya kenikmatan magis yang susah dijelaskan lewat kata-kata. Nah, ternyata fenomena "gabut" yang satu ini ada penjelasan psikologisnya, lho. Bukan cuma karena kita kurang kerjaan, tapi emang otak kita butuh itu.
Seni Menjadi Seorang Flâneur
Dulu banget, di Prancis abad ke-19, ada istilah buat orang-orang yang hobi jalan-jalan tanpa tujuan jelas: Flâneur. Seorang flâneur itu kerjanya cuma jalan kaki santai di tengah keramaian kota, mengamati orang lewat, ngelihat etalase toko tanpa niat beli, dan bener-bener menikmati suasana. Mereka nggak lagi ngejar deadline, nggak lagi buru-buru ngejar kereta. Mereka cuma "ada" di sana.
Di zaman sekarang, aktivitas ini sering dianggap sebagai bentuk pemberontakan kecil terhadap budaya produktivitas yang toksik. Kita dipaksa buat selalu punya target: kerja harus ada output, belajar harus ada nilai, bahkan hobi pun harus jadi konten. Nah, jalan-jalan tanpa tujuan itu kayak neken tombol "pause" dari semua tuntutan itu. Kamu nggak perlu jadi apa-apa, kamu cuma perlu jadi pengamat.
Pelarian dari Kelelahan Mental (Attention Restoration Theory)
Secara psikologis, ada teori yang namanya Attention Restoration Theory (ART). Intinya begini: otak kita itu punya dua jenis perhatian. Pertama, perhatian yang fokus dan melelahkan (kayak pas kamu lagi ngerjain laporan atau baca instruksi rakit lemari). Kedua, perhatian yang sifatnya "soft fascination" atau ketertarikan lembut.
Pas kamu jalan-jalan tanpa tujuan, otak kamu berpindah dari mode fokus yang melelahkan ke mode soft fascination. Kamu melihat lampu jalanan, mendengar suara knalpot di kejauhan, atau melihat bapak-bapak penjual nasi goreng yang lagi kipas-kipas. Hal-hal ini menarik perhatian kita, tapi nggak menuntut otak buat mikir keras. Proses inilah yang justru bikin mental kita pulih. Makanya, jangan heran kalau sehabis muter-muter nggak jelas, pikiran rasanya lebih plong, padahal masalah di kantor ya tetep ada.
Kebebasan Memilih Tanpa Beban Konsekuensi
Hidup dewasa itu isinya pilihan-pilihan berat. Pilih karier, pilih pasangan, sampai pilih menu makan siang aja bisa bikin stres karena takut salah. Tapi, pas kamu lagi jalan-jalan tanpa tujuan, "kesalahan" itu nggak ada. Kamu mau belok kiri? Boleh. Mau lurus terus sampai ujung jalan? Silakan. Mau tiba-tiba berhenti di pinggir jalan buat ngelihat kucing berantem? Nggak ada yang melarang.
Rasa memegang kendali penuh atas arah gerak tubuh tanpa dihantui risiko gagal ini memberikan rasa otonomi yang luar biasa. Di dunia yang serba diatur algoritma dan ekspektasi orang lain, momen "ngasal" di jalan adalah kemewahan. Ini adalah bentuk self-care yang paling murah sekaligus paling jujur.
Dopamine dan Efek Kejutan
Manusia itu pada dasarnya adalah makhluk penjelajah. Nenek moyang kita dulu bertahan hidup dengan cara berpindah-pindah tempat. Sifat ini masih nempel di otak kita. Ada rasa senang (yang dipicu oleh hormon dopamine) saat kita menemukan sesuatu yang baru.
Mungkin kamu baru tahu kalau ada gang sempit yang punya arsitektur unik, atau ada taman kecil tersembunyi di balik gedung perkantoran yang angkuh. Kejutan-kejutan kecil ini nggak bakal kamu dapatkan kalau kamu cuma gerak dari rumah ke kantor lewat jalur yang itu-itu saja setiap hari. Jalan-jalan tanpa tujuan membuka peluang buat otak kita mendapatkan stimulasi baru yang segar.
Kesimpulan: Berjalanlah Selagi Bisa
Jadi, kalau lain kali ada teman atau orang tua nanya, "Ngapain sih jalan-jalan nggak jelas gitu?" kamu bisa jawab dengan gaya intelektual dikit: "Ini lagi restorasi atensi, Bro!" atau "Lagi mempraktikkan seni flâneur." Tapi kalau males ngejelasin panjang lebar, ya udah, nikmati aja langkah kakimu.
Jalan-jalan tanpa tujuan itu bukan tanda kamu nggak punya masa depan atau lagi galau berat (meskipun ya, kadang emang gara-gara galau sih). Itu adalah cara alami tubuh dan pikiranmu untuk menjaga kewarasan di tengah dunia yang makin berisik. Nggak semua perjalanan harus punya titik akhir di peta. Kadang, perjalanan itu sendiri adalah tujuannya. Jadi, mau muter-muter lewat mana kita sore ini?
Next News

Mengapa Banyak Orang Sulit Bangun Pagi?
in 4 hours

5 Fakta Menarik Cristiano Ronaldo, Bintang Sepak Bola yang Terus Menginspirasi Dunia
8 hours ago

Mengapa Menunda Pekerjaan Sulit Dihentikan?
in 4 hours

Benarkah Kurang Tidur Bisa Menurunkan Konsentrasi?
in 4 hours

Kebiasaan Orang yang Pandai Mengatur Waktu
in 4 hours

Aktivitas Outdoor yang Baik untuk Kesehatan Mental
in 4 hours

Kegiatan Kreatif yang Bisa Dilakukan Bersama Keluarga
in 4 hours

Mengapa Podcast Semakin Banyak Didengarkan?
in 4 hours

Kebiasaan yang Membuat Tubuh Tetap Bugar Meski Jarang ke Gym
in 4 hours

Mengapa Banyak Orang Betah Berlama-lama di Kafe?
in 4 hours





