Jumat, 17 Juli 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Ikan Asin Tidak Busuk? Ini Penjelasan Sainsnya

Laila - Tuesday, 30 June 2026 | 09:20 PM

Background
Kenapa Ikan Asin Tidak Busuk? Ini Penjelasan Sainsnya

Garam: Si Kecil Ajaib yang Bikin Makanan Gak Cepat Almarhum

Bayangkan kamu lagi ada di tengah laut, atau mungkin lagi mendaki gunung yang jauh dari peradaban dan kulkas. Perut lapar, tapi satu-satunya perbekalan yang tersisa cuma ikan atau daging yang sudah dibawa dari tiga hari lalu. Kalau itu daging segar biasa, bau busuknya pasti sudah semerbak ke mana-mana. Tapi, karena itu adalah ikan asin atau daging asap yang sudah digarami habis-habisan, kamu masih bisa menikmatinya dengan tenang bareng nasi hangat. Ajaib, kan?

Pernah gak sih kepikiran, kok bisa ya butiran putih yang harganya receh di pasar ini punya kekuatan super buat menahan pembusukan? Padahal kita tahu sendiri, musuh utama makanan itu adalah waktu. Begitu kena udara sebentar saja, bakteri langsung pesta pora. Tapi begitu ketemu garam, itu bakteri seolah-olah kena "ghosting" dan gak berani mendekat. Nah, mari kita bedah rahasia di balik kesaktian garam ini dengan gaya yang santai saja, sambil seruput kopi.

Prinsip Kerja Salt vs Bakteri: Masalah Tarik-Menarik

Kalau kita bicara sains tapi versinya gak bikin pusing, kunci utamanya ada di satu kata: Osmosis. Kedengarannya kayak istilah keren di buku biologi kelas 2 SMA yang sering kita skip, tapi praktiknya gokil banget. Jadi begini, garam itu sifatnya higroskopis alias hobi banget menyerap air. Garam itu ibarat mantan yang posesif; dia pengen narik semua "perhatian" alias molekul air dari sekelilingnya.

Ketika kamu menaburkan garam ke sepotong daging atau ikan, konsentrasi garam di luar sel makanan jadi jauh lebih tinggi daripada di dalam sel. Secara alami, alam semesta ingin semuanya seimbang. Akhirnya, air yang ada di dalam sel-sel daging (dan yang paling penting, air di dalam sel bakteri) bakal dipaksa keluar buat "menemani" si garam tadi. Proses penarikan paksa ini bikin sel-sel bakteri jadi keriput, kering, dan akhirnya mati karena dehidrasi parah. Kasarnya, bakteri itu mati kehausan di tengah lautan garam. Tanpa air, bakteri gak bisa tumbuh, gak bisa berkembang biak, dan otomatis gak bisa bikin makanan kita jadi busuk.

Bukan Cuma Haus, Tapi Juga Gangguan Mental buat Bakteri

Garam gak cuma main tarik-tarikan air. Dia juga punya cara yang lebih "jahat" buat ngerjain mikroorganisme nakal. Ion-ion dalam garam bisa masuk ke dalam sel bakteri dan mengacaukan sistem internal mereka. Bayangkan kamu lagi kerja tenang, terus tiba-tiba ada orang asing masuk ke ruanganmu dan mulai bongkar-pasang kabel komputer. Kacau, kan? Nah, garam melakukan hal yang sama pada enzim dan DNA bakteri.



Garam bikin lingkungan di sekitar makanan jadi sangat tidak ramah. Kebanyakan kuman penyebab penyakit itu tipenya manja; mereka butuh lingkungan yang netral, lembap, dan nyaman buat hidup. Begitu ada garam, tingkat keasaman dan tekanan osmotik berubah drastis. Buat mereka, itu kayak kita disuruh tinggal di gurun pasir tanpa perlindungan apa pun. Akhirnya, mereka menyerah sebelum sempat memulai kolonisasi di piring kita.

Garam: Satpam yang Pilih-Pilih Teman

Yang menarik, garam itu sebenarnya punya sisi "rasis" yang positif. Dia gak memukul rata semua mikroba. Ada golongan bakteri "baik" yang justru betah tinggal di lingkungan asin. Kamu tahu kimchi, sauerkraut, atau sawi asin? Nah, itu semua adalah hasil kerja keras bakteri baik bernama Lactobacillus.

Garam berfungsi sebagai filternya. Dia membasmi bakteri pembusuk yang bikin bau dan sakit perut, tapi memberikan ruang buat bakteri fermentasi untuk tumbuh subur. Bakteri baik ini nantinya memproduksi asam laktat yang justru bikin makanan makin awet dan punya rasa asam-gurih yang khas. Jadi, garam itu kayak satpam klub malam yang cuma bolehin orang-orang keren (bakteri baik) masuk, sementara yang rese (bakteri pembusuk) disuruh balik kanan.

Kenapa Kita Masih Butuh Garam di Zaman Kulkas?

Mungkin ada yang nyeletuk, "Halah, kan sekarang sudah ada kulkas, ngapain repot-repot pake garam?" Ya, secara fungsional kulkas memang juara. Tapi urusan lidah, garam gak bisa digantikan. Pengawetan dengan garam itu bukan cuma soal umur simpan, tapi soal transformasi rasa. Ikan segar sama ikan asin itu dua entitas yang beda jauh kenikmatannya. Ada proses kimiawi yang bikin protein di dalam daging pecah dan menghasilkan rasa umami yang lebih nendang.

Lagipula, mengawetkan makanan dengan garam itu adalah bentuk kearifan lokal yang luar biasa. Di Indonesia, dari ujung Aceh sampai Papua, kita punya berbagai macam olahan makanan asin. Ini adalah warisan nenek moyang yang dulu belum kenal listrik tapi sudah paham cara mengakali alam. Garam adalah bukti bahwa manusia itu kreatif kalau sudah urusan perut.



Kesimpulan: Hormati Garammu

Jadi, lain kali kalau kamu makan telur asin atau sekadar naburin garam di atas gorengan, ingatlah kalau kamu sedang melakukan tindakan sains yang sangat canggih. Si butiran putih ini adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sudah menyelamatkan umat manusia dari kelaparan selama ribuan tahun.

Meskipun sekarang kita sudah hidup di zaman serba instan, garam tetap punya posisi elit di dapur. Dia sederhana, murah, tapi mematikan buat kuman. Tapi ya ingat, meskipun dia pengawet alami yang hebat, jangan kebanyakan juga konsumsinya. Karena kalau bakteri bisa mati karena garam, tensi darah kamu juga bisa naik kalau terlalu hobi makan yang asin-asin secara berlebihan. Intinya, segala sesuatu yang berlebihan itu gak baik, kecuali mungkin rasa sayangmu ke dia (eh, curhat). Tetap jaga kesehatan, dan mari kita terus menghargai keajaiban-keajaiban kecil di dapur kita sendiri!