Kenapa Kita Sering Kepikiran Sesuatu Saat Mau Tidur? Ini Penjelasan Psikologinya
RAU - Tuesday, 28 April 2026 | 04:18 AM


Pernah merasa tubuh sudah sangat lelah, lampu kamar sudah dimatikan, posisi tidur sudah nyaman, tetapi pikiran justru mulai berputar tanpa henti?
Mulai dari mengingat percakapan siang tadi, pekerjaan yang belum selesai, rencana esok hari, hingga hal kecil yang sebenarnya sudah lama berlalu.
Fenomena ini sangat umum terjadi dan dalam psikologi sering dikaitkan dengan *pre-sleep cognitive activity atau aktivitas pikiran yang meningkat menjelang tidur.*
Salah satu alasan utama adalah karena malam hari merupakan waktu ketika distraksi dari lingkungan mulai berkurang.
Sepanjang hari, otak sibuk menerima rangsangan dari luar seperti pekerjaan, percakapan, suara, notifikasi ponsel, dan berbagai aktivitas lainnya.
Saat malam tiba, semua gangguan tersebut berkurang drastis.
Akibatnya, otak memiliki lebih banyak ruang untuk memproses hal-hal yang sebelumnya "tertunda".
Inilah sebabnya banyak orang tiba-tiba teringat masalah, penyesalan, atau kekhawatiran saat sudah rebahan.
Secara ilmiah, kondisi ini juga berkaitan dengan *aktivitas default mode network (DMN)*, yaitu jaringan otak yang lebih aktif saat kita sedang tidak fokus pada tugas tertentu.
Saat tubuh diam dan rileks, jaringan ini mulai memproses memori, emosi, dan berbagai pengalaman sepanjang hari. Hasilnya, pikiran terasa lebih ramai.
Faktor lainnya adalah *stres dan kecemasan yang menumpuk.*
Banyak emosi yang sering "ditahan" selama siang hari karena kesibukan. Saat malam datang, pikiran mulai membuka kembali semua beban tersebut.
Pertanyaan seperti "bagaimana kalau besok gagal?", "kenapa tadi aku ngomong begitu?", atau "apa keputusan tadi sudah benar?" mulai bermunculan.
Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai *ruminasi,* yaitu kebiasaan memikirkan satu hal secara berulang tanpa menghasilkan solusi yang jelas.
Kebiasaan menggunakan ponsel sebelum tidur juga ikut memperburuk kondisi.
*Paparan cahaya biru dari layar ponsel dapat mengganggu produksi melatonin,* hormon yang membantu tubuh merasa mengantuk. Selain itu, media sosial juga sering memicu pikiran menjadi lebih aktif, baik karena informasi yang berlebihan maupun kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Akibatnya, tubuh terasa lelah tetapi otak belum benar-benar siap untuk tidur.
Jika dibiarkan terus-menerus, overthinking sebelum tidur dapat menurunkan kualitas istirahat, membuat tidur menjadi tidak nyenyak, dan akhirnya memengaruhi suasana hati keesokan harinya.
Untuk membantu meredakannya, beberapa langkah sederhana bisa dilakukan, seperti membatasi penggunaan ponsel 30–60 menit sebelum tidur, menuliskan hal yang dipikirkan di catatan, serta membuat rutinitas malam yang lebih tenang.
Next News

El Niño dan La Niña, Apa Bedanya?
7 hours ago

El Niño Mengintai Indonesia: BMKG Prediksi Kemarau Lebih Panjang, Suhu Makin Panas
7 hours ago

Selain Pilot dan Pramugari, Profesi Apa Saja yang Ada di Bandara?
7 hours ago

Sebuah Kota Tidak Berjalan Sendiri: Ini Profesi Penting di Balik Operasional Sebuah Kota yang Jarang Diketahui
7 hours ago

Dari Kyoto hingga Iceland: Rekomendasi Destinasi Dunia untuk Rehat dari Rutinitas
in 5 hours

Jangan Asal Masak! Ini Deretan Ikan Unik yang Sebaiknya Tidak Dikonsumsi
in 5 hours

5 Makanan yang Diam-Diam Bikin Otak Lemot dan Sulit Fokus
in 5 hours

3 Tanaman Herbal di Sekitar Kita yang Diteliti Berpotensi Mendukung Pencegahan Kanker
in 5 hours

Minyak Zaitun, Emas Cair dari Buah Olea europaea yang Sarat Manfaat
in 5 hours

Bukan Sekadar Lengkungan di Langit, Ini Fakta Menarik tentang Bulan Sabit
in 4 hours





