Senin, 27 Juli 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Nafsu Makan Bisa Berubah?

Liaa - Friday, 03 July 2026 | 12:35 PM

Background
Kenapa Nafsu Makan Bisa Berubah?

Kenapa Sih Nafsu Makan Kita Suka Moody? Dari Stress Sampai Kurang Tidur, Ini Alasannya

Pernah nggak sih lo ngerasa kayak "naga" yang pengen nelan apa aja yang ada di depan mata? Pagi tadi sarapan bubur, jam sepuluh udah nyari gorengan, makan siang porsi kuli, eh jam tiga sore udah nungguin abang batagor lewat. Tapi anehnya, ada hari-hari tertentu di mana ngelihat makanan paling enak sedunia pun rasanya mual. Nasi padang yang biasanya jadi pelipur lara malah cuma dipandang doang kayak mantan yang ngajak balikan.

Nafsu makan itu emang ajaib, atau lebih tepatnya, labil banget. Dia nggak kayak alarm HP yang bunyi konsisten tiap jam enam pagi. Nafsu makan kita lebih mirip cuaca di Jakarta yang paginya panas terik, siangnya mendung syahdu, eh sorenya malah badai. Tapi tenang, fenomena "moody"-nya perut ini bukan karena lo kena guna-guna atau kutukan. Ada penjelasan logis di baliknya kenapa keinginan makan kita bisa naik turun bak rollercoaster di Dufan.

Si Hormon yang Lagi Main Drama

Kalau kita ngomongin nafsu makan, aktor utamanya adalah dua hormon bernama Ghrelin dan Leptin. Anggap aja mereka ini kayak malaikat dan iblis yang bisikin telinga lo. Ghrelin itu si "penghasut" yang tugasnya ngasih tahu otak kalau perut udah kosong dan minta diisi sekarang juga. Sementara Leptin adalah si "pengerem" yang bilang, "Eh, udah cukup, perut lo udah mau meledak nih."

Masalahnya, keseimbangan dua hormon ini gampang banget keganggu. Faktor paling umum? Kurang tidur. Kalau lo hobi begadang maraton series atau ngerjain deadline sampai subuh, produksi Ghrelin bakal melonjak drastis, sedangkan Leptin malah drop. Itulah kenapa kalau lo begadang, jam dua pagi rasa lapar bakal muncul dengan beringas. Rasanya makan mi instan pakai telur di jam segitu adalah puncak kenikmatan duniawi yang nggak bisa diganggu gugat.

Stress: Makan Kalap atau Nggak Makan Sama Sekali?

Pernah dengar istilah "emotional eating"? Ini adalah kondisi di mana perasaan kita yang ambil alih kendali sendok dan garpu. Menariknya, reaksi orang terhadap stress itu beda-beda. Ada tipe orang yang kalau lagi mumet banget sama kerjaan atau lagi berantem sama pacar, pelariannya adalah makanan manis atau junk food. Ini terjadi karena saat stress, tubuh kita memproduksi hormon kortisol. Kortisol ini kayak alarm yang nyuruh tubuh kita nyari "bahan bakar" cepat dalam bentuk gula dan lemak buat ngadepin tekanan.



Tapi, ada juga orang yang kalau lagi stress malah nggak nafsu makan sama sekali. Biasanya ini terjadi saat stress-nya masuk fase akut atau syok. Tubuh bakal memicu respon "fight or flight", di mana adrenalin naik dan secara otomatis mematikan sementara sistem pencernaan supaya energi tubuh bisa fokus ke hal lain yang dianggap lebih darurat. Jadi, jangan heran kalau temen lo yang baru putus cinta tiba-tiba berat badannya turun drastis, mungkin sistem pencernaannya lagi "lockdown" gara-gara patah hati.

Siklus Bulanan dan Godaan Makanan Micin

Khusus buat para cewek, ada satu masa dalam sebulan di mana nafsu makan berubah jadi nggak terkendali. Yup, apalagi kalau bukan fase PMS (Pre-Menstrual Syndrome). Di masa ini, kadar hormon progesteron naik, dan metabolisme tubuh sebenarnya juga sedikit meningkat. Tubuh seolah-olah butuh energi lebih banyak.

Nggak cuma soal jumlah, jenis makanannya pun jadi spesifik. Biasanya pengen yang asin-asin, gurih penuh micin, atau cokelat yang manis banget. Perubahan hormon ini bikin kadar serotonin (hormon bahagia) di otak agak turun, jadi makan makanan enak adalah cara instan buat naikin mood lagi. Jadi kalau ada cewek lagi PMS terus pengen makan seblak level lima dilanjut boba, mending jangan dilarang deh daripada urusannya panjang.

Lapar Mata Itu Nyata

Zaman sekarang, musuh terbesar nafsu makan yang stabil bukan cuma dari dalam tubuh, tapi juga dari layar handphone. Coba deh lagi nggak laper, terus buka TikTok atau Instagram dan nggak sengaja lewat video mukbang yang suaranya kriuk-kriuk atau visual daging yang lagi dipanggang dengan juicy. Otak kita bakal langsung ngerespon dengan ngirim sinyal lapar palsu.

Lingkungan juga punya peran besar. Wangi roti yang baru matang pas kita lewat mall, atau ajakan temen buat "ngopi cantik" yang ujung-ujungnya pesen kentang goreng dua porsi, itu semua adalah pemicu eksternal. Nafsu makan kita seringkali bukan soal kebutuhan energi, tapi soal keinginan psikologis karena stimulasi indra kita yang terus-terusan digoda.



Kapan Kita Harus Waspada?

Meskipun naik turunnya nafsu makan itu wajar, kita tetep harus peka sama sinyal tubuh. Kalau nafsu makan hilang total dalam jangka waktu lama (lebih dari dua minggu) tanpa alasan yang jelas, atau malah makan terus-terusan tanpa ngerasa kenyang sama sekali sampai mengganggu kesehatan, mungkin itu saatnya buat konsultasi ke profesional. Bisa jadi ada masalah tiroid, gangguan pencernaan, atau masalah kesehatan mental yang perlu ditangani.

Intinya, nafsu makan itu adalah cara tubuh berkomunikasi sama kita. Dia nggak cuma ngasih tahu kalau perut kosong, tapi juga ngasih sinyal kalau kita lagi capek, lagi sedih, atau lagi butuh istirahat. Jadi, daripada terlalu pusing ngitung kalori tiap detik, mending coba dengerin pelan-pelan apa yang sebenarnya tubuh lo mau. Mau makan enak silakan, tapi tetep ingat batas. Karena segala sesuatu yang berlebihan—termasuk mikirin kenapa lo laper terus—itu nggak baik buat kesehatan jiwa dan raga.

Jadi, habis baca artikel ini, lo merasa laper beneran atau cuma laper mata karena ngebayangin batagor tadi?