Jumat, 25 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Keju Bisa Mengeluarkan Bau Menyengat? Ternyata Ada Alasannya

Tata - Friday, 25 September 2026 | 09:29 AM

Background
Kenapa Keju Bisa Mengeluarkan Bau Menyengat? Ternyata Ada Alasannya

Keju dikenal sebagai salah satu makanan yang memiliki beragam aroma. Ada keju yang aromanya lembut dan hampir tidak terasa, tetapi ada pula jenis tertentu yang memiliki bau sangat kuat hingga menyengat ketika kemasannya dibuka.

Bagi sebagian orang, aroma tersebut justru menjadi ciri khas yang membuat keju semakin menarik. Namun, bagi orang yang belum terbiasa, bau keju yang kuat terkadang membuat makanan ini dianggap sudah basi atau tidak layak dikonsumsi.

Padahal, keju yang memiliki bau menyengat belum tentu berarti sudah rusak. Pada jenis keju tertentu, aroma kuat memang merupakan bagian dari karakter yang sengaja terbentuk selama proses pembuatan dan pematangan.

Keju dibuat dari susu yang mengalami berbagai tahapan pengolahan. Salah satu proses pentingnya adalah fermentasi dan pematangan. Dalam proses tersebut, mikroorganisme tertentu membantu mengubah komponen dalam susu menjadi berbagai senyawa yang kemudian memengaruhi rasa, tekstur, dan aroma keju.

Salah satu sumber aroma berasal dari pemecahan lemak. Selama pematangan, enzim dapat memecah lemak menjadi asam lemak bebas. Sebagian senyawa tersebut mudah menguap dan dapat menghasilkan aroma yang khas.



Beberapa asam lemak dapat memberikan kesan aroma yang kuat. Senyawa yang terbentuk selama proses tersebut bisa memiliki karakter yang menyerupai aroma mentega, kacang, buah, hingga aroma yang bagi sebagian orang dianggap tajam atau menyengat.

Selain lemak, protein dalam susu juga mengalami perubahan selama proses pematangan. Aktivitas enzim membantu memecah protein menjadi komponen yang lebih kecil. Selanjutnya, komponen tersebut dapat mengalami berbagai reaksi dan menghasilkan senyawa yang turut berkontribusi terhadap aroma keju.

Jenis mikroorganisme yang digunakan dalam pembuatan keju juga berpengaruh besar. Setiap jenis keju dapat menggunakan kombinasi bakteri, ragi, atau kapang yang berbeda. Karena itu, karakter aroma antara satu keju dengan keju lainnya tidak selalu sama.

Lamanya proses pematangan pun ikut menentukan. Semakin lama keju dimatangkan, semakin banyak perubahan kimia dan biologis yang dapat terjadi. Perubahan tersebut dapat menghasilkan rasa dan aroma yang lebih kompleks.

Inilah alasan mengapa keju yang masih muda biasanya memiliki karakter berbeda dengan keju yang telah melalui proses pematangan lebih lama. Teksturnya bisa berubah menjadi lebih padat atau lembut, sementara rasanya dapat menjadi lebih kuat dan aromanya semakin khas.



Beberapa jenis keju juga sengaja menggunakan mikroorganisme tertentu pada bagian permukaannya. Mikroorganisme tersebut membantu membentuk tekstur dan aroma khas selama pematangan.

Contohnya, terdapat keju dengan permukaan yang ditumbuhi kapang tertentu atau keju yang mengalami proses pencucian permukaan selama pematangan. Proses tersebut dapat menghasilkan aroma yang sangat khas dan kuat.

Namun, penting membedakan antara aroma khas keju dan tanda kerusakan. Tidak semua bau menyengat berarti keju aman dikonsumsi. Cara penyimpanan, jenis keju, kondisi kemasan, serta perubahan warna dan tekstur perlu diperhatikan.

Keju yang memang memiliki aroma kuat biasanya tetap menunjukkan karakter yang sesuai dengan jenisnya. Sebaliknya, jika muncul perubahan yang tidak biasa, seperti pertumbuhan jamur yang tidak sesuai karakter produk, lendir, perubahan warna yang mencurigakan, kemasan menggembung, atau aroma busuk yang berbeda dari biasanya, sebaiknya keju tidak langsung dikonsumsi.

Penyimpanan juga berpengaruh terhadap kualitas keju. Suhu yang tidak sesuai atau keju yang terlalu lama berada dalam kondisi penyimpanan yang buruk dapat mempercepat perubahan kualitas. Karena itu, keju sebaiknya disimpan sesuai petunjuk pada kemasan dan memperhatikan tanggal penggunaan yang tercantum.



Menariknya, indera penciuman memiliki peran penting dalam menikmati keju. Aroma yang dilepaskan keju dapat memengaruhi persepsi seseorang terhadap rasa. Itulah sebabnya keju dengan aroma kuat dapat memberikan pengalaman makan yang berbeda dibandingkan keju dengan aroma lebih ringan.

Perbedaan respons terhadap bau keju juga sangat wajar. Senyawa aroma yang dianggap nikmat oleh satu orang bisa terasa terlalu tajam bagi orang lain. Kebiasaan mengonsumsi makanan tertentu dan preferensi pribadi dapat memengaruhi bagaimana seseorang menilai aroma tersebut.

Jadi, jangan buru-buru menganggap keju yang berbau menyengat sebagai keju basi. Aroma kuat bisa menjadi hasil alami dari fermentasi dan proses pematangan. Mikroorganisme, enzim, lemak, protein, serta lamanya pematangan bekerja bersama membentuk karakter setiap jenis keju.

Meski demikian, keamanan makanan tetap harus menjadi perhatian. Jika aroma berubah secara tidak wajar dan disertai perubahan warna, tekstur, atau kondisi kemasan yang mencurigakan, lebih baik tidak mengambil risiko dengan mengonsumsinya.

Dengan memahami proses tersebut, aroma menyengat pada keju sebenarnya merupakan bagian menarik dari proses pembuatannya. Semakin kompleks proses pematangan yang dilalui, semakin beragam pula senyawa yang terbentuk dan memberikan karakter khas pada keju.